RADARSEMARANG.ID — Sinema Indonesia perlahan keluar dari zona nyaman. Setelah bertahun-tahun dijejali horor lokal, komedi komika, dan aksi berdarah, layar lebar kini memberi ruang bagi kisah yang lebih sunyi—namun menghantam jauh ke dalam perasaan.
Esok Tanpa Ibu hadir sebagai penanda zaman: sebuah film drama keluarga berbalut fiksi ilmiah yang berani, relevan, dan mengharu biru.
Film ini mengajukan pertanyaan sederhana sekaligus menggetarkan: bagaimana rasanya memiliki ibu yang digantikan oleh kecerdasan buatan?
Disutradarai dengan sensitivitas tinggi, Esok Tanpa Ibu berkisah tentang Rama, seorang remaja yang harus menerima kenyataan pahit: ibunya, Laras, terbaring koma.
Secara fisik masih ada, tetapi secara emosional perlahan menghilang. Dalam kekosongan itu, teknologi datang—bukan sebagai penyelamat mutlak, melainkan sebagai perpanjangan rindu.
Hadir sosok i-BU, kecerdasan buatan yang diciptakan untuk meniru Laras. Suaranya lembut, kata-katanya familiar, gesturnya menyerupai ibu yang selama ini menjadi pusat kehidupan Rama. Dari sinilah konflik batin tumbuh pelan namun menghantam: apakah kenangan boleh direkayasa demi menghindari kehilangan?
Alih-alih tampil dingin seperti kebanyakan film sci-fi, Esok Tanpa Ibu justru terasa hangat. Masa depan digambarkan dekat, akrab, dan menyusup ke ruang keluarga—tempat luka paling manusiawi bersemayam.
Kekuatan utama film ini terletak pada tema anticipatory grief—duka yang muncul sebelum kehilangan benar-benar terjadi. Penonton diajak menyelami kesedihan yang tak meledak-ledak, tetapi mengendap, menunggu, dan perlahan menggerogoti batin.
Baca Juga: Hanung Bramantyo Lagi-Lagi 'Main Api', Film La Tahzan Panaskan Layar
Naskah film menempatkan teknologi bukan sebagai tokoh antagonis, melainkan cermin: ia memantulkan betapa rapuhnya manusia ketika harus belajar melepaskan. Pertanyaan etis tentang AI disampaikan tanpa khotbah, melainkan melalui dialog keluarga, keheningan ruang makan, dan tatapan anak yang enggan merelakan ibunya pergi.
Dian Sastrowardoyo tampil memikat sebagai Laras—dan sebagai i-BU. Ia tidak sekadar berakting sebagai mesin, melainkan memperlihatkan evolusi emosi: dari kaku, terprogram, hingga hampir manusiawi. Perannya terasa personal, reflektif, dan sangat relevan dengan realitas orang tua di era digital.
Ali Fikry sebagai Rama tampil meyakinkan sebagai remaja yang rapuh, marah, rindu, dan bingung menghadapi dunia yang berubah terlalu cepat. Sementara Ringgo Agus Rahman menghadirkan sosok ayah yang tenang namun penuh konflik batin—menjadi jangkar emosional yang membumi di tengah hiruk-pikuk teknologi.
Diproduksi oleh BASE Entertainment dan Beacon Film, Esok Tanpa Ibu juga menandai kematangan industri film Indonesia. Kolaborasi dengan Singapura melalui IMDA dan Singapore Film Commission, serta penggunaan teknologi virtual production, membuat film ini tampil futuristik tanpa kehilangan rasa lokal.
Tak heran jika film ini mendapat panggung prestisius di Busan International Film Festival (BIFF) 2025, lalu disambut antusias hingga tiket “sold out” di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 20.
Esok Tanpa Ibu bukan sekadar kisah tentang AI. Ia adalah cermin keluarga modern, potret relasi orang tua dan anak di era layar sentuh, serta refleksi tentang bagaimana manusia berusaha mempertahankan cinta di tengah perubahan zaman.
Film ini tidak menawarkan jawaban mutlak. Ia hanya mengajak penonton duduk, diam, dan bertanya pada diri sendiri: jika esok ibu benar-benar tiada, apa yang akan kita pertahankan—kenangan, atau keberanian untuk merelakan?
Dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 22 Januari 2026, Esok Tanpa Ibu layak disebut sebagai salah satu tonggak penting sinema Indonesia—sebuah film yang membuktikan bahwa teknologi dan rasa bisa berjalan beriringan, selama manusia tetap menjadi pusat ceritanya.(han)
Editor : Baskoro Septiadi