Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Disnakkeswan Jateng Temukan Sapi Positif Antraks di Wonogiri, Imbau Peternak Waspada

Khafifah Arini Putri • Kamis, 17 Agustus 2023 | 17:14 WIB

Petugas Disnakkeswan saat melakukan vaksinasi pada hewan ternak sapi untuk mencegah penyebaran virus antraks.
Petugas Disnakkeswan saat melakukan vaksinasi pada hewan ternak sapi untuk mencegah penyebaran virus antraks.
RADARSEMARANG.ID, Semarang - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Jateng mengimbau agar para peternak lebih waspada terhadap penularan Antraks.

Hal itu menyusul temuan adanya sapi yang terpapar penyakit antraks di Desa Watuagung, Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri.

Sapi dari hasil peranakan desa tersebut dikabarkan mati mendadak pada 14 Juli 2023 lalu.  Namun baru diketahui positif antraks setelah dilakukan uji laboratirium di Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates.

Medik Veteriner Disnakkeswan Jateng, Slamet mengaku, telah melakukan antisipasi dengan memberikan 25 ribu vaksin pada hewan ternak. Terutama pada daerah yang berbatasan langsung Gunungkidul sebagai daerah yang sudah terpapar.

Vaksin diberikan, terbanyak diterima Kabupaten Wonogiri yakni 8.000 vaksin, Klaten 5.000, dan Karanganyar 2600. Di Desa Watugong, dari sekian banyak sapi yang divaksinasi, terjadi kematian pada seekor pedet (peranakan sapi).

Petugas langsung bertindak mengambil sampel dari tubuh sapi. Yakni berupa telinga yang dikirim ke BBVet Wates.

Selain itu sampel tanah di lingkungan tersebut juga diambil untuk dicek. Terutama di sekitar pedet itu mati dan tanah tempat dikubur.

 “Sampel telinga itu dinyatakan positif. Tapi untuk hasil sampel tanah yang diambil dari beberapa titik  sekitaran pedet, hasil dari uji tanah negatif semua,” imbuhnya.

Lantaran positif, penguburan anakan sapi dilakukan sesuai standar operasional prosedur. Kemudian diberikan desinfektan sebagai antisipasi merebaknya kasus antraks serta dilakukan plesterisasi pada kuburan sapi tersebut.

Menurutnya virus antraks dapat menular ke manusia. Plesterisasi ini bertujuan untuk mencegah tanah bekas penguburan sapi tersebut mengalir saat hujan. Sehingga bisa menyebarkan virus ke tempat lain.

Pihaknya mengimbau pada warga, terutama peternak untuk memperhatikan hewan ternaknya.

Jika menemui gejala seperti keluar darah pada bagian tubuh sapi. Terutama mata, telinga, serta bagian tubuh lainnya yang berlubang, segera melaporkan ke dinas peternakan setempat.  (kap/bud)

 

Editor : Baskoro Septiadi
#Sapi #Kabupaten Wonogiri #antraks #disnakkeswan jateng #BBVET