RADARSEMARANG.ID — Kerja keras yang sunyi akhirnya bersuara lantang di panggung penghargaan. Aktor papan atas Hollywood, Timothée Chalamet, resmi membawa pulang piala Aktor Terbaik dalam ajang Critics Choice Awards ke 31 yang digelar pada Minggu, 4 Januari 2026 waktu Amerika Serikat.
Kemenangan prestisius ini diraihnya berkat peran penuh totalitas sebagai Marty Mauser dalam film drama olahraga Marty Supreme.
Di usia 30 tahun, Chalamet sukses menaklukkan kategori bergengsi yang dihuni nama-nama besar. Ia mengungguli Leonardo DiCaprio (One Battle After Another), Joel Edgerton (Train Dreams), Ethan Hawke (Blue Moon), Michael B. Jordan (Sinners), hingga Wagner Moura (The Secret Agent). Sebuah pencapaian yang menegaskan posisinya sebagai salah satu aktor paling berpengaruh di generasinya.
Namun kemenangan ini bukan sekadar hasil dari kepiawaian membaca dialog atau mengekspresikan emosi. Di balik sorot lampu dan tepuk tangan, tersimpan proses panjang yang nyaris tak terlihat kamera. Dalam pidato kemenangannya, Chalamet mengaku tak menyangka namanya akan dipanggil sebagai pemenang. Gugup, jujur, dan apa adanya, ia membuka sambutan dengan suara bergetar.
“Aku harus berterima kasih kepada banyak orang. Aku tidak tahu apakah aku akan berdiri di atas sini lagi,” ujar Chalamet, dikutip dari The Hollywood Reporter. Ia bahkan sempat berhenti sejenak, mengakui ketegangannya di hadapan audiens. “Beri aku waktu sebentar. Sial, aku lebih tegang dari yang aku kira,” katanya, disambut tawa hangat para tamu undangan.
Secara khusus, Chalamet mempersembahkan piala tersebut kepada sutradara Josh Safdie, sosok di balik visi Marty Supreme. Ia memuji Safdie sebagai pencerita yang mampu merangkai kisah tentang mimpi dan ambisi tanpa menggurui. “Kamu membuat kisah tentang mimpi yang terasa dekat, tanpa memaksa penonton memilih mana benar dan salah,” tuturnya.
Film Marty Supreme sendiri bukan drama olahraga biasa. Berlatar Amerika Serikat era 1950-an, film ini mengangkat dunia tenis meja profesional, cabang olahraga yang jarang disentuh sinema arus utama. Chalamet memerankan Marty Mauser, pemain pingpong ambisius yang terinspirasi dari tokoh-tokoh nyata, dengan karakter keras kepala, disiplin, sekaligus rapuh secara emosional.
Demi peran itu, Chalamet menjalani latihan pingpong sungguhan selama bertahun-tahun, jauh sebelum kamera mulai merekam. Dalam sejumlah wawancara, ia mengungkapkan bahwa persiapan fisik dimulai sejak sekitar 2018. Ia membawa meja pingpong ke mana pun pergi—dari London saat menggarap Wonka, Budapest ketika syuting Dune: Part Two, hingga sebuah Airbnb di Prancis saat menghadiri Festival Film Cannes.
Latihannya pun bukan asal bermain. Chalamet mempelajari teknik tenis meja era 1950-an, mulai dari gaya servis, pola footwork, hingga ritme permainan yang berbeda dari teknik modern. Ia berlatih bersama pelatih profesional dan mantan atlet, termasuk Diego Schaff serta Wei Wang, atlet Olimpiade Amerika Serikat. Tujuannya satu: menghadirkan gerakan yang autentik, bukan sekadar terlihat meyakinkan di layar.
Hasilnya terlihat jelas. Para pelatih menilai kemampuan Chalamet di atas meja pingpong “luar biasa” untuk ukuran aktor non-atlet. Ia dinilai mampu menguasai tempo, membaca arah bola, serta menampilkan koordinasi tubuh yang presisi. Semua itu membuat adegan pertandingan dalam film terasa hidup, bukan sekadar koreografi.
Dedikasi tersebut akhirnya berbuah manis. Selain kemenangan di Critics Choice Awards 2026, performa Chalamet di Marty Supreme juga menuai pujian luas dari kritikus dan komunitas perfilman dunia. Banyak yang menyebut peran ini sebagai career-defining performance, sebuah fase penting yang menandai kedewasaan aktingnya—bukan hanya secara emosional, tetapi juga fisik dan disiplin kerja.
Kisah Timothée Chalamet dalam Marty Supreme menjadi pengingat bahwa seni peran tingkat tinggi lahir dari pengorbanan panjang. Ketika batas antara aktor dan atlet melebur, dan latihan bertahun-tahun akhirnya menjelma piala di tangan, dunia pun menyaksikan satu hal: akting sejati selalu dibangun dari kerja yang nyata.(han)
Editor : Baskoro Septiadi