Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Atlet Dansa Kota Pekalongan Ini Siap Bawa Tari Lokal ke Panggung Dunia

Lutfi Hanafi • Jumat, 31 Oktober 2025 | 20:41 WIB
Yoga Aditya Rakhman Atlet IODI Kota Pekalongan
Yoga Aditya Rakhman Atlet IODI Kota Pekalongan

RADARSEMARANG.ID, Pekalongan – Di balik gerak gemulai dan ritme yang dinamis, tersimpan mimpi besar seorang pemuda asal Kota Pekalongan.

Ia adalah Yoga Aditya Rakhman, 19 tahun, atlet dansa andalan Ikatan Olahraga Dansa Indonesia (IODI) Kota Pekalongan, sekaligus mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta jurusan Pendidikan Seni Tari.

Bagi Yoga, tari bukan sekadar gerak tubuh. Ia adalah bahasa tanpa kata, ruang ekspresi, dan bentuk cinta terhadap budaya. “Tari bukan hanya hobi, tapi bagian dari hidup saya. Dari gerak, saya bisa bercerita dan memberi inspirasi,” tutur Yoga saat diwawancarai, Jumat (31/10/2025).

Kecintaannya terhadap tari tumbuh sejak duduk di bangku SMP, ketika ia ditunjuk sebagai perwakilan lomba tari kreasi.

Dari sanalah ia menyadari bahwa menari bukan sekadar mengikuti irama, melainkan mengolah rasa dan makna.

“Sejak itu, saya mulai serius belajar. Saya ingin tahu lebih dalam bahwa tari punya filosofi dan pesan yang kuat,” kenangnya.

Kini, di tengah kesibukan kuliah, Yoga tetap konsisten berlatih — bahkan bisa tiga kali dalam sehari jika sedang mempersiapkan kompetisi atau pementasan.

Ia menyebut, disiplin waktu dan manajemen jadwal menjadi kunci agar antara kuliah dan latihan bisa seimbang.

Menjadi atlet dansa bukan hal mudah, namun bagi Yoga ini adalah kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar. Ia sadar, setiap kali naik panggung, bukan hanya dirinya yang tampil — tetapi juga nama besar Kota Pekalongan yang ikut dipertaruhkan.

“Setiap gerakan yang saya tampilkan adalah cara saya memperkenalkan potensi seni dan budaya Pekalongan kepada publik luas,” ujarnya penuh semangat.

Dari berbagai lomba yang diikutinya, Yoga kerap menjadi delegasi daerah dalam ajang tingkat provinsi hingga nasional. Prestasi demi prestasi itu semakin mengokohkan posisinya sebagai salah satu atlet dansa muda berbakat dari Pekalongan.

Bagi Yoga, dunia tari bukan sekadar menampilkan keindahan gerak, melainkan perjalanan panjang yang menuntut kekuatan fisik, mental, dan kreativitas.

“Tantangan terbesar adalah menjaga stamina, ide, dan adaptasi terhadap perkembangan zaman. Tari itu harus hidup, mengikuti perubahan, tapi tetap berakar pada tradisi,” jelasnya.

Untuk mengatasinya, ia rutin belajar baik teori maupun praktik, dan tak ragu mengambil inspirasi dari pelatih sekaligus partnernya, Nova, yang selama ini banyak berperan dalam pembentukan karakter dan teknik menarinya.

Yoga tidak ingin berhenti hanya sebagai atlet. Dalam jangka panjang, ia bermimpi mendirikan komunitas tari tradisional dan modern bagi anak-anak hingga orang dewasa. Tujuannya sederhana namun dalam: agar lebih banyak generasi muda mengenal, mencintai, dan melestarikan budaya lokal.

“Saya ingin membuat karya tentang cerita-cerita lokal Pekalongan. Kalau bisa, suatu hari ditampilkan di panggung nasional bahkan internasional,” katanya penuh harap.

Bagi Yoga, setiap langkah dan gerakan di panggung adalah perjalanan reflektif. Saat lelah atau merasa tertekan, ia selalu mengingat kembali perjuangan dan proses panjang yang telah dilalui.

“Setiap proses adalah bagian dari berkembang. Saya percaya, jika dilakukan dengan cinta, tari bisa membawa kita sejauh mimpi,” ucapnya menutup wawancara.(han)

Editor : Baskoro Septiadi
#Kota Pekalongan #BUDAYA #Dance #universitas negeri yogyakarta #IODI #Penari