RADARSEMARANG.ID, Bagi sebagian orang, malam adalah waktu ternyaman untuk istirahat. Namun tidak bagi Arif. Justru saat gelap, ia berpetualang menyusuri tempat-tempat angker. Tujuannya satu: memburu hantu.
Namanya Arif Firhanusa. Orang-orang lebih mengenalnya dengan panggilan Arif. Usianya kini 55 tahun. Puluhan tahun lalu, ia dikenal sebagai jurnalis desk olahraga. Dunia lapangan, pertandingan, dan cerita para atlet pernah menjadi kesehariannya.
Namun, perjalanan hidup membawanya ke jalan yang berbeda. Arif memilih meninggalkan rutinitas sebagai wartawan dan mencoba peruntungan sebagai seorang youtuber. Bukan konten olahraga yang ia pilih. Bukan pula konten ringan yang biasa dibuat banyak orang. Ia justru memilih sesuatu yang penuh tantangan: berburu hantu. Ya, hantu.
Baca Juga: Begal Hantui Batang, Polisi Perketat Patroli di Tiga Kecamatan
Bermodal kamera kecil GoPro, Arif mulai merekam petualangannya mendatangi tempat-tempat yang dianggap angker. Pilihan yang bagi sebagian orang terdengar tidak masuk akal. Butuh keberanian ekstra, karena yang ia cari bukan sekadar cerita, melainkan pengalaman langsung di lokasi yang sering membuat orang lain enggan datang.
Alasannya sederhana. Konten horor memiliki pasar yang besar. Banyak orang penasaran dengan dunia kasatmata. Algoritma media sosial juga menunjukkan bahwa konten semacam ini memiliki peluang ditonton jutaan orang. Namun, ada satu hal yang membuat konten Arif berbeda. Ia tidak datang beramai-ramai. Tidak membawa banyak kru. Tidak pula membuat suasana menjadi gaduh. Ia datang sendirian.
“Modalnya berani dan nekat,” ujar Arif saat beberapa waktu lalu berkunjung ke redaksi Radar Semarang, media yang pernah menjadi tempatnya bekerja selama beberapa tahun.
Setiap konten yang ia unggah bisa ditonton jutaan pemirsa. Dari jumlah tayangan itu, Arif juga mendapatkan penghasilan dari YouTube. Satu kontennya bahkan pernah menembus hingga 3 juta views, yang membuatnya bisa mengantongi pendapatan jutaan rupiah. Namun, bagi Arif, angka-angka itu bukan satu-satunya alasan. Ada tantangan dan pengalaman yang membuatnya terus menjalani aktivitas tersebut.
Baca Juga: Limpasan Sungai Plumbon dan Tanggul Jebol Masih Hantui Warga Mangkang Semarang
Bagi Arif, tempat terbaik untuk berburu hantu adalah lokasi yang sudah lama ditinggalkan manusia. Ia menyebutnya tempat suwung. Tempat yang kosong, sunyi, dan tidak lagi dihuni. Logikanya sederhana. Tempat yang lama kosong diyakini menjadi tempat yang nyaman bagi makhluk-makhluk yang selama ini hanya dikenal lewat cerita.
Beberapa lokasi pernah ia datangi. Salah satunya bekas kampus sebuah perguruan tinggi di kawasan Sampangan, Semarang. Malam itu, sekitar pukul 01.00 dini hari, Arif datang dengan sepeda motornya. Ia tidak benar-benar sendirian. Seorang tetangganya, sebut saja Anton, ikut menemani.
Awalnya Anton hanya berniat menjaga sepeda motor Arif dari luar lokasi. Namun, rasa penasaran membuatnya berubah pikiran. Ia ingin tahu bagaimana Arif ketika berada di tempat yang selama ini dikenal angker.
“Pokoknya kamu di belakang saya. Kalau ada apa-apa jangan takut,” pesan Arif.
Dengan kamera di tangan, Arif mulai merekam. Ia mengarahkan kamera ke jam di handphone-nya. Pukul 01.00. Bukan tanpa alasan. Ia ingin menunjukkan kepada penonton bahwa ia benar-benar datang pada waktu yang dianggap paling rawan, bukan rekayasa.
“Tanda waktunya saya tunjukkan supaya penonton tahu kalau saya memang datang malam hari,” katanya.
Tangan kanannya menggenggam kamera. Tangan kirinya memegang senter. Perlahan ia memasuki bangunan bekas kampus itu. Gelap. Sepi. Udara terasa berbeda. Setiap sudut yang ia sorot dengan kamera, ia jelaskan kepada penonton. Ruangan kosong, lorong gelap, hingga bagian-bagian bangunan yang sudah lama tidak digunakan. Anton berjalan di belakangnya. Sesekali ia memegang bahu Arif. Namun Arif tetap fokus. Matanya menyapu setiap sudut ruangan. Ia mencoba menangkap apa pun yang mungkin muncul.
