RADARSEMARANG.ID - Menjadi petugas haji tidak lagi sekadar melayani jamaah di Tanah Suci. Di era media sosial, satu kesalahan kecil bisa berujung viral dan merusak nama baik pribadi maupun institusi.
Hal itu ditekankan Direktur Bina Petugas Haji Reguler Kementerian Haji dan Umrah, Chandra Sulistio Reksoprodjo, saat memberikan pembekalan tugas kepada petugas haji di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Senin (12/1) malam.
Menurut Chandra, sebagian jamaah tidak selalu menyampaikan keberatan secara langsung kepada petugas.
Namun di balik itu, mereka bisa saja mengunggah pengalaman buruknya ke media sosial, lengkap dengan “daftar kesalahan” petugas.
Baca Juga: Embarkasi YIA Jadi Jalur Baru, Calon Jamaah Haji Temanggung Bakal Berangkat dari Yogyakarta
“Bisa jadi tidak ada yang ngomel di depan, tapi tahu-tahu nama petugas sudah viral dengan versi cerita jamaah,” katanya.
Situasi itu membuat petugas haji harus bekerja ekstra menjaga sikap, tutur kata, dan kesabaran. Apalagi, kondisi jamaah kerap tidak ideal akibat kelelahan perjalanan jauh, perbedaan budaya, hingga tekanan fisik dan emosional selama ibadah.
Dalam kondisi seperti itu, Chandra meminta petugas tidak terpancing emosi meskipun menghadapi jamaah yang marah atau tidak kooperatif.
“Jangan saling menyalahkan. Tetap tenang, disiplin, dan fokus menyelesaikan keluhan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa cara berbicara petugas sangat menentukan suasana. Bahasa yang santun dan sikap yang menenangkan akan membantu meredam konflik, bahkan ketika petugas sendiri sedang lelah.
Baca Juga: CPNS 2026 Masih Dikaji, Pemerintah Siapkan Skema Baru, Sekolah Kedinasan Jadi Prioritas
“Akhlak petugas itu dilihat jamaah. Kalau petugasnya kasar, jamaah juga bisa ikut keras,” ujarnya.
Dalam situasi paling sulit, ketika jamaah tak kunjung tenang, Chandra menyarankan pendekatan spiritual.
“Sampaikan bahwa kita sedang berada di Tanah Haram. Ajak jamaah untuk menjaga suasana ibadah. Biasanya itu menyentuh,” jelasnya.
Selain soal sikap, Chandra juga menyinggung pentingnya integritas. Ia menegaskan petugas tidak boleh menerima uang dari jamaah dalam bentuk apa pun, termasuk dalih tanda terima kasih. Hal itu bukan hanya melanggar aturan, tetapi juga bisa menimbulkan masalah di kemudian hari.
Dengan kompleksitas tugas, tekanan jamaah, serta sorotan publik yang kini begitu cepat lewat media sosial, Chandra menilai petugas haji harus benar-benar siap secara mental, etika, dan profesionalisme.
“Petugas haji bukan hanya melayani, tapi juga membawa wajah negara di hadapan tamu-tamu Allah,” tandasnya.
Editor : Baskoro Septiadi