Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Dinas Pendidikan Grobogan dan MPD Universitas Muria Kudus Perkuat Kepemimpinan Pendidikan Adaptif di Era Digital

H. Arif Riyanto • Kamis, 9 Juli 2026 | 09:05 WIB
Seminar Pendidikan bertema Transformasi Kepemimpinan Pendidikan dalam Era Digitalisasi untuk Pendidik Adaptif dan Berdampak yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan dan Magister Pendidikan Dasar (MPD) Program Pascasarjana Universitas Muria Kudus (UMK), Rabu (8/6/2026).
Seminar Pendidikan bertema Transformasi Kepemimpinan Pendidikan dalam Era Digitalisasi untuk Pendidik Adaptif dan Berdampak yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan dan Magister Pendidikan Dasar (MPD) Program Pascasarjana Universitas Muria Kudus (UMK), Rabu (8/6/2026).

RADARSEMARANG.ID, Grobogan– Transformasi digital tidak hanya menuntut sekolah memiliki perangkat teknologi, tetapi juga membutuhkan pemimpin pendidikan dan pendidik yang adaptif, literat secara digital, serta mampu menghadirkan pembelajaran yang berdampak bagi peserta didik.

Semangat tersebut mengemuka dalam Seminar Pendidikan bertema “Transformasi Kepemimpinan Pendidikan dalam Era Digitalisasi untuk Pendidik Adaptif dan Berdampak” yang diselenggarakan melalui kolaborasi Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan dengan Magister Pendidikan Dasar (MPD) Program Pascasarjana Universitas Muria Kudus (UMK), Rabu (8/6/2026).

Kegiatan akademik sekaligus publisitas akademis bersama MPD UMK tersebut mendapat antusiasme tinggi dari insan pendidikan di Kabupaten Grobogan.

Sekitar 4.000 peserta yang terdiri atas kepala sekolah dan guru jenjang PAUD, SD, hingga SMP mengikuti seminar melalui skema hybrid meeting, baik secara langsung maupun daring. 

Seminar menghadirkan tiga narasumber yang membedah transformasi pendidikan dari perspektif kebijakan, kepemimpinan pendidikan, pengembangan profesional pendidik, serta peran perguruan tinggi.

Narasumber seminar  pendidikan: Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan Dr. Suprojo DS, S.Pd., M.A., M.Pd.; Kepala Bidang PMPTK Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan Sudrajat Dangu Asmoro, S.Pd., M.Pd. dan Ketua Program Studi Magister Pendidikan Dasar Program Pascasarjana Universitas Muria Kudus Dr. Nur Fajrie, S.Pd., M.Pd.
Narasumber seminar  pendidikan: Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan Dr. Suprojo DS, S.Pd., M.A., M.Pd.; Kepala Bidang PMPTK Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan Sudrajat Dangu Asmoro, S.Pd., M.Pd. dan Ketua Program Studi Magister Pendidikan Dasar Program Pascasarjana Universitas Muria Kudus Dr. Nur Fajrie, S.Pd., M.Pd.

Narasumber pertama, Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan Dr. Suprojo DS, S.Pd., M.A., M.Pd., yang mewakili Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan, menegaskan bahwa kemampuan literasi digital telah menjadi bagian penting dari kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan. 

Menurut Suprojo, pendidik di Kabupaten Grobogan perlu semakin “melek” literasi digital.

“Kemampuan tersebut dibutuhkan untuk mendukung kapabilitas profesional sekaligus memperkuat penguasaan keterampilan abad ke-21,” katanya.

Transformasi digital, lanjut dia, perlu dipahami lebih luas daripada sekadar kemampuan mengoperasikan perangkat teknologi.

Pendidik dituntut mampu memilah informasi, memanfaatkan teknologi secara tepat, dan mengintegrasikannya dalam pengelolaan pendidikan serta proses pembelajaran. “Kemampuan literasi digital harus mendukung kapabilitas dan penguasaan keterampilan pendidik dalam menghadapi tuntutan abad ke-21,” tegas Suprojo.

Perspektif kepemimpinan dan pengembangan tenaga pendidik disampaikan Kepala Bidang PMPTK Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan Sudrajat Dangu Asmoro, S.Pd., M.Pd.

Sudrajat menekankan, regulasi dalam kepemimpinan pendidikan semestinya tidak dipandang sebagai instrumen yang membatasi kreativitas guru.

Sebaliknya, regulasi menjadi fondasi untuk memastikan proses pendidikan memiliki arah, standar, dan orientasi yang jelas.

Karena itu, lanjut dia, guru tidak perlu sekadar mengejar banyaknya materi yang harus disampaikan kepada peserta didik.

Pendidikan yang bermakna, menurut Sudrajat, justru berangkat dari kemampuan guru menentukan materi esensial dan relevan dengan tahap perkembangan anak.

