Sosok Bripda Tika, Atlet Judo yang Kini Jadi Pengawal Fadia Arafiq di Pengadilan

Ida Fadilah • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 05:52 WIB
Bripda Dwike Hepto Januartika saat mengawal Fadia Arafiq di Pengadilan Tipikor Semarang. (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Bripda Dwike Hepto Januartika saat mengawal Fadia Arafiq di Pengadilan Tipikor Semarang. (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

 

RADARSEMARANG.ID - Di tengah hiruk-pikuk persidangan perkara dugaan korupsi yang menjerat Bupati Pekalongan nonaktif Fadia Arafiq, sosok berseragam polisi tampak selalu berada di dekat terdakwa. Usianya masih 20 tahun, namun tugas yang diembannya menuntut kesiapsiagaan dan ketenangan.

Wajahnya yang ayu menarik perhatian, tubuhnya ramping dengan tinggi 164 centimeter, ia lengkap mengenakan seragam Brimob dengan senjata pistol di pinggangnya, semakin meninggalkan kesan menawan.

Dia adalah Bripda Dwike Hepto Januartika, atau akrab disapa Tika. Polwan muda dari Detasemen Gegana Satbrimob Polda Jawa Tengah. Ia mendapat tugas mengawal Fadia Arafiq selama menjalani persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang.

Baca Juga: Bupati Semarang Ngesti Nugraha Minta Hentikan Sementara Kajian PLTP di Kawasan Gedong Songo 

Tugas mengawal Fadia menjadi pengalaman tersendiri bagi Tika. Sejak persidangan perkara tersebut dimulai sekitar sebulan lalu, ia beberapa kali mendapat surat perintah untuk menjalankan tugas pengawalan. Dara asal Kebumen ini mengaku sudah sekitar tujuh hingga delapan kali menjalankan tugas pengawalan.

"Sudah mengawal delapan kali untuk Ibu Fadia Arafiq," ujarnya.

Meski demikian, Fadia merupakan terdakwa perkara korupsi pertama yang pernah dikawalnya. Dalam menjalankan tugas, Tika tidak memiliki tugas untuk mencampuri jalannya persidangan. Ia lebih memastikan kondisi tetap aman dan tidak terjadi kericuhan selama proses hukum berlangsung. Ia bertugas sejak penjemputan Fadia dari Lapas Kelas II A Semarang menuju Pengadilan Tipikor hingga kembali lagi ke penjara.

"Kita melekat, dalam arti kita menjaga untuk tidak ada kericuhan dan kita standby juga untuk keamanannya dari pengawalan Fadia Arafiq," katanya.

Pengawalan terhadap terdakwa pun tidak selalu dilakukan oleh orang yang sama. Menurut Tika, personel yang bertugas dapat bergantian sesuai surat perintah atau sprint yang diterbitkan.

"Kalau untuk ini saya hanya di-sprint-kan. Misalnya sidang hari ini saya di-sprint-kan hari ini, kemudian besok teman saya berangkat seperti itu," jelasnya.

Dari Judo ke Dunia Gegana

Tika bukanlah polisi yang sejak awal bercita-cita menjadi aparat melalui jalur umum. Perjalanannya justru berawal dari dunia olahraga, khususnya judo yang telah ditekuninya sejak duduk di bangku SMP.

Tika yang berdinas di Brimob Srondol ini mengatakan masuk Polri melalui jalur prestasi atlet pada 2024. Setelah dinyatakan lulus, Tika menjalani pendidikan Polwan di Ciputat hingga akhirnya menyelesaikan pendidikan pada 2025.

Baca Juga: Terungkap! Motif Dugaan Pembunuhan Mozza, Pacar Cemburu Lihat Chat dengan Pria Lain

Sebelum menjadi anggota Polri, Tika menempuh pendidikan SMP dan SMA melalui program olahraga pelajar Jawa Tengah. Saat itu, ia bersekolah di PPLP Jateng yang kala itu menginduk ke SMAN 11 Semarang, dan kini dikenal sebagai SMANKO Jateng.

"Saya dari lulus SMA mencoba mendaftar Polri melalui jalur prestasi atlet judo. Jalurnya Talent Scouting," katanya.

Judo tidak hanya mengantarkan Tika masuk menjadi anggota Polri. Olahraga tersebut hingga kini masih menjadi bagian dari kehidupannya. Di sela tugas, ia tetap berlatih dan sesekali mengikuti kejuaraan tingkat nasional.

"Saya belajar judo dari SMP. Sekarang masih menjalani latihan juga, kadang masih ikut kejuaraan di tingkat nasional," tuturnya.

Di balik tugasnya sebagai pengawal terdakwa, Tika juga harus menjalani rutinitas sebagai personel Detasemen Gegana Satbrimob Polda Jawa Tengah.

Kesehariannya di kesatuan tidak hanya diisi dengan tugas pengamanan. Ia bersama personel lainnya juga menjalani pembinaan fisik, pembelajaran, hingga latihan berbagai kemampuan khusus.

Di lingkungan Gegana, ia mengenal sejumlah materi seperti penanganan bahan kimia, biologi, radiologi dan nuklir (KBRN), penjinakan bom atau Jibom, hingga penanggulangan teror.

"Kami ada pembinaan fisik, terus pembelajaran juga. Dari markas Brimob Gegana itu ada KBRN, ada Jibom, ada Wan Teror. Kami mengulas materi-materi yang ada, pelatihan juga di lapangan, mengasah skill," ungkapnya.

Kesiapsiagaan menjadi bagian penting dalam pekerjaannya. Sebagai personel Gegana, mereka harus selalu siap ketika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk menghadapi situasi darurat.

"Kami modelnya standby," katanya.

Bagi Tika, pengalaman sebagai atlet turut membentuk dirinya menghadapi dunia kepolisian. Disiplin latihan, ketahanan fisik, hingga kemampuan mengendalikan diri menjadi bekal yang terus ia bawa.

Cita-cita Sejak Kecil

Menjadi Polwan ternyata bukan cita-cita yang baru muncul saat Tika memasuki usia dewasa. Sejak kecil, ia mengaku sudah memiliki keinginan untuk mengenakan seragam kepolisian. Prestasi di bidang judo kemudian menjadi jalan yang membantunya mewujudkan cita-cita tersebut.

"Kalau untuk menjadi Polwan, saya cita-cita dari kecil. Alhamdulillah bisa terwujud," ucapnya.

Kini, di usianya yang baru menginjak 20 tahun, Tika menjalani fase awal pengabdiannya sebagai anggota Polri. Ia harus membagi waktu antara tugas, latihan, dan berbagai kewajiban sebagai personel Brimob.

Menjadi Polwan, menurutnya, memiliki suka dan duka. Salah satunya adalah berhadapan dengan berbagai karakter orang yang berbeda. 
Namun, pengalaman bertemu dan berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai latar belakang menjadi salah satu hal yang ia sukai.

"Kita banyak mengenal luas masyarakat. Karakternya seperti apa, kita harus menanggapi seperti apa," ujarnya.

Sementara dukanya lebih banyak berkaitan dengan tuntutan pekerjaan yang menguras tenaga dan waktu.
"Kegiatannya pasti capek juga, pasti di lapangan terus," katanya.

Bagi Tika, perjalanan panjang dari tatami judo hingga ruang sidang menjadi bagian dari proses yang sedang ia jalani. Di usia yang masih sangat muda, ia kini belajar menjalankan tugas dengan satu prinsip sederhana yaitu tetap tenang, sigap, dan siap ketika negara membutuhkan. (*)

Editor : Baskoro Septiadi
Polwan atlet judo indonesia Fadia Arafiq