Ia mengakui perjuangannya tidaklah mudah. Banyak penolakan, dan kerap mendapatkan gangguan dari sejumlah oknum yang menentang.
Tantangan di Jawa Tengah cukup kompleks dengan eksisnya kelompok intoleran. Ibaratnya, tidak kenal tidak mengundang, tapi datang-datang mengganggu. Hal itu tidak mengenakkan.
“Itu muncul juga di Semarang. Meski kecil, namun kelompok intoleran menghimpun dari luar daerah agar datang ke Semarang. Beraliansi untuk mengganggu orang,” kata Yunantyo yang merupakan Koordinator Wilayah Gusdurian Jateng.
Niatnya memperjuangkan kebebasan hak beragama, berkeyakinan, dan kebhinekaan bukan tanpa alasan.
Ia ingin meneruskan perjuangan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dalam memperjuangkan kemanusiaan. “Ini merupakan salah satu wujud Nahdlatul Ulama (NU) dalam merawat keberagaman,” akunya.
Ia kerap mendapatkan penolakan dari sejumlah masyarakat. Tahun 2016 misalnya saat Romo Aloys Budi yang merupakan anggota Gusdurian menjadi tuan rumah untuk buka bersama di Ungaran ada warga yang menolak.
Selain itu, saat warga Syiah mengadakan asyura ritual mengenang meninggalnya Husain bin Ali juga mendapat gangguan kelompok radikal.
“Gusdurian membantu warga Syi'ah yang semula ingin menggunakan lokasi PRPP, akhirnya terlaksana di Bong Lama Semarang Utara dengan bantuan keamanan Polda,” jelasnya.
Gusdurian juga turun dalam kasus Gereja Baptis Indonesia (GBI) Tlogosari atas perizinan mendirikan bangunan. Kasus yang cukup gempar pada tahun 2018 ini bahkan ditangani Komnas HAM.
Berbagai upaya dilakukan agar sikap intoleran warga terhadap bangunan tempat ibadah ini berubah. Usaha membuahkan hasil, di tahun 2020 akhirnya diresmikan.
“Artinya suatu hambatan dan tantangan keberagaman bisa dihadapi. Tinggal bagaimana kita bisa mengatasi tantangan itu. Nah, nilai dari upaya perjuangan keberagaman itu ketika ada gangguan, bukan datar-datar saja,” tambahnya. (ifa/fth) Editor : Agus AP