RADARSEMARANG.ID - Dari sunyi layar ponsel hingga riuh tepuk di bioskop, kisah-kisah SimpleMan berjalan jauh—melampaui utas, menembus layar, dan menetap di benak penonton.
Adaptasi film dari karya penulis horor ini bukan hanya laris, tetapi juga mencetak sejarah, menempatkan sejumlah judulnya ke dalam 10 besar film Indonesia terlaris sepanjang masa.
MD Pictures, rumah produksi raksasa perfilman nasional, menjadi motor utama di balik sukses ini.
Konsisten menggarap horor berbasis cerita rakyat urban, MD Pictures telah melahirkan lebih dari delapan film horor dengan capaian di atas satu juta penonton.
Sejumlah di antaranya berasal dari thread viral SimpleMan—kisah yang dibaca dan dibagikan puluhan juta kali sebelum akhirnya menjelma pengalaman sinematik.
Tonggak awalnya adalah KKN di Desa Penari (2022). Disutradarai Awi Suryadi, film ini meledak dengan raihan lebih dari 10 juta penonton, menjadikannya salah satu film terlaris sepanjang masa.
Berlatar desa terpencil yang dikuasai Badarawuhi, cerita enam mahasiswa KKN ini menggabungkan mitos, moral, dan teror—membuktikan bahwa horor yang bertutur pelan bisa mengguncang keras.
Kesuksesan itu disusul Sewu Dino (2023). Tayang saat libur Lebaran, film arahan Kimo Stamboel ini meraih lebih dari 4 juta penonton.
Kisah Rahayu yang terjerat ritual santet seribu hari menghadirkan horor yang berlapis: ketakutan, pengorbanan, dan kesunyian yang menekan. Nama SimpleMan kembali menguat sebagai sumber cerita yang “hidup” di layar.
Semesta Desa Penari kemudian diperluas lewat Badarawuhi di Desa Penari (2024). Sebagai spin-off, film ini menengok masa lalu, menguak legenda dengan sudut pandang baru.
Taruhannya lebih besar, ritusnya lebih kelam, dan warisannya kian menegaskan kekuatan world-building dari kisah SimpleMan.
Baca Juga: Bangun Tidur Dunia Sudah Tenggelam, Film The Great Flood Bikin Merinding
Pada akhir 2024, Sorop hadir—adaptasi dari thread yang bahkan belum rampung. Disutradarai Upi Avianto, film ini menempatkan horor sebagai utang masa lalu yang kembali menagih. Teror keluarga, dosa, dan penyesalan diramu menjadi kisah yang intim dan mencekam.
Memasuki 2025, MD Pictures kembali menggandeng Awi Suryadi lewat Pabrik Gula. Berlatar pabrik tua dengan penghuni tak kasatmata, film ini melanjutkan tradisi horor berbasis lokasi dan folklore, sekaligus mempertegas konsistensi adaptasi SimpleMan sebagai magnet penonton.
Dan kini, Janur Ireng—karya terbaru SimpleMan—masih tayang di bioskop. Film ini menelusuri legenda perang antar keluarga gaib, membuka babak konflik yang lebih luas.
Jika Sewu Dino adalah malam yang panjang, Janur Ireng adalah fajar yang kelam: awal dari pertarungan kepercayaan, janji, dan kengerian yang tak terucap.
Di titik ini, SimpleMan bukan sekadar penulis thread. Ia adalah jembatan—menghubungkan cerita rakyat urban dengan industri film populer.
Horornya tidak mengandalkan kejutan semata, melainkan atmosfer, mitos, dan konsekuensi. Penonton pun tak hanya menonton, tetapi merasakan: napas halus di balik layar, gema bisikan yang pulang bersama mereka dari ruang gelap bioskop. (han)
Editor : Baskoro Septiadi