Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Keluarga Pabrik Gelatik Kembar Ungkap Fakta Sejarah Sebenarnya, Bantah Bukan Perusahaan Warisan Orang Tua

Ida Fadilah • Senin, 31 Juli 2023 | 21:19 WIB
Lie Min Hwa selaku anak pertama dan Lie Siu Hwa anak ketiga bersama ibu Lies Setiawati pendiri pabrik Gelatik Kembar menunjukkan produksi buku.
Lie Min Hwa selaku anak pertama dan Lie Siu Hwa anak ketiga bersama ibu Lies Setiawati pendiri pabrik Gelatik Kembar menunjukkan produksi buku.

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Keluarga pabrik Gelatik Kembar buka suara usai beredarnya berita yang dinilai ngawur dan memutarbalikkan fakta.

Lie Min Hwa selaku anak pertama dan Lie Siu Hwa yang merupakan anak ketiga dari pendiri perusahaan tersebut meluruskan fakta yang sebenarnya.

Keduanya mengungkapkan sejarah orang tuanya Lie Tjiauw Pin dalam mendirikan dan menjalankan bisnis pabrik buku ternama bermerek Gelatik Kembar. 

Mereka mengaku terpukul atas pernyataan Andana Ali berdasarkan kesaksian Lie Irwan Damitrias beberapa waktu lalu di media yang menyebutkan bahwa pabrik Gelatik Kembar bukan warisan orang tuanya. 

"Kami sangat menyesalkan dikatakan bahwa Pabrik Buku Gelatik Kembar bukan merupakan warisan orang tua. Padahal orang tua kami mendirikan Pabrik Buku Gelatik Kembar di Jl. Gambiran No.73 sejak tahun 1970-an dengan memproduksi buku tulis merk Gelatik Kembar yang terkenal dengan Buku Tulis Sampul Biru Gelatik Kembar," ujarnya menjelaskan. 

Orang Tua Kerja Keras Dirikan dan Kembangkan Pabrik

Mereka sebagai saksi perjalanan mengetahui bagaimana kerja keras yang dilakukan ayahnya itu. Lie Min Hwa membeberkan, orang tuanya turun langsung dalam produksi hingga pemasarannya.

Tidak hanya di Semarang saja, namun juga di daerah lain seperti Salatiga, Magelang, Kudus, Purwodadi, dan sekitarnya. Hal itu merupakan perjuangan yang jelas tidak ringan dalam merintis dan mengembangkan suatu usaha. 

"Seharusnya sebagai anak yang berbakti, Lie Irwan Damitrias bisa menghargai jasa-jasa orang tua yang telah membesarkan kami secara berkecukupan. Membiayai sekolah sampai lulus sarjana. Hingga telah memberikan Pabrik Buku Gelatik Kembar kepada ketiga putranya yaitu Lie Yuwono Ali, Lie Irwan Damitrias, dan Tony Damitrias," imbuhnya. 

Ia menuturkan ayahnya merupakan figur yang sangat bertanggung jawab, sayang kepada keluarga, jujur, ulet, pekerja keras, dan tak pernah menyerah. Buktinya, Lie Tjiauw Pin bekerja keras untuk menghidupi istri dan lima orang anak-anaknya.

Meskipun tidak kaya, lanjutnya, namun selalu tercukupi baik dari sandang pangan hingga pendidikan. Seperti Lie Min Hwa yang lulus dari Akaba Universitas 17 Agustus 1945 Semarang, Lie Siu Hwa menjadi alumni Diploma Sekretaris Marsudirini Semarang.

Kemudian Lie Irwan Damitrias sendiri lulus sarjana pertanian di UKSW Salatiga, dan Tony Damitrias menjadi lulusan sarjana kedokteran dari Unissula Semarang. 

"Kami begitu sedih kalau sejarah perjuangan papa sama sekali tidak dihargai, apalagi oleh anaknya sendiri, Lie Irwan Damitrias. Kami tidak habis pikir setingkat adik kami yang notabene sangat berpendidikan dan dihormati banyak orang begitu tega memutar balikkan fakta yang ada," tambahnya. 

Perjalanan alm Lie Yuwono Ali

Lie Siu Hwa menambahkan pernyataan Andana Ali berdasarkan kesaksian dari Lie Irwan Damitrias mengenai kakaknya yakni alm Lie Yuwono Ali keluar sekolah demi membantu ekonomi keluarga juga tidak relevan.

Dalam pemberitaan di media online itu, disampaikan bahwa pada tahun 1974 Lie Yuwono Ali saat kelas 1 SMA memutuskan untuk keluar alias drop out dari sekolah demi bekerja membantu mencukupi kebutuhan keluarga dan orang tuanya.

