Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Berdakwah Melalui Dongeng dan Boneka ala Chasna Azyatin Nabila

Ida Fadilah • Minggu, 27 April 2025 | 18:19 WIB

 

Chasna Azyatin Nabila atau Kak Nabila si pendongeng bersama boneka Dindin. IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG
Chasna Azyatin Nabila atau Kak Nabila si pendongeng bersama boneka Dindin. IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.ID - Chasna Azyatin Nabila memiliki cara unik dalam menyampaikan dakwah. Perempuan 32 tahun ini memilih menyampaikan syariat Islam dengan mendongeng.

Kak Nabila -begitu ia dikenal- mulai menekuni dunia perdongengan sejak tahun 2018. Hal itu diawali dari karirnya yang menjadi seorang guru Taman Kanak-kanak Islam Permata Bangsa, Kelurahan Sawah Besar, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang. 

Kemampuan mendongeng didapatkan secara otodidak. Merasa memiliki keterampilan bercerita, ia mencoba mengikuti  ajang-ajang perlombaan bercerita.

"Akhirnya tahun 2018 saya memutuskan untuk secara profesional di dunia bercerita," katanya.

Meski begitu, ia tak meninggalkan profesinya sebagai pengajar karena pihak sekolah memperbolehkan dan memberikan keleluasaan untuk berkiprah di bidang ini dengan tanpa mengurangi jam mengajarnya juga. 

Selama ini dalam menyampaikan story telling kesulitan yang dialami adalah bagaimana menguasai audiens. 

"Semakin banyak kesempatan untuk bisa manggung itu insyaallah menjadi sebuah pengalaman dan sedikit sekali human error dalam setiap tampilan itu," jelasnya. 

Demi menarik perhatian audiens, ia membawa serta boneka. Boneka sebagai alat dakwah itu dikenal dengan istilah ventriloquist.

Ketika belajar dengan guru-guru ia dilatih menghidupkan atau mengisi suara boneka itu menggunakan suara perut. Kemudian ditambahkan memahami perbedaan intonasi. 

"Nah, itu tidak banyak suara yang perlu diubah, yang penting kita bisa membedakan dengan intonasi lewat notasi. Misalkan, kalau seperti Bapak kan pakai yang suara gede (besar). Kemudian karakter ibu berarti memakai suaranya yang kalem, adem, ya lembut. Kalau anak, suaranya dikecilkan. Kemudian kalau narasi atau prolog pakai suara kita sendiri. Nggak susah kok," jelasnya. 

Dalam menyampaikan cerita, Kak Nabila biasanya mengambil kisah dari buku. Sedangkan isinya menyesuaikan dengan tema lembaga atau tema dalam kegiatan.

Karena fokusnya di dakwah Islam, storyteller muslimah dirinya pun menyampaikan ayat-ayat Al-Qur'an, dan hadis. "Nah, dari situ nanti kita racik sendiri begitu," ucap dia. 

Ia mencontohkan, mayoritas dongeng yang ia ceritakan tentang kisah Rasul, kisah sahabat nabi.  

Dari apersepsi yang menarik perhatian anak-anak, ia kemudian menyelingi cerita dengan menampilkan boneka.

Dibalik itu, lanjutnya dunia cerita ini ia niatkan sembari berdoa agar apa yang disampaikan pada anak-anak masuk ke hati, bahkan syukur jika bisa terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, pahala itu akan sampai pada dirinya. 

"Jadi insyaallah pahala akan sampai ke kita. Saya yang banyak dosa ini berharapnya dengan apa yang yang saya lakukan ini bisa menjadi pengampunan dosa. Itu yang saya pegang," tambah Kak Nabila. (ifa/fth) 

 

 

Editor : Baskoro Septiadi
#DAKWAH #Mendongeng