Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Pendekatan Seni Karawitan untuk Disabilitas Mental: Langkah Nyata dan Humanis dari Universitas Muria Kudus

H. Arif Riyanto • Jumat, 10 Januari 2025 | 23:22 WIB
Pelaksanaan Tridarma berupa program penelitian dan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh tim dosen Universitas Muria Kudus (UMK) di RPSDM Muria Jaya, Kabupaten Kudus.
Pelaksanaan Tridarma berupa program penelitian dan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh tim dosen Universitas Muria Kudus (UMK) di RPSDM Muria Jaya, Kabupaten Kudus.

RADARSEMARANG.ID, Kudus—Dalam dunia pendidikan tinggi, Tridarma Perguruan Tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—menjadi pilar utama.

Salah satu contoh nyata pelaksanaan Tridarma ini adalah program penelitian dan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh tim dosen Universitas Muria Kudus (UMK) di RPSDM Muria Jaya, Kabupaten Kudus.

Program ini dipimpin oleh Dr. Nur Fajrie M, Pd., bersama Dr. Irfai Fathurohman, M.Pd., Dr. Ahmad Hariyadi, M.Pd., dan Wasis Wijayanto, S.Sn., M.Sn.

Menurut Nur Fajrie, integrasi penelitian dan pengabdian tentang seni karawitan untuk kelompok disabilitas mental adalah aktualisasi kegiatan Tridharma.

Eksistensi keilmuan dan kepakaran dari berbagai dosen-dosen peneliti dan pengabdian melibatkan kepakaran ilmu untuk keberlanjutan kemandirian dan aktivitas estetis kelompok minoritas.

“Tujuan program ini adalah meningkatkan kapasitas individu dengan disabilitas mental melalui program seni berbasis budaya,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sedangkan arah dan fokus dalam kegiatan tersebut adalah mengintegrasikan seni sebagai alat terapi dan pemberdayaan, serta membangun kolaborasi antarpemangku kepentingan untuk memperluas dampak program.

Dikatakan, seni karawitan sebagai warisan budaya bangsa, memiliki nilai estetika dan spiritual yang mendalam. Namun di balik keindahannya, seni ini juga menawarkan manfaat terapi yang luar biasa.

Dalam konteks implementasi program ini, seni karawitan dijadikan medium untuk membantu individu dengan disabilitas mental.

Melalui irama gamelan yang harmonis, peserta program dapat melatih konsentrasi, meningkatkan emosi positif, dan memperkuat rasa kebersamaan.

RPSDM Muria Jaya, yang selama ini berfokus pada rehabilitasi dan pemberdayaan kelompok disabilitas mental, menjadi tempat ideal untuk implementasi program ini.

“Dengan bimbingan intensif dari para dosen UMK, peserta tidak hanya belajar memainkan instrumen, tetapi juga dilibatkan dalam proses kreatif dan kolaboratif yang memperkuat kemandirian serta rasa percaya diri mereka,”bebernya.

Nur Fajrie menambahkan, program ini menunjukkan bahwa seni tidak hanya menjadi bagian dari budaya, tetapi juga dapat diintegrasikan ke dalam pendidikan, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat.

Pendekatan ini menciptakan ekosistem inklusif yang merangkul semua lapisan masyarakat, termasuk mereka yang sering kali terpinggirkan.

Selain itu, program ini juga menjadi wujud nyata kontribusi UMK dalam menjaga kelestarian seni karawitan.

“Dalam era modernisasi yang sering kali mengikis budaya tradisional, program ini memberikan contoh bahwa seni lokal dapat tetap relevan dan membawa manfaat luas dalam kehidupan masyarakat,” katanya.

Dikatakan, pendekatan dan tahapan implementasi program yaitu mengidentifikasi kebutuhan kelompok disabilitas dengan melakukan penelitian kebutuhan untuk memahami tantangan dan potensi kelompok disabilitas mental.

Pengembangan metode berbasis seni melalui pelatihan seni karawitan yang disesuaikan dengan kebutuhan terapi kelompok disabilitas mental. Penggunaan irama dan harmoni gamelan sebagai alat untuk meningkatkan konsentrasi, emosi positif, dan kerja sama.

Dijelaskan, pelaksanaan program Tridharma melalui seni karawitan secara berkelanjutan di pusat rehabilitasi seperti RPSDM Muria Jaya melibatkan penerima manfaat dalam proses kreatif untuk membangun kepercayaan diri dan kemandirian.

“Monitoring dan evaluasi dilakukan secara berkala untuk mengukur dampak program terhadap aspek emosional, sosial, dan kognitif penerima manfaat,” ujarnya.

Menurut dia, ekspansi program dan kolaborasi adalah mengembangkan jejaring kerja dengan pemerintah daerah, komunitas seni, dan institusi pendidikan untuk memperluas jangkauan program.

Meski program ini memiliki banyak manfaat, keberlanjutannya membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

Pemerintah daerah, komunitas seni, dan institusi pendidikan lainnya diharapkan dapat berkolaborasi untuk memperluas dampaknya.

Selain itu, kesadaran publik tentang pentingnya seni sebagai media pemberdayaan juga harus terus ditingkatkan.

Harapannya, inisiatif seperti ini dapat menginspirasi lebih banyak institusi pendidikan untuk mengambil langkah serupa.

“Dengan demikian, seni tidak hanya menjadi bagian dari budaya, tetapi juga alat untuk membangun masyarakat yang inklusif dan berdaya,” ujarnya.

Program Tridharma dengan seni karawitan oleh tim dosen UMK untuk kelompok disabilitas mental di RPSDM Muria Jaya adalah langkah luar biasa dalam mengintegrasikan seni, budaya, dan pemberdayaan sosial.

Melalui program ini, UMK menunjukkan bahwa pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam menciptakan perubahan positif di masyarakat.

“Semoga langkah ini menjadi inspirasi bagi semua pihak untuk terus menjadikan seni sebagai sarana membangun peradaban yang lebih humanis,” harapnya. (web/aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
#Nur Fajrie #universitas muria kudus #pengabdian masyarakat #umk