Lie Yuwono Ali bekerja sebagai sales obat dan sukses dalam marketing di Jawa. Setelahnya Yuwono Ali ditugaskan di Makassar Sulawesi Selatan dan sukses juga di sana. 

Menurutnya, berita itu tidak benar dan memutar balikkan fakta. Adapun peristiwa yang sesungguhnya terjadi adalah pada tahun 1974 Lie Yuwono Ali tepatnya saat kelas 3 SMP dibelikan sepeda motor baru merk Kawasaki oleh orang tua karena sudah usia 18 tahun itu, Lie Yuwono Ali mulai punya banyak teman dan sering main bersama sesama pemilik motor Kawasaki yang saat itu lagi ngetren. 

Selanjutnya, pada tahun 1975 Lie Yuwono Ali berada di kelas 1 di SMA Kesatrian Jl. Gajahmada, seangkatan dengannya. Dalam mengenyam pendidikan itu, menurutnya kakaknya itu mulai kurang serius dalam belajar.

Banyak dolan dengan teman-temannya sehingga pada saat pembagian raport di akhir tahun 1975 Lie Yuwono Ali dinyatakan tidak naik kelas.

Kendati demikian, orang tuanya tetap mendorong dan memberikan semangat agar Lie Yuwono Ali tetap melanjutkan sekolah.

Sayang, kakaknya tetap bersikukuh mau keluar sekolah dan bekerja. Alasannya malu karena teman-teman seusianya sudah jadi mahasiswa atau lulus SMA dan beberapa sudah bekerja juga. 

Setelah ditunggu tunggu, ibunya Lies Setiawati risau karena Lie Yuwono Ali tidak ada tanda-tanda mencari pekerjaan. Tentu saja khawatir dengan masa depannya yang masih panjang.

Akhirnya Lie Tjiaw Pin minta tolong kepada adiknya yang bernama dr. David Agus Sardjono supaya Lie Yuwono Ali dimasukkan kerja sebagai sales di Perusahaan Besar Farmasi PT. Uni Lion. Perusahaan itu milik dari mertua dr. David.

Ia menilai tanpa referensi dari orang tuanya dan pertolongan dari dr. David tidak mungkin Lie Yuwono Ali bisa bekerja sebagai sales obat di PBF yang terkenal tanpa menggunakan ijazah SMA.

Pada kuartal I tahun 1976, Lie Yuwono Ali diterima sebagai sales obat di PT. Uni Lion hingga sampai 3 tahun kemudian.

Ia juga mengungkap Lie Yuwono Ali mempunyai pacar setelah kurang lebih 3 tahun bekerja. Lalu, ia putus dengan pacarnya kemudian berkeinginan pindah tugas keluar dari Semarang dan akhirnya ditempatkan di Makasar, kala itu ia mengisi posisi supervisor yang kosong.

Kurang lebih tahun 1984, Lie Yuwono Ali kembali ke Semarang karena ada kasus dengan teman kerjanya. 

"Jadi yang benar adalah Lie Yuwono Ali keluar dari sekolah dari SMA Kesatrian di Jl Gajahmada karena tidak naik kelas, bukan karena mau membantu ekonomi orang tua," tegasnya. 

Imbau Lie Irwan Damitrias Hentikan Dusta

Lie Min Hwa dan Lie Siu Hwa menyayangkan perjuangan orang tuanya yang sangat bertanggung jawab kepada keluarga maupun pabrik, namun tidak dihargai oleh Lie Irwan Damitrias.

Keduanya mengimbau pada Lie Irwan Damitrias untuk menghentikan kebohongan. Pasalnya, suatu perbuatan dusta akan ditutupi oleh kebohongan-kebohongan yang lain. 

"Ingatlah perintah Allah yang tertulis dalam Keluaran 20:12 yang berbunyi : hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu. Sadarlah untuk kembali ke jalan yang benar," pintanya. 

Terpisah, Kuasa Hukum penggugat Tony Damitrias, John Richard Latuihamallo menyatakan dengan keterangan keluarga Gelatik Kembar ini dapat disimpulkan bila asal PT Sinar Dunia, CV. Muktiharjo, dan CV. Tiga manunggal Abadi, adalah berasal dari perusahan keluarga. Kemudian, warisan orang tua ini diteruskan oleh penggugat dan para tergugat.

Sehingga dalil pihak tergugat Lie Irwan Damitrias cs dalam perkara No 527/Pdt.G/2022/PN Smg tersebut tidak benar. 

"Sama sekali tidak benar perihal Lie Yuwono Ali sebagai pendiri perusahan. Gugatan penggugat Tony Damitrias telah benar adanya," ujar John Richard Latuihamallo. (ifa/fth/web) 

Editor : Baskoro Septiadi
#Lie Tjiauw Pin #Pabrik Gelatik Kembar #web