Hingga tanpa disadari, Anton sudah tidak berada di belakangnya. Arif baru sadar ketika hampir selesai menjelajahi lokasi. “Tahu-tahu dia sudah tidak ada di belakang saya. Setelah saya cari, ternyata dia pingsan di sudut ruangan,” kenangnya. Anton tergeletak. Pingsan.
Apa yang sebenarnya terjadi? Menurut Anton, saat itu ia mendengar suara aneh. Tubuhnya seperti disentuh sesuatu. Badannya terasa berat hingga akhirnya ia tidak sadarkan diri. Lokasi itu memang sudah lama dikenal angker. Beberapa warga sekitar mengaku pernah melihat sosok perempuan di area tersebut.
Selain bekas kampus, Arif juga pernah mendatangi sebuah rumah kosong di daerah Demak. Rumah itu memiliki cerita kelam. Konon, pernah ada seorang perempuan yang mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di tempat itu. Arif bahkan masih ingat, tali yang digunakan untuk bunuh diri masih menjuntai di atap.
“Saya lihat sendiri talinya masih ada,” ujarnya.
Malam itu menjadi salah satu pengalaman yang sulit ia lupakan. Saat fokus merekam, Arif merasa ada sesuatu yang menyentuh tubuhnya. Kemudian terdengar suara lembut memanggil.
“Mas…” Suara sederhana itu membuat jantungnya berdegup kencang. Arif merasa ada sosok yang memperhatikannya selama berada di rumah kosong itu. Meski begitu, ia mengaku tidak pernah takut dengan hantu. Justru rasa penasaran itulah yang membuatnya terus datang ke tempat-tempat seperti itu.
Setiap malam, sekitar pukul 01.00, ia biasa menyalakan motor dan menyusuri jalanan sepi. Mencari gedung kosong, rumah terbengkalai, atau tempat-tempat yang dianggap menyimpan cerita. Namun ada satu hal yang benar-benar ia takutkan. Bukan hantu. Melainkan ular.
“Yang saya takutkan kalau ngonten hanya ular,” katanya.
Sebab, banyak lokasi yang ia datangi berupa semak belukar dan bangunan tua yang tidak terawat. Ia khawatir tiba-tiba ada ular yang menyerang.
Sebelum masuk ke sebuah lokasi, Arif punya kebiasaan meminta izin terlebih dahulu kepada penjaga atau orang yang bertanggung jawab di tempat itu. Kalau diizinkan, ia masuk. Kalau tidak, ia memilih mundur.
“Itu prinsip yang saya pegang,” tuturnya.
Baca Juga: Berburu Harta Karun di New PM Johar Semarang, Ada Tas Mewah hingga Sepatu Branded
Namun perjalanan berburu hantu ternyata juga memiliki konsekuensi. Ada satu pengalaman yang membuat Arif akhirnya memilih berhenti sementara.
Suatu ketika, setelah membuat konten di sebuah lokasi yang menurut warga dihuni makhluk halus jenis genderuwo, kondisi tubuhnya berubah.
Sepulang dari lokasi itu, badannya terasa berat. Saat mengendarai motor, ia merasa aneh. Tidak merasakan lelah sama sekali.
“Tahu-tahu saya sudah sampai depan rumah. Rasanya seperti melayang saja naik motor,” katanya.
Setelah itu, kondisi tubuhnya mulai drop. Ia sering merasa mual, cepat lelah, dan meriang. Itu terjadi beberapa bulan. Arif lantas memeriksakan penyakitnya ke dokter kenalananya. Bahkan menjalani pemeriksaan rontgen. Namun hasilnya, secara medis tidak ditemukan masalah berarti. Ia menduga ada sesuatu yang mengikuti dirinya. Sesuatu yang tidak terlihat.
“Apakah itu genderuwo?” tanya jurnalis Radar Semarang. “Bisa jadi,” jawab Arif.
Kini, Arif memilih beristirahat dari aktivitas berburu hantu. Channel YouTube-nya pun sementara ia nonaktifkan karena sudah lama tidak mengunggah konten. Bukan karena kehilangan keberanian. Tetapi karena ia mulai mempertimbangkan banyak hal. Termasuk kekhawatiran keluarganya. “Istri saya juga keberatan saya ngonten hantu,” ujarnya. (*)
Editor : Tasropi