Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Genjot Digitalisasi Sistem Pemerintahan sampai Tingkat Desa

Khafifah Arini Putri • Senin, 18 Maret 2024 | 03:25 WIB
Riena Retnaningrum, SH, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Prov. Jawa Tengah
Riena Retnaningrum, SH, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Prov. Jawa Tengah

RADARSEMARANG.ID-Peran wanita dalam masyarakat terus mengalami perubahan.

Perempuan tidak lagi dipandang sepele.

Seperti halnya laki-laki perempuan juga bisa berkarir tanpa meninggalkan kewajibannya dalam keluarga.

Riena Retnaningrum salah satunya.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Tengah ini mengakui sebagai wanita karir harus pinter manajemen waktu dan memiliki peran ganda. Baik di ranah domestik maupun publik.

Riena – begitu sapaan akrabnya - mengaku pemerintah telah memberikan ruang pada perempuan.

Mereka bisa ikut serta mengabdi untuk bangsa-negara. Dalam mempersiapkan generasi bangsa yang cerdas dan berkarakter. 

"Sesuai amanah sudah 30 persen peran wanita, oleh pemerintah sudah diberi ruang. Tentu itu suatu hal yang membanggakan," jelasnya.

Sebagai perempuan, ia menyebut semuanya harus berjalan seimbang.

Melaksanakan tugas secara totalitas, dan tetap bisa menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga.

“Perempuan tidak boleh lupa terhadap kodratnya dan harus dimanage yang bagus,” akunya.

Riena mengaku selama ini tak ada kendala khusus dalam melakukan dua peran sekaligus.

Yang terpenting dilakukan dengan ikhlas dan di support keluarga.

Saat dinas ke luar kota, ia biasa menjadwalkan menu makanan untuk anak-anaknya.

Ketika ada waktu libur, maka perbanyak quality time. 

"Lakukan dengan ikhlas dan di manage dengan baik. (Kendala) nggak ada, semuanya it's okay dan mendapat support dari keluarga," imbuhnya.

Sedangkan dalam memimpin Diskominfo Jateng Riena mentargetkan ke depan sistem pemerintahan harus berbasis elektronik.

Perkembangan era digital membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan.

Begitu pula dalam sistem pemerintahan harus mengikuti perubahan yang ada.

Ibu dua anak ini menyebut tantangan di era digitalisasi, OPD harus mempunyai mindset sejalan.

Digitalisasi bukan hanya berbicara tentang sebuah aplikasi.

Banyak tantangan di dalamnya mulai dari Sumber Daya Manusia  (SDM) yang memenuhi kualifikasi, komitmen yang tinggi, serta infrastruktur yang memadai.

Dimana sebuah aplikasi ini mengintegrasikan seluruh OPD dan Pemda di Jawa Tengah menjadi satu kesatuan. 

"Aplikasi ini bukan hanya aplikasi yang berbagi pakai saja tapi aplikasi yang terintegrasi antara kabupaten, provinsi, dan pemerintah pusat, itu adalah digitalisasi dalam arti luas," tambahnya.

Ia menambahkan yang paling penting adalah sistem keamanan informasi harus kuat.

Sehingga sebuah website atau aplikasi milik pemerintah terjaga dan terhindar dari hacker.  

"Informasi itu harus aman dan itu harus dikelola oleh orang-orang yang tahu digitalisasi. Jangan sampai dunia cyber kita jebol hanya karena kelalaian atau human error ataupun alat yang tidak kompeten untuk sebuah aplikasi," imbuhnya.

Untuk menangani keamanan informasi. Pemprov Jateng mempunyai program JatengProv Computer Security Incident Response Team (JatengProv-CSIRT).

Melalui program ini dibentuk tim reaksi cepat terhadap kejahatan siber yang terjadi di kalangan pemerintah provinsi.

Pembentukan telah disaksikan langsung oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) pada tahun 2023 lalu.

Riena mengaku tim reaksi cepat itu sudah ada di seluruh OPD. Dari 35 daerah di Jateng, sebanyak 21 kabupaten/kota sudah mempunyai CSIRT.

Sementara 14 kabupaten/kota lainnya akan menyusul. 

"Harapannya setelah semuanya jadi provinsi CSIRT dan kabupaten/kota CSIRT. Tinggal kita scraping lagi untuk menambah knowledge komitmen dengan integritas," tegasnya.

Targetnya tahun 2024 seluruh wilayah di Jateng menjadi kabupaten/kota CSIRT. Diskominfo Jateng juga fokus terhadap digitalisasi di tingkat desa.

Melalui bantuan internet desa gratis telah menyalurkan bantuan wifi dengan kecepatan 100 mbps.

Terutama di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) dan daerah miskin ekstrem.  Seluruh desa didorong berinovasi menjadi desa digital. Sehingga potensi lokal bisa terangkat dan dikenal luas. 

"Desa harus bisa berinovasi dengan menjadi desa digital. Di Jateng sudah ada di desa Krandegan, Purworejo dan Kemuning, Karanganyar untuk desa digitalnya. Inovasi-inovasi itu perlu, sekarang jangan hanya menunggu bola tapi kita menjemput bola," tambahnya. (kap/fth)

Editor : Agus AP
#DIGITALISASI #peran wanita #bssn #Riena Retnaningrum