RADARSEMARANG.ID - Fenomena CEO Laguna—tokoh bos superkaya yang tiba-tiba muncul sebagai pacar atau suami dari perempuan sederhana—resmi memasuki fase senja.
Pemerintah China mengambil langkah tegas dengan melarang pola cerita tersebut dalam serial drama pendek atau micro drama yang selama ini merajai platform video digital.
Kebijakan ini dikeluarkan oleh Administrasi Radio dan Televisi Nasional China (NRTA), lembaga regulator yang mengawasi konten siaran dan digital di Negeri Tirai Bambu.
Dalam pedoman terbarunya, NRTA menyoroti dominasi narasi domineering CEO—pengusaha muda, tampan, kaya raya, berkuasa—yang digambarkan jatuh cinta dan menikah dengan perempuan dari latar belakang ekonomi rendah.
Bagi pemerintah, cerita semacam ini bukan sekadar hiburan ringan. Narasi tersebut dinilai tidak realistis, berlebihan, dan berpotensi membentuk ilusi sosial, terutama di kalangan generasi muda yang menjadi penonton utama micro drama.
Hubungan asmara digambarkan seolah cukup ditentukan oleh status dan kekayaan, sementara kerja keras dan proses hidup kerap dipinggirkan.
Micro drama sendiri merupakan format serial pendek berdurasi satu hingga lima menit per episode. Dalam beberapa tahun terakhir, genre ini tumbuh pesat, mendatangkan jutaan penonton dan keuntungan besar.
Namun, di balik popularitasnya, cerita yang disajikan kerap berulang dan klise—pertemuan tak sengaja, konflik singkat, lalu kejutan besar: sang pria ternyata CEO perusahaan raksasa.
Pola inilah yang melahirkan komentar legendaris di media sosial: “Wah, ternyata CEO Laguna!” Kalimat tersebut menjadi ciri khas budaya menonton micro drama China, penanda momen klimaks saat identitas sang tokoh pria terungkap sebagai bos besar. Kini, komentar semacam itu dipastikan tak lagi sering muncul.
Baca Juga: Dari Thread ke Box Office: Film SimpleMan Kuasai Bioskop, Janur Ireng Masih Tayang
NRTA memang tidak menyebut larangan pada judul atau produksi tertentu. Namun, instruksi yang diberikan bersifat menyeluruh. Platform digital dan rumah produksi diminta mengubah arah cerita, mengurangi glorifikasi kekayaan ekstrem, kekuasaan personal, serta judul sensasional yang dianggap menyesatkan persepsi publik.
Langkah ini merupakan bagian dari agenda besar pemerintah China dalam menata ulang industri hiburan digital. Kreator didorong untuk menghadirkan cerita yang lebih membumi, mencerminkan kehidupan nyata masyarakat, serta menonjolkan nilai kerja keras, etika sosial, dan keharmonisan relasi manusia.
Bagi industri kreatif, kebijakan ini menjadi tantangan sekaligus titik balik. Era “Cinderella modern” dengan CEO sebagai pangeran kaya raya kini harus digantikan oleh narasi baru—tentang perjuangan nyata, konflik yang relevan, dan kesuksesan yang lahir dari proses panjang, bukan kebetulan romantis.
Dengan berakhirnya era CEO Laguna, micro drama China memasuki babak baru. Bukan lagi sekadar perburuan klik dan viralitas, tetapi upaya membangun tontonan yang lebih bertanggung jawab, reflektif, dan berdampak pada cara pandang generasi masa depan.(han)
Editor : Baskoro Septiadi