Langit Tetap Sama, Film Karya Sutradara Difabel Sahabat Mata Semarang

Ida Fadilah • Dipublikasikan Senin, 6 April 2026 | 17:52 WIB



Komunitas Sahabat Mata gala premier Film "Langit Tetap Sama" yang digelar di Ruang Audio Visual Perpustakaan Daerah Jawa Tengah, Senin (6/4/2026). NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG
Komunitas Sahabat Mata gala premier Film "Langit Tetap Sama" yang digelar di Ruang Audio Visual Perpustakaan Daerah Jawa Tengah, Senin (6/4/2026). NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Film inklusi berjudul "Langit Tetap Sama" resmi diperkenalkan ke publik melalui gala premier yang digelar di Ruang Audio Visual Perpustakaan Daerah Jawa Tengah.

Film ini menjadi tonggak penting dalam perkembangan sinema inklusif di Indonesia.

Disutradarai oleh Basuki, ia juga merupakan penyandang disabilitas.

Film ini tidak hanya mengangkat isu inklusi sebagai tema, tetapi juga menerapkannya secara nyata dalam seluruh proses produksi.

Baca Juga: Perpres 79 Tahun 2025 dan Kapan PNS Bisa Merasakan Kenaikan Gaji 2026, Simak Selengkapnya

Basuki menjelaskan, konsep film inklusi kerap disalahpahami oleh masyarakat.

“Banyak yang mengira film inklusi itu film tentang disabilitas. Padahal film inklusi adalah film yang bisa dinikmati semua orang, termasuk teman-teman tuli dan tunanetra,” ujarnya, Senin (6/4/2026). 

Sebagai bentuk penerapan inklusivitas, film ini dilengkapi fitur audio deskripsi yang memungkinkan penonton tunanetra tetap dapat mengikuti alur cerita secara utuh.

Penonton cukup menggunakan headset untuk mendengarkan narasi tambahan pada adegan tanpa dialog.

Film "Langit Tetap Sama" ini merupakan karya kedua dari komunitas Sahabat Mata setelah film sebelumnya, Sundul Langit.

Berbeda dari karya pertama, film ini digarap lebih matang dengan pendekatan sinematik layar lebar, meski tetap berangkat dari kisah nyata.

Baca Juga: Tunjangan Profesi Guru April 2026 Belum Cair? Fakta Tentang Cut-Off Dapodik 15 April yang Menentukan Validasi Data

Lelaki asal Mijen, Kota Semarang ini menjelaskan cerita dalam film ini terinspirasi dari kehidupan sehari-hari penyandang disabilitas, khususnya tunanetra.

Di dalamnya menggambarkan perjuangan, penerimaan, hingga harapan dalam menjalani hidup.

“Ini memang cerita real yang kami alami, lalu diramu menjadi film,” kata Basuki.

Keunikan film ini juga terletak pada proses kreatifnya. Naskah ditulis oleh penulis tunanetra dan disutradarai oleh sutradara tunanetra, menjadikannya sebagai karya yang lahir dari pengalaman otentik, bukan sekadar representasi.

Dari sisi pemeran, film ini melibatkan sekitar 13 orang yang berasal dari komunitas Sahabat Mata. Terdiri dari penyandang tunanetra, tuli, hingga non-disabilitas.

Basuki bahkan menyebut pendekatan penyusunan naskah dilakukan dengan menyesuaikan karakter para pemain.

“Kami lihat dulu siapa yang ada dan bisa apa. Baru naskahnya menyesuaikan,” ungkapnya.

Proses produksi film ini memakan waktu hingga satu tahun dengan berbagai tantangan.

Mulai dari penyesuaian jadwal pemain yang terlibat secara sukarela hingga proses pengarahan akting bagi pemain difabel.

Baca Juga: Begal Sadis Beraksi di Semarang Timur, Bacok Korban dan Bawa Kabur Uang 

“Ada yang kesulitan mengekspresikan emosi karena tidak punya gambaran visual. Itu harus diajarkan dari awal,” jelasnya.

Film ini diproduksi secara mandiri oleh komunitas Sahabat Mata dengan anggaran terbatas.

Seluruh pemain terlibat tanpa bayaran, sementara biaya produksi difokuskan pada kebutuhan konsumsi dan transportasi.

Meski sederhana, film ini membawa pesan kuat tentang kesetaraan. Basuki berharap masyarakat dapat mengubah cara pandang terhadap penyandang disabilitas.

“Kami ingin masyarakat memandang disabilitas itu setara. Tidak perlu dikasihani, tapi beri kesempatan dan kepercayaan,” tegasnya.

Gala premier film ini juga dihadiri berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum hingga perwakilan Kementerian Sosial, Komnas Disabilitas, dan akademisi.

Melalui Langit Tetap Sama, lanjut dia, Sahabat Mata ingin menunjukkan bahwa inklusivitas bukan sekadar wacana, melainkan praktik nyata dalam berkarya.

Film ini diharapkan mampu membuka perspektif baru bahwa disabilitas adalah bagian dari keberagaman manusia yang utuh dan bermartabat. (ifa)

Editor : Baskoro Septiadi
langit tetap sama inklusi DIFABEL film