Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Penerbangan Terakhir Bongkar Luka di Balik Seragam Dunia Aviasi

Lutfi Hanafi • Rabu, 14 Januari 2026 | 18:41 WIB
Penerbangan Terakhir - Final Trailer
Penerbangan Terakhir - Final Trailer

RADARSEMARANG.ID - Film Penerbangan Terakhir hadir sebagai drama psikologis yang berani menyentuh sisi gelap relasi manusia di balik gemerlap dunia transportasi udara.

Tanpa niat menyudutkan profesi pilot maupun pramugari, film ini justru mengajak penonton menengok dinamika emosional yang kerap tersembunyi di balik seragam rapi dan senyum profesional.

Disutradarai Benni Setiawan, Penerbangan Terakhir memilih pendekatan tenang namun menghantam.

Kabin pesawat dijadikan metafora ruang relasi yang tertutup, bertekanan tinggi, dan sulit untuk keluar—sebuah gambaran halus tentang hubungan yang tampak indah di permukaan, namun menyimpan luka di dalamnya.

Cerita berpusat pada Kapten Deva Angkasa (Jerome Kurnia), pilot karismatik yang terlihat sempurna di mata publik.

Namun di balik citra tersebut, Deva digambarkan sebagai sosok manipulatif yang menjalankan pola love bombing—menebar perhatian, janji, dan tekanan emosional yang kerap disalahartikan sebagai cinta.

Tokoh Tiara (Nadya Arina), pramugari muda yang penuh harapan, menjadi pusat konflik emosional. Relasi yang awalnya tampak romantis perlahan berubah menjadi jerat psikologis.

Bersama karakter perempuan lain, film ini memperlihatkan bagaimana hubungan tidak sehat dapat tumbuh dalam lingkungan kerja yang hierarkis dan elitis.

Baca Juga: Era CEO Laguna Tamat! China Larang Drama Bos Kaya Nikahi Gadis Miskin

Menariknya, Penerbangan Terakhir tidak mengeksploitasi drama perselingkuhan sensasional.

Film ini lebih fokus membedah proses psikologis korban—bagaimana batas diri perlahan runtuh, suara hati teredam, dan harga diri terkikis tanpa disadari.

 

Jerome Kurnia tampil berani dengan karakter yang tidak dirancang untuk disukai. Ia membiarkan Deva tampil dingin, manipulatif, dan emosional secara subtil.

Sebaliknya, Nadya Arina menjadi jangkar emosi film lewat permainan yang natural dan tidak berlebihan, membuat penonton larut dalam kebingungan dan luka yang dialami karakternya.

Baca Juga: Timothée Chalamet Juara Critics Choice, Latihan Pingpong Bertahun Tahun Terbayar

Kehadiran Aghniny Haque, Nasya Marcella, Ayu Dyah Pasha, hingga Devina Bertha mempertegas bahwa konflik yang diangkat bukan kasus tunggal, melainkan pola relasi yang bisa terjadi di mana saja.

 

Benni Setiawan dengan cermat menempatkan dialog-dialog kunci tanpa menggurui. Ketegangan dibangun lewat keheningan, tatapan, dan percakapan singkat yang terasa tidak nyaman—seperti relasi toksik itu sendiri.

 

Film ini juga menegaskan posisinya sejak awal: tidak menggeneralisasi dunia penerbangan, melainkan mengkritisi perilaku individu dan sistem sosial yang memungkinkan penyalahgunaan kuasa terjadi.

Baca Juga: Agak Laen Terus Menyala Pantiku, Apakah Sanggup Tumbangkan Avengers?

Film Relevan ini sebenarnya sesuai dengan Realitas Kekinian. Penerbangan Terakhir berbicara tentang isu yang dekat dengan kehidupan modern, seperti relasi kuasa di lingkungan kerja, manipulasi emosional yang sering dibungkus romansa. Untuk itu, pagi pekerja pentingnya kesadaran dan keberanian berkata tidak

 

Ini bukan film yang meninggalkan rasa ringan setelah lampu bioskop menyala. Sebaliknya, ia mengajak penonton merenung, bercermin, dan berdialog dengan realitas sosial di sekitar.

Sebagai film drama psikologis, Penerbangan Terakhir bukan tontonan hiburan ringan. Namun justru di situlah kekuatannya. Film ini relevan, berani, dan menyentuh isu sensitif dengan pendekatan yang elegan dan kekinian.

 

Bagi penonton yang mencari film Indonesia dengan lapisan makna dan refleksi sosial, Penerbangan Terakhir layak menjadi salah satu tontonan penting di awal 2026.(han)

Editor : Baskoro Septiadi
#kapten #aviasi #drama psikologis #aviary #kekinian banget #review film #penerbangan terakhir #Cerita #Love Bombing #film #PENERBANGAN #bisokop #metafora #Nadya Arina #jerome kurnia