Berita Semarang Raya Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto Jateng

Kisah Mak Kucing Kota Lama Semarang, Menghidupi Diri dan Puluhan Kucing Terlantar

Ida Fadilah • Kamis, 1 Januari 2026 | 15:17 WIB

 

Seorang anak kecil pengunjung Kota Lama melihat Subae
Seorang anak kecil pengunjung Kota Lama melihat Subae

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Di sudut kawasan Kota Lama, Semarang, seorang perempuan paruh baya dikenal dengan panggilan yang tak biasa: Mak Kucing.

Julukan itu bukan tanpa alasan. Sejak satu dekade terakhir, hidupnya nyaris tak terpisahkan dari kucing-kucing jalanan yang ia rawat, beri makan, dan selamatkan dari kerasnya jalanan kota.

Di tengah kerasnya hidup jalanan, Mak Kucing memilih berbagi, bukan menimbun.

Ia hidup sederhana, tidur di sekitar kawasan Kota Lama, dan mengabdikan hidupnya bagi makhluk-makhluk kecil yang sering kali terabaikan.

Semuanya bermula pada 2015. Kala itu, ia menemukan seekor anak kucing kecil yang kedinginan di tengah hujan. Usianya belum genap dua minggu.

Naluri kemanusiaannya mendorong ia mengambil dan merawat kucing itu hingga tumbuh besar. Sejak saat itu, kehidupannya berubah.

"Saya pelihara kucing itu dari awalnya tahun 2015. Ada kucing itu tadinya di di taman ya, pas hujan-hujan. Sekitar umur satu mingguan lebih. Jadi kayak 13 hari. Nah, itu kedinginan, kehujanan saya ambil. Sampai sekarang lah inilah saya jadi dipanggil Mak Kucing Semarang, gitu," jelasnya pada Jawa Pos Radar Semarang.

Saat ditemui, pemilik nama asli Subae'ah ini sedang memberi makan kucing. Ia mengenakan kaos kerah warna cokelat, senada dengan celananya. Rambutnya ia kucir cepol. Rambutnya ia tumpu dengan kaca mata.

Di tangan bertato itu, ia lantas mengeluarkan makanan kucing dari tempat tinggalnya di sekitar Taman Srigunting, Kota Lama.

Seketika, kucing-kucing liar itu mendekat. Mereka tahu 'ibu' mereka akan melakukan rutinitas.

"Ya seperti ini, begitu saya buka makanan mereka berkerumun. Senang sekali melihatnya," tambahnya.

Bagi Mak Kucing, merawat hewan bukan sekadar rasa iba, tetapi bentuk tanggung jawab sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan. Ia percaya, kebaikan tidak hanya ditujukan kepada manusia.

“Saya pesan kalau ada kucing jangan disia-siakan. Kalau bisa istilahnya sedekah ataupun kasih makan kucing. Jangan sama orang lain saja, sama hewan juga, karena sama-sama ciptaan Tuhan ya," tambahnya.

Kehadiran kucing baginya sebagai teman hidup. Pasalnya, ia hidup sendiri tanpa suami dan anak.

Sehari-hari Mak Kucing menggantungkan hidup dari jasa fotografi keliling. Ia memotret wisatawan yang berkunjung ke Kota Lama.

Dari penghasilan itulah, ia menyisihkan sebagian besar untuk memberi makan kucing-kucing jalanan yang datang dan pergi.

“Saya hidup sendirian. Jadi enggak anak, enggak suami. Jadi istilahnya saya itu mengandalkan pekerjaan saya kayak foto-foto segala macam. Sebagian itu nanti saya belikan pakan kucing," cerita dia sambil mengelus lembut hewan berkaki empat itu.

Jumlah kucing yang ia rawat tidak pernah pasti. Ada yang datang, ada yang pergi, ada pula yang mati. Namun hampir setiap hari, puluhan kucing bergantung pada uluran tangannya.

"Saya enggak bisa ngitung jumlahnya, namanya datang pergi datang pergi. Yang dibilang datang pergi datang pergi meninggal," ucap perempuan 52 tahun itu.

Meski penghasilan tak tetap alias tergantung wisatawan yang mau memakai jasanya, namun ia tetap menyisakan rejeki untuk hewan ini.

Setiap hari, ia menghabiskan sekitar Rp 150 ribu hanya untuk pakan kucing.

Jumlah yang tidak kecil bagi seseorang yang hidup dari penghasilan harian yang tak menentu.

“Saya enggak cukup loh, Mbak. Rp 150 seharinya, setiap hari," kata dia.

Bahkan, saat uang tidak ada, utang menjadi pilihan terakhir, istilahnya gali lobang tutup lobang.

Namun bagi Mak Kucing, kucing-kucing itu tetap harus makan.

“Ya alhamdulillah dibilang kurang ya kurang, enggak ya enggak. Gali lubang tutup lubang kalau enggak ada uang ya hutang. Ada uang ya lebih ya sudah," ungkapnya.

Mak Kucing tak memungkiri saat merawat hewan memiliki tantangan terbesar, yakni keselamatan mereka.

Jalan raya, kendaraan melaju cepat, dan lingkungan yang ramai sering kali merenggut nyawa anak-anak kucing.

Tak jarang, Mak Kucing juga harus berhadapan dengan cibiran. Ada yang menganggapnya tak masuk akal, ada pula yang mengeluhkan bau dan kotoran kucing. Namun ia memilih tetap fokus pada apa yang diyakininya benar.

Saat ditanya sampai kapan akan merawat kucing-kucing itu, jawabannya singkat namun penuh makna.
“Ya, insyaallah jangka panjang umur saya. Istilahnya selama masih sehat, rezeki lancar ya akan sampai tua, sampai mati pelihara kucing," pungkasnya.

Di balik hiruk pikuk wisata Kota Lama, Mak Kucing menjadi pengingat bahwa kemanusiaan bisa tumbuh dari kepedulian paling sunyi, dari semangkuk makanan untuk seekor kucing jalanan. (ifa)

Editor : Baskoro Septiadi
#Kota Lama Semarang #KUCING