RADARSEMARANG.ID - Film ke-11 karya Joko Anwar, Pengepungan di Bukit Duri, telah mencatatkan sejarah baru dalam perfilman Indonesia.
Sejak dirilis pada 17 April 2025, film ini berhasil menarik lebih dari satu juta penonton hanya dalam sepuluh hari penayangan, menjadikannya film action thriller terlaris di Indonesia.
Berbeda dari kebanyakan film aksi yang fokus pada adegan menegangkan, Pengepungan di Bukit Duri menyuguhkan narasi yang mendalam tentang isu-isu sosial yang relevan.
Berlatar di tahun 2027, film ini menampilkan bagaimana Indonesia yang tengah terguncang oleh konflik sosial yang dipicu oleh diskriminasi dan sentimen rasial.
Karakter utama, Edwin (diperankan oleh Morgan Oey), adalah seorang guru pengganti di SMA Duri yang terjebak dalam situasi kacau saat sekolahnya berubah menjadi arena pertarungan antara hidup dan mati.
Joko Anwar mengungkapkan bahwa naskah film ini telah ditulis sejak 2008, namun baru direalisasikan sekarang karena situasi sosial yang belum banyak berubah.
Ia berharap film ini dapat menjadi refleksi bagi masyarakat untuk merenungkan dan menghadapi isu-isu yang ada.
Pengepungan di Bukit Duri merupakan hasil kolaborasi antara rumah produksi lokal Come and See Pictures dan studio Hollywood, Amazon MGM Studios.
Ini menjadi kolaborasi perdana antara studio besar Hollywood dengan rumah produksi film dari Asia Tenggara dalam pembuatan film layar lebar.
Meskipun demikian, Joko Anwar menegaskan bahwa tidak ada campur tangan kreatif dari MGM Studios, sehingga film ini tetap mempertahankan identitas lokalnya.
Film ini mendapat pujian dari berbagai kalangan, terutama karena keberaniannya mengangkat isu-isu sensitif seperti kekerasan antar remaja dan ketidakadilan terhadap guru.
Morgan Oey, yang memerankan Edwin, menyatakan bahwa karakter tersebut mencerminkan perjuangan banyak guru di Indonesia yang menghadapi tantangan dalam sistem pendidikan yang kompleks
Dengan pencapaian ini, Pengepungan di Bukit Duri tidak hanya sukses secara komersial, tetapi juga berhasil membuka diskusi penting tentang kondisi sosial di Indonesia.
Film ini menjadi bukti bahwa sinema dapat menjadi medium yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan sosial yang mendalam.
Editor : Baskoro Septiadi