RADARSEMARANG - Trailer film ini resmi rilis pada (6/5/25), garapan sutradara Hanung Bramantyo yang dikabarkan akan tayang pada (5/6/25) di seluruh bioskop Indonesia
Hanya melihat trailer film Gowok: Kamasutra Jawa, membuat respons publik langsung tercengang dan penasaran, akan film berdurasi 2 jam 10 menit itu menawarkan kisah yang bernuansa tradisi budaya lama Jawa dengan kemasan elemen yang menarik dan penuh ketegangan.
Melalui film ini, sang sutradara mencoba mendekonstruksi pandangan umum yang kerap menilai budaya Jawa dan Islam sebagai budaya yang sangat patriarkal.
Baca Juga: Menguak Film Gowok Kamasutra Jawa yang Mengguncang Tradisi, Benarkah Sekadar Tabu?
"Jawa itu sangat patriarkal. Apalagi Islam, sangat patriarkal. Tapi ternyata gowok mengubah banyak hal,” kata Hanung sutradara film Gowok, pada saat sesi diskusi di XXI Plaza Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (8/6/25).
Film ini dibintangi oleh beberapa aktris dan aktor; Lola Amaria sebagai Nyai Santi, Raihaanun sebagai Nyai Ratri, Reza Rahardian sebagai Denmas Kamanjaya, Ali Fikry sebagai Bagas, Slamet Rahardjo, Devano Danendra sebagai Kamanjaya muda, Alika Jantinia sebagai Ratri muda.
Perlihal tentang pra nikah untuk memberikan edukasi para calon pengantin Pria Jawa. Sejarah ini bermula dengan tradisi pergowokan di daratan Jawa pada awalnya diperkenalkan oleh wanita asal Tiongkok bernama Goo Wok Niang yang datang ke Jawa bersama dengan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1415-an.
Baca Juga: Maxime Bouttier Ikut Meranin Tokoh di Film Gundik, Jadi Apa? Berikut Daftar Pemain Gangster Perampok
Dalam waktu yang tak lama itu, praktik tersebut pada akhirnya dikenal banyak masyarakat Jawa hingga menjadi tradisi di kemudian harinya.
Seluk beluk kehidupan rumah tangga, termasuk seks merupakan hal tabu bila diajarkan oleh orang tua. Karena itulah seorang wanita yang dianggap memiliki pengalaman diminta untuk mengajarkan.
Seorang gowok akan mendapatkan gaji atau upah dari orang tua yang menitipkan anaknya. R Prawoto menyebutkan gowok mempunyai tarif bervariasi antara lain 0,25 gulden dan 0,35 gulden per hari.
Baca Juga: Gokil! Reza Rahadian Jadi Bintang Iklan Netflix Sindir Film Indonesia Aktornya Dirinya Lagi
Terkadang orang tua juga memberikan upah berupa beras, kelapa, dan lain-lain sebagai ucapan terima kasih. Karena mendapatkan upah, Bila nanti gowok gagal memenuhi tanggung jawabnya, wajib mengembalikan seserahan.
Gowok biasanya bertindak layaknya seorang istri dan menantu. Karena itu dirinya juga harus melayani lelaki tersebut.
Harus memasak makanan untuk pemuda itu dan keluarganya, menyediakan kayu bakar, membawa pemuda tersebut ke tanah tempat si perempuan bekerja, membawakan makanan, mengurus pakaian dan harta miliknya, menerima kunjungan untuknya, dan lain sebagainya.
Baca Juga: Trailer Film Keluarga Super Irit Resmi Rilis Tayang di Bioskop Juni, Pemainnya Dwi Sasono Lengkap Sekeluarga
Nantinya setelah pendidikan itu selesai, gowok akan melaporkan hasilnya kepada orang tua pemuda yang menjadi muridnya. Setelah anaknya lulus menjalani gowokan barulah orang tua akan membuat pesta pernikahan.
Disebutkan bahwa praktik Gowok ini terakhir marak di daerah Purworejo dan Banyumas, namun mulai hilang di era 1960-an, lantaran memang tradisinya melanggar norma dan agama. Dikarenakan melanggar norma agama. Tahun 1960an tradisi Gowok dihilangkan.