RADARSEMARANG.ID, Semarang - Keinginan untuk memulai hidup baru mendorong Sudrajat, seorang warga binaan di Lapas Kelas I Semarang, mengikuti program hapus tato.
Giat yang digelar bekerja sama dengan Lembaga Mualaf Center Indonesia itu memantiknya tobat.
Baginya, menghilangkan tato bukan sekadar menghapus gambar di tubuh, tetapi juga menjadi simbol meninggalkan masa lalu.
Baca Juga: Kapolres Salatiga Berganti, AKBP Jonathan David Harianthono Resmi Jabat Pimpinan Baru
Sudrajat merupakan narapidana kasus narkotika yang telah menjalani 10 tahun hukuman dari total vonis 15 tahun.
Ia mengaku sudah lama ingin menghapus lima tato yang menghiasi kedua tangan dan kakinya sejak masih berusia 17 tahun.
"Saya berharap pengin hilang tatonya Pak, cuma enggak ada jalan. Akhirnya di Lapas mengadakan hapus tato, dan saya langsung tergerak untuk ikut," ujarnya.
Ia menceritakan, tato tersebut dibuat saat masih bergaul dengan anak-anak jalanan. Seiring bertambahnya usia, ia menyadari tato sering memunculkan stigma negatif dan dikhawatirkan menjadi penghalang ketika kembali ke masyarakat.
"Takut bayangin Pak, baca berita ada mayat bertato dibiarkan saja, sudah mati masih bertato rasanya takut. Semua orang banyak melakukan kesalahan, tapi di mana ada niat pasti ada kesempatan," katanya.
Selama menjalani pembinaan, Sudrajat aktif bekerja di unit laundry Lapas selama sekitar enam tahun. Dari premi yang diterimanya, sebagian dikirim untuk membantu biaya sekolah anaknya.
"Alhamdulillah dapat penghasilan, hasilnya saya kirim ke anak untuk bantu biaya sekolah," tuturnya.
Selain bekerja, ia juga rutin mengikuti kegiatan pesantren di dalam lapas, mulai dari salat berjamaah, membaca Al-Qur'an hingga mengikuti kajian keagamaan.
Dengan sisa masa pidana yang tinggal sedikit, ia berharap seluruh tato di tubuhnya dapat hilang sehingga lebih percaya diri saat kembali ke tengah masyarakat.
Baca Juga: Hasil Drawing FIFA ASEAN Cup 2026: Timnas Indonesia Satu Grup dengan Malaysia, Duel Panas Kembali
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas I Semarang Ahmad Tohari mengatakan program hapus tato digelar untuk menanamkan semangat hijrah dan perubahan bagi warga binaan.
Dari 58 warga binaan muslim yang mengikuti kegiatan pembinaan, tujuh orang mendaftar mengikuti program penghapusan tato.
"Dari 58 warga binaan, ada sekitar tujuh orang ikut program hapus tato. Hal tersebut mereka lakukan sebagai bentuk komitmen memperbaiki diri," kata Tohari.
Menurutnya, proses penghapusan tato akan dilakukan secara bertahap sebanyak lima kali karena memerlukan waktu dan kesabaran. Ia menilai antusiasme warga binaan menunjukkan adanya keinginan kuat untuk memperbaiki diri sebelum kembali ke masyarakat.
"Alhamdulillah warga binaan sangat antusias. Saya rasa mereka mendapatkan banyak pelajaran di sini," pungkasnya. (ifa)
Editor : Baskoro Septiadi