RADARSEMARANG.ID - Skandal serius tengah membayangi drama original Netflix When Life Gives You Tangerines.
Sejumlah tuduhan terkait perlakuan tidak manusiawi terhadap kru dan figuran selama proses syuting yang ditayangkan di media sosial.
Hal ini memicu berbagai gelombang kemarahan publik dan mendorong Netflix untuk segera melakukan penyelidikan.
Pada Rabu (28/5/25) perwakilan Netflix mengatakan kepada News1 bahwa tengah bekerja sama dengan mitra produksi Korea untuk meningkatkan kerja proyek.
“Kami sedang memverifikasi fakta dari laporan yang beredar dan akan meninjau hasilnya secara menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” ujarnya.
Isu ini menunjukkan setelah seorang pengguna X (sebelumnya Twitter) membagikan buktinya tentang perilaku tidak profesional terhadap kru di lokasi syuting.
Dirinya menyebutkan penggunaan cat semprot industri di dalam bus sewaan hingga pernyataan meremehkan dari kru yang mengatakan, "Bisa dibersihkan pakai tiner kok."
Kesaksian lain menyebutkan ada kekurangan staf hingga orang awam diminta membantu mengemudi tanpa biaya, mendapat perlakuan kasar, hingga harus bekerja pindah kota-Jeonju, Beolgyo, dan Andong-dalam tiga hari berturut-turut tanpa penginapan.
Baca Juga: Choi Hee Jin Bersyukur Perannya Sebagai Kucing Sonya di Drama Heavenly Ever After Disukai Penonton
Mereka hanya diberi burger dan soda, tanpa menunggu tempat, bahkan harus menahan dingin di luar ruangan selama berjam-jam.
Tak hanya itu, para figuran juga disebut dipaksa potong rambut demi peran, dilarang memakai pakaian dalam hangat karena dianggap merusak kostum yang pas, dan figuran senior dibiarkan kedinginan tanpa makanan atau tempat berteduh.
Serta para kru kostum pun dituding lebih memprioritaskan anggaran untuk pemeran utama saja.
Baca Juga: Trailer Squid Game S3 Resmi Rilis, Tayang di Netflix Juni: Kembali Hadirkan Aksi Penuh Ketegangan
Dengan anggaran fantastis sekitar 60 miliar KRW, netizen menghabiskan bagaimana produksi bisa begitu mengabaikan kesejahteraan para staf dan figuran.
Drama ini menuai pujian sejak tayang perdana pada Maret lalu. Hingga kini, popularitasnya mendapatkan berbagai kritik keras terhadap sistem kerja di balik layar.
Editor : Baskoro Septiadi