“Regulasi dalam kepemimpinan bukan untuk mengikat kreativitas. Regulasi menjadi fondasi penting dalam membangun pendidikan yang bermakna. Guru tidak harus mengejar banyak materi tanpa arah. Hal yang terpenting adalah materi esensial, sesuai perkembangan anak, dan membantu murid mencapai kompetensi lulusan,” jelas Sudrajat.

Pandangan tersebut sekaligus memperkuat kebutuhan terhadap kepemimpinan pendidikan yang adaptif.

Kepala sekolah dan guru perlu memiliki kemampuan membaca perubahan, mengambil keputusan berbasis kebutuhan peserta didik, serta menciptakan lingkungan belajar yang responsif terhadap perkembangan sosial dan teknologi. Ketua Program Studi Magister Pendidikan Dasar Program Pascasarjana Universitas Muria Kudus Dr. Nur Fajrie, S.Pd., M.Pd. menegaskan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan praktisi pendidikan.

Menurut Nur Fajrie, para guru dan kepala sekolah memiliki kekayaan pengalaman empiris yang diperoleh secara langsung melalui dinamika pendidikan di sekolah.

Pada sisi lain, perguruan tinggi terus mengembangkan teori, metodologi penelitian, dan inovasi pendidikan.

Kedua kekuatan tersebut, lanjut dia, harus dipertemukan agar transformasi pendidikan tidak berhenti pada tataran konseptual.

“Tugas dan visi perguruan tinggi dalam bidang pendidikan adalah menjembatani pengalaman para pendidik dengan teori-teori kekinian untuk mengaktualisasikan pembelajaran pada era digitalisasi,” ujar Nur Fajrie.

Peran Pendidikan Tinggi harus hadir semakin dekat dengan persoalan nyata yang dihadapi guru.

Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan konsep dan teori, tetapi perlu membangun ruang kolaborasi agar pengetahuan akademik dapat ditransformasikan menjadi solusi pendidikan yang kontekstual.

Dalam konteks tersebut, MPD UMK terus memperkuat pengembangan pendidikan dasar melalui riset, inovasi pembelajaran, dan jejaring akademik.

“Program studi pascasarjana berakreditasi Unggul itu berupaya membangun ekosistem pembelajaran yang mempertemukan pengalaman profesional mahasiswa dengan perkembangan teori dan riset pendidikan terkini,” bebernya.

Nur Fajrie menambahkan, MPD UMK juga mengembangkan jejaring akademik dalam konteks nasional dan global.

Penguatan jejaring tersebut diarahkan untuk mendukung perkembangan riset pendidikan yang relevan dengan kebutuhan guru, sekolah, dan masyarakat.

Bagi pendidik di Kabupaten Grobogan, kolaborasi perguruan tinggi dan Dinas Pendidikan diharapkan membuka ruang yang lebih luas untuk mengembangkan keilmuan pendidikan secara mutakhir dan aplikatif.

Dikatakan, MPD UMK juga mengembangkan berbagai program akademik bagi pendidik yang hendak melanjutkan studi jenjang magister.

Di antaranya, desain penyelesaian studi yang memungkinkan mahasiswa menempuh pendidikan dalam tiga semester sesuai dengan ketentuan dan pemenuhan capaian akademik, serta pengembangan bentuk tugas akhir selain tesis sesuai kebijakan akademik dan kurikulum program studi.

“Program tersebut diarahkan untuk memberikan alternatif pengembangan profesional kepada guru dan tenaga kependidikan tanpa meninggalkan standar mutu akademik,” katanya.

Menurut Nur Fajrie, kolaborasi antara Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan dan MPD UMK melalui seminar pendidikan ini diharapkan tidak berhenti pada forum diskusi.

Lebih dari itu, lanjut dia, kegiatan tersebut dapat menjadi awal penguatan jejaring akademik, penelitian, dan pengembangan kompetensi pendidik secara berkelanjutan.

“Melalui kepemimpinan yang adaptif, literasi digital yang kuat, dan kolaborasi antara pemerintah daerah, praktisi pendidikan, serta perguruan tinggi, transformasi pendidikan diharapkan semakin mampu menghadirkan proses pembelajaran yang relevan, humanis, dan berdampak nyata bagi peserta didik,” harapnya.

Ditambahkan, seminar dengan ribuan peserta tersebut sekaligus menegaskan satu pesan penting bahwa transformasi pendidikan harus dimulai dari kesiapan manusianya.

“Teknologi dapat terus berubah, tetapi kualitas kepemimpinan, kapasitas guru, dan keberpihakan terhadap kebutuhan peserta didik tetap menjadi fondasi utama pendidikan,” tandasnya. (aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
#Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan #Nur Fajrie #Magister Pendidikan Dasar #Era Digital #Pascasarjana UMK