Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Marak Aksi Kekerasan hingga Pembunuhan di Semarang, Begini Kata Kriminolog Undip

Khafifah Arini Putri • Rabu, 26 Juli 2023 | 16:28 WIB

 

Para pelaku pengeroyokan yang menewaskan Eko Ahmat Ariyadi yang sudah berhasil ditangkap jajaran Polrestabes Semarang.
Para pelaku pengeroyokan yang menewaskan Eko Ahmat Ariyadi yang sudah berhasil ditangkap jajaran Polrestabes Semarang.

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Akhir-akhir ini kasus kejahatan di Kota Semarang marak terjadi. Mulai dari aksi kekerasan hingga pembunuhan secara sadis.

Seperti pembunuhan di Taman Meteseh karena mabuk-mabukan, pembunuhan driver online di Mugassari, pengeroyokan berujung pembunuhan pengunjung karaoke GBL, pengeroyokan pembunuhan di depan PRPP yang mayatnya ditemukan di selokan, dan lain sebagainya.

Kriminolog Undip Semarang Budhi Wisaksono mengatakan, ada empat faktor yang menyebabkan seseorang melakukan suatu kekerasan dan kejahatan.

Yakni karena masalah pendidikan dan kejiwaan, kuasa hukum yang lemah, kondisi ekonomi, serta perkembangan teknologi.

“Saya mengibaratkan bunga mawar dan bunga kamboja, manusia ini hanya mengejar bunga mawar harta kekayaan. Tapi lupa dengan akhirat (bunga kamboja),” kata Budhi saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Semarang Senin (24/7) malam.

Ia menyebut, manusia atau masyarakat saat ini kurang pendidikan. Baik jasmani dan rohaninya. Sehingga moral juga turut dilupakan. Terutama pendidikan terkait agama.

“Intinya justru pendidikan kejiwaannya yang lemah. Jadi agamanya ini kurang. Bukan agamanya yang salah, tapi ajaran yang diberikan kepada anak ini menurut saya yang kurang pas. Bukan hanya jasmani tapi rohani dan jiwanya ini harus dididik untuk mengurangi hal-hal yang jelek,” imbuhnya.

Selain itu, kata dia,  maraknya kasus kejahatan bisa terjadi karena lemahnya kuasa hukum serta aparat penegak hukum.

Sehingga orang yang melakukan kejahatan tersebut jika tidak diberikan hukuman yang pantas. Mereka tidak kapok dan akan melakukan hal yang sama.

Kemudian masalah ekonomi yang memaksa seseorang bertindak melampaui batasannya. Budhi mencontohkan, jika ada orang yang terjerat pinjaman online (pinjol) atau rentenir, mereka akan melakukan segala cara untuk bisa membayar utang. Meskipun dengan membunuh. “Sehingga mereka ini moralnya rusak, rasa kasih sayangnya hilang,” imbuhnya.

Terakhir karena perkembangan teknologi. Muncul pergaulan bebas, seks bebas, anak-anak pun menjadi salah jalan. Mereka menggunakan sosial media untuk hal yang negatif.

Sehingga mengundang anak-anak lain untuk melakukan hal yang sama. Karena itu kolaborasi antar orang tua, pemerintah, beserta stakeholder lain perlu ditingkatkan. 

“Nah ini perlu ditingkatkan mutunya. Pertama dari didikan orang tua, pemerintah, Kementerian Agama semuanya harus bekerja sama,” tandasnya. (kap/ton)

 

Editor : Baskoro Septiadi
#Pembunuhan semarang #KRIMINALITAS #kriminolog