RADARSEMARANG.ID, Semarang - Setelah sukses pembuatan dua film panjang, sutradara film muda bernama Umay Shahab kembali mengeluarkan film panjang berjudul Perayaan Mati Rasa.
Karyanya dalam kisah film terbarunya ini memiliki pesan mendalam terhadap anak muda tentang pentingnya meluangkan waktu untuk keluarga utamanya orangtua.
Tak hanya sebagai sutradara, Umay Shahab juga ikut terlibat berperan sebagai Uta Antono. Film ini juga dibintangi Iqbaal Ramadhan. Selain produser juga juga andil di dalam layar berperan sebagai Ian Antono.
Selain itu dibintangi Devano Danendra, sebagai Ray Alvero dan Dul Jaelani, sebagai Saka Wijaya. Kemudian ada Randy Danistha, sebagai Dika Ardana.
Perasaan Mati Rasa, mengajak penonton untuk berefleksi mengikuti kisah Ian Antono, dan Uta Antono, keduanya kakak beradik. Ian berperan sebagai seorang anak pertama.
Ian berjuang meraih mimpinya bersama para sahabatnya. Dan berusaha keras memenuhi semua ekspektasi yang ia bangun, hingga membuatnya jauh dari keluarga, karena lebih mementingkan mengejar mimpinya atau berkarier.
Namun ditengah kesibukannya, sebuah peristiwa besar menimpa keluarganya. Hingga membuat keduanya kehilangan orangtuanya secara tiba-tiba.
Adanya peristiwa ini membuat keduanya untuk berusaha selalu kuat, dan mencoba introspeksi ketika menyia-nyiakan waktu dengan keluarga, demi mengejar mimpinya.
"Sebenarnya utama dari kisah film ini tentang betapa beratnya rasanya kehilangan orangtua, yang diceritakan lewat sudut pandang anak pertama dan anak kedua. Bagaimana kakak adik ini bisa menghadapi dan melewati rasa kedukaan atas meninggalnya orangtua," ungkap Iqbaal Ramadhan di Semarang.
"Tadinya agak sedikit berjarak sebagaimana layaknya kakak dan adik mengejar mimpinya masing-masing. Lalu akhirnya harus ada ada lem yang mempersatukan mereka yang mana lemnya itu ternyata menyakitkan kehilangan orangtua," imbuhnya.
"Apakah mimpi jadi penting ketika orang tua sudah gak ada?. Karena kita sempat panjang pembahasan soal ini. Karena apa yang lebih penting punya karir yang sukses tapi gak sama keluarga. Atau kariernya biasa biasa saja tapi bisa menikmati kebahagian besama sama dengan keluarga," lanjut Umay.
Film ini memiliki pesan yang sangat mendalam dan relevan bagi banyak orang. Tema tentang pentingnya keluarga, kehilangan, dan menghargai waktu bersama orang-orang terkasih adalah hal yang menyentuh banyak hati.
Terutama bagi generasi muda yang mungkin terlalu sibuk mengejar karier atau mimpi hingga lupa untuk meluangkan waktu bagi keluarga.
"Dan semuanya itu atas ketakutan aku ketika kehilangan orang tua. Nanti serusak apa mentally, aku akan depresi apa gak, aku akan gimana, aku tidak tahu. Jadi menurut aku ini kayak bentuk diary aku untuk menceritakan apa yang jadi ketakutan aku menjadi bentuk film," bebernya.
Film berdurasi 125 menit ini, proses penggarapan kurang lebih 2,5 tahun, dan selesai 22 Januari 2025. Pemutaran film ini juga dilakukan serentak diseluruh bioskop di Indonesia, Rabu (29/1/2025).
Umay berharap dengan hadirnya film Perayaan Mati Rasa, untuk memberikan pesan kepada semua orang utamanya anak muda tidak menyia-nyiakan waktu bersama keluarga, termasuk orang yang dikasihi.
"Film ini hadir bukan hanya sebuah bentuk menggurui, tapi sebagai pengingat. Jangan sampai kita menyesal suatu hari, untuk orang orang yang kita sayangi. Karena setiap detiknya kan berharga," tegasnya.
"Jangan karena mereka masih sering hadir di hidup di kita, dan mereka akan selamanya. Ketika mereka whatsapp, telpon kita, jangan, ah ntar aja deh. Ya kita gak tau apakah masih ada ntar?. Jadi kita ingin mengingatkan anak-anak muda sama anak anak seumuran kami," harapnya.
Film ini dapat menjadi medium yang tidak hanya menghibur. Tetapi juga memberikan refleksi kepada penonton untuk menghargai hubungan mereka dengan keluarga dan sahabat ke arah positif bagi banyak orang.
"Jadi jangan cuma sibuk kerja, padahal membalas chat, whatsapp itu jauh lebih simpel dan lebih berarti juga," pungkasnya. (kap/bas)
Editor : Baskoro Septiadi