RADARSEMARANG.ID, Semarang - Ratusan Mahasiswa di Kota Semarang diajak nonton bareng film "Nia" oleh Lembaga Sensor Film (LSF).
Film inspiratif ini mengisahkan gadis dari Tanah Minang yang dirudapaksa oleh pecandu narkoba.
Kegiatan ini juga sebagai bagian dari edukasi literasi bermedia dan pemahaman etika produksi film.
Ketua Subkomisi Apresiasi dan Promosi LSF, Gustav Aulia mengatakan industri film Indonesia tengah berkembang pesat. Produksi film nasional bahkan melampaui film asing pada tahun lalu.
“Momentum ini harus terus dijaga. Kreativitas, cerita, hingga inspirasi dari film-film Indonesia harus semakin kuat,” ujarnya.
Menurutnya film Nia Kurnia Sari dipilih karena membawa pesan penting bagi generasi muda. Ceritanya menyentuh, relevan, dan membuka mata soal isu keluarga, perlindungan anak, hingga lingkungan sosial.
“Ada situasi yang tidak kita inginkan tapi bisa kita antisipasi lewat keluarga, pendidikan, dan lingkungan. Kami ingin film Nia menjadi inspirasi bahwa kita harus saling melindungi,” kata Gustav.
Sutradara Film Nia, Aditya Gumay, menyebut tokoh Nia Kurnia Sari merupakan sosok remaja inspiratif.
Meskipun berasal dari keluarga broken home dan finansial yang bisa dikatakan kurang mampu.
Nia tumbuh sebagai anak yang tangguh. Ia tetap berprestasi meraih beasiswa, menjadi juara silat di Kabupaten Pariaman, hingga bekerja untuk membantu keluarga.
Biasanya Nia ini bekerja sebagai penjual gorengan untuk menghidupi keluarganya. Namun gadis berusia 18 tahun ini justru mengalami tragedi buruk. Ia menjadi korban pemerkosaan oleh pecandu narkoba.
"Nia tidak terpuruk. Dia bangkit, bertanggung jawab, dan menjadi tulang punggung keluarga. Banyak remaja yang mungkin fatherless, tapi bukan berarti harus menyerah,” kata Aditya.
Aditya juga menekankan pentingnya etika dalam produksi film. Ia mengaku menerapkan sensor diri sebelum karyanya dinilai LSF.
“Filmmaker harus jadi polisi bagi karya sendiri. Saran LSF itu untuk kebaikan pembuat film juga, supaya tidak ada pihak yang tersinggung dan tidak menyulitkan distribusi,” tandasnya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi