RADARSEMARANG.ID - Warak merupakan ikon hewan mitologi asal Kota Semarang. Wujudnya sering digambarkan berupa perpaduan antara kambing, naga, dan unta.
Wujud Warak Ngendog dimaknai oleh masyarakat Kota Semarang sebagai presentasi simbol budaya tiga etnis warga, yaitu etnis Jawa melalui wujud badan kambing, etnis Arab melalui perupaan leher unta, dan etnis Cina melalui perupaan kepala naga.
Baca Juga: Hanya Tutup 2 Hari, Ini Jadwal Operasional Tempat Hiburan Malam di Semarang Selama Bulan Ramadan
Sebagai penanda dimulainya bulan Ramadan, Warak Ngendog biasa dikirab saat Dugderan. Nah, di Kota Semarang, tepatnya di Jalan Purwodinatan Nomor 10 RT 2 RW 2, Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah, terdapat perajin warak.
Adalah Arif Rahman, 50, yang saat ditemui sedang menyiapkan warak untuk dibawa saat kirab Dugderan menjelang puasa.
"Ini turun-temurun dari kakek saya, atau saya sudah generasi ketiga," jelasnya.
Lebih dari 25 tahun Arif memproduksi warak menjelang Ramadan. Pria yang juga montir ini mengaku, jelang Ramadan ini, permintaan warak sudah mulai ada. "Orderan dari pemerintah, SD, dan mahasiswanya," jelasnya.
Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, pascapandemi Covid-19, permintaan warak turun drastis.
"Dulunya bisa sampai 100 - 150, kalau setelah pandemi ini hanya sampai 50 Warak saja," jelasnya.
Dikatakan, tahun lalu, ada 30 pesanan warak, tetapi tahun ini, pemesan dari SD Negeri Palebon, itupun hanya 14 buah warak untuk kirab Dugderan mendatang. Pengerjaannya bisa dibilang cepat. Bahkan, semalaman bisa memproduksi warak.
Dimulai dari memanfaatkan kayu palet bekas dari pertokoan di sekitar Pasar Johar, untuk dijadikan kerangka. Kemudian dibungkus dengan kertas koran.
Lalu dibungkus dengan kertas minyak warna-warni yang dilem dengan tepung pati kanji. Warna warak tergantung permintaan. Ditambah ornamen kepala yang terbuat dari busa hati dan lonceng.
"Yang penting sudah ada bahannya kertas, kayu, lem, itu bisa saya kerjakan sendiri," jelasnya.
Model kepala ini juga sesuai permintaan. Ada yang kepala naga, ada juga yang asli warak. "Sebenarnya kepalanya ini seperti Buraq, kata orang tua dulu, atau bisa dilihat di Masjid Agung Semarang ada," tandasnya.
Ukuran warak yang diproduksi bervariasi. Mulai dari tinggi 25 sentimeter - hingga 2,5 meter dengan lebar 1,5 meter. "Kalau yang besar biasanya untuk takbir akbar di kampung sini," jelasnya.
Harganya pun bervariasi. Dari Rp 50 ribu – Rp 3,5 juta. "Kalau kecil ini Rp 50 ribu – Rp 80 ribu, tergantung kesulitannya dan ukurannya. Ada Rp 2,5 juta – Rp 3,5 juta, yang besar ini permintaan dari kelurahan dan kecamatan," ungkapnya.
Kendati demikian, Arif tidak menjajakan warak buatannya. Namun, hanya melayani sesuai pesanan. "Karena kalau dijajakan malah menjadi murah, dan kurang dihargai," jelasnya.
Ia berharap Warak Ngendog selalu dilestarikan oleh warga Kota Semarang. Utamanya saat kirab dugderan menjelang Ramadan.
"Apalagi ini mengandung filosofi persatuan antaretnis di Kota Semarang," harapnya. (fgr/ton)
Editor : Baskoro Septiadi