RADARSEMARANG.ID, Semarang - Di bulan suci Ramadan, suasana dapur di sebuah rumah di kawasan Dadapsari, Semarang Utara terasa berbeda.
Aroma mentega, gula, dan tepung yang dipanggang perlahan memenuhi ruangan. Toples-toples kosong mulai disiapkan, sementara loyang kue keluar masuk oven sejak pagi.
Di sinilah kisah Wahyuni Kue Lebaran terus berlanjut. Sebuah usaha rumahan yang hampir empat dekade setia menghadirkan kue kering dengan cita rasa klasik.
Berlokasi di Jalan Purwogondo II/259 D, Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara, dapur sederhana itu menjadi tempat lahirnya berbagai kue kering.
Suguhan yang telah menemani banyak keluarga dalam merayakan Ramadan dan Lebaran.
Bagi pemilik usaha, Wahyuni, menjaga rasa adalah hal yang tidak pernah ditawar. Sejak awal merintis usaha ini, ia ingin kue yang dibuat tetap terasa seperti buatan rumah.
“Sejak awal saya ingin kue ini benar-benar seperti buatan rumah, jadi kami tetap memakai resep yang sama dan tanpa bahan pengawet. Alhamdulillah sampai sekarang pelanggan masih setia,” ujar Wahyuni.
Resep yang digunakan bukan resep baru. Sebagian besar merupakan resep lama yang terus dijaga turun-temurun.
Kini, warisan rasa tersebut juga mulai dilanjutkan oleh anak-anaknya yang mengembangkan usaha serupa di Jakarta dan Semarang.
“Saya senang karena anak-anak ikut meneruskan usaha ini. Walaupun dibuat di kota berbeda, rasanya tetap sama karena menggunakan resep keluarga,” katanya.
Bagi banyak orang, kue kering bukan sekadar camilan. Ia menjadi bagian dari tradisi, dihidangkan saat berbuka puasa, menemani obrolan keluarga setelah tarawih, hingga tersusun rapi di meja tamu saat Hari Raya Idul Fitri.
Wahyuni memahami betul makna itu. Karena itu, setiap Ramadan permintaan kue biasanya meningkat.
Toples-toples berisi kue klasik seperti kastengel, nastar, dan putri salju menjadi pilihan favorit.
Selain itu, tersedia pula berbagai varian lain seperti kue mawar coklat, kue mawar warna, kue mawar original, kurma kacang, kurma coklat, hingga kue kacang yang memiliki tekstur ringan dan rasa seimbang.
Kue-kue tersebut tidak hanya hadir di momen Ramadan atau Lebaran. Banyak pelanggan yang juga memesan untuk suguhan tamu, camilan di kantor, hingga teman bersantai bersama keluarga.
Dengan harga Rp 75 ribu per toples, kue produksi Wahyuni tetap mempertahankan kualitas bahan baku dan proses pembuatan tradisional tanpa bahan pengawet.
Bagi Wahyuni, keberlangsungan usaha ini bukan semata soal bisnis. Lebih dari itu, ia melihatnya sebagai cara menjaga tradisi kecil yang selalu hadir di meja-meja keluarga saat momen kebersamaan.
Selama hampir 40 tahun, kepercayaan pelanggan menjadi bukti bahwa kue-kue dari dapur rumahan tersebut bukan hanya soal rasa, tetapi juga menghadirkan kehangatan yang selalu dinanti setiap Ramadan dan Lebaran. (ifa)
Editor : Baskoro Septiadi