RADARSEMARANG.ID, Bencana banjir rob di pesisir Demak, utamanya di wilayah Kecamatan Sayung sudah ada sejak akhir 2004 silam.
Kondisi ini berdampak serius bagi kelangsungan hidup warga sekitar hingga kini. Seperti apa?
Sebuah rumah lawas di kawasan Perumahan Sriwulan, Desa Sriwulan, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah kondisinya memprihatinkan. Posisinya lebih rendah dari jalan kampung.
Teras rumah yang penyangga atapnya dari beton bertulang itu terlihat jelas bekas karatan akibat korosi terlalu lama oleh air laut.
Urukan tanah padas juga baru saja diratakan untuk menyambungkan jalan dengan pintu masuk rumah.
Rupanya, tanah padas juga diratakan di dalam ruangan rumah berukuran 5x12 meterpersegi ini.
Itulah kondisi kediaman Sulistyowati, 54, warga RT 7 RW 6 Desa Sriwulan Sayung.
Dirumah kecil yang temboknya rontok akibat kebanjiran air laut ini, Sulistyowati sedang momong cucunya.
Raut wajahnya tampak sedih lantaran tempat tinggalnya tidak layak huni lagi terdampak rob bertahun-tahun.
"Saya menempati rumah ini sebelum ada rob seperti sekarang. Dulu, Kampung Sriwulan inu aman-aman saja. Namun, tak tahunya kondisinya sudah seperti sekarang ini. Banjir rob tiap hari,"jelasnya.
Meski rob datang tidak menentu waktunya, namun warga kini sudah tahu apa yang harus dilakukan saat air laut itu naik.
"Digrup WA RT biasanya akan ada pengumuman jadwal rob. Utamanya saat rob tinggi. Kalau sudah diumumkan, kita langsung keluar rumah cari tempat yang aman. Biasanya sih antara 1 hingga 2 jam rob turun lagi,"ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang kemarin.
Sulistyowati menambahkan, sampai sekarang sudah berupaya meninggikan rumahnya tiga kali.
Rumah ditinggikan dengan cara diuruk dengan tanah padas seiring dengan peninggian jalan depan rumah. Jika rumah tidak diuruk, bisa menjadi kolam air laut.
Menurutnya, ketinggian air rob diangka 60 dinggap biasa. Namun, kalau sudah diangka 110, air laut naik tinggi dan harus keluar rumah.
"Sudah bertahun-tahun kena rob. Jadi, hafal perilaku saat datang rob,"kata dia.
Meski rumahnya tidak layak huni lagi, namun kebutuhan air bersih masih bisa dipenuhi dari saluran pam dan saluran air yang dibuat RW.
Warga Sriwulan lainnya, Ulil Albab, 32, menuturkan, dampak rob Sayung diakui telah merubah kebiasaan aktifitas warga. Kualitas hidup berkurang lantaran lingkungan sanitasi yang tidak memadai akibat bertahun-tahun terdampak rob.
Ulil mengatakan, rumahnya yang ditinggali kebetulan berada di tepi jalan raya Pantura Sayung.
"Jalan raya Pantura Sayung ini sudah lama langganan terendam rob tiap hari. Kalau sudah begini arus lalulintas Surabaya-Jakarta lewat Demak macet panjang,"katanya.
Dia menuturkan, sungai kecil di tepi jalan raya pernah dikeruk sekali. Namun, air rob tetap tinggi. Tidak terlihat hasilnya.
"Secara umum, dampak rob bagi warga sangat berat,"imbuhnya.
Di Desa Sriwulan yang paling parah terjadi di Dukuh Nyangkringan dan Perumahan Tahap 3. Akses jalan ke kampung itu putus.
Warga terpaksa jalan kaki jika keluar dan pulang ke rumahnya. Sepeda motor dititipkan di kampung sebelah. "Warga pun kalau malam sulit tidur. Ruangan tidur kemasukan air,"katanya.
Siklus air rob, kata dia, selama tiga bulan ini datang tiap malam habis maghrib hingga pukul 22.00.
Surut sebentar lalu naik lagi pukul 02.00 dihinari sampai subuh. Pukul 10.00 naik lagi sampai siang.
"Jalan raya arah Demak ke Semarang tidak bisa kering sehingga kendaraan berenang di lautan rob,"ujar Ulil.
Yoga, 45, warga Desa Sriwulan mengakui banyak sepeda motor warga yang karatan terdampak rob tiap hari.
Motor para karyawan pabrik maupun warga sekitar kerap dibawa ke bengkelnya untuk diperbaiki.
"Motor warga banyak yang karatan. Kadang mesinnya terpaksa dibongkar lantaran karatan kronis, Yang tidak tahan lama itu rangka motor. Cepat keropos kena rob,"jelas dia.
Saat rob tinggi, juga banyak sepeda motor yang mogok di jalan.
Nunung, 50, warga RT 2 RW 7 Desa Sriwulan juga menyampaikan pengalamannya selama menjadi korban banjir rob.
"Selama 18 tahun disini, rumah saya sudah tiga kali saya tinggikan,"katanya. Biaya meninggikan rumah pun tidak sedikit.
"Sekali meninggikan rumah bisa habis Rp 30 jutaan. Buat beli tanah padas, bongkar pintu dan lainnya. Sekali meninggikan setengah meter dari permukaan jalan yang juga ditinggikan,"paparnya.
Peninggian rumah warga korban rob menjadi gambaran umum di pesisir Demak akibat bencana banjir rob yang sudah berlangsung bertahun-tahun.
Ketua DPRD Demak Zayinul Fata berharap, rob bisa diatasi segera oleh pemerintah dengan pembangunan tanggul laut dari Sayung sampai Wedung perbatasan Jepara.
"Selagi tanggul laut tidak dibangun memanjang antara Demak bagian barat atau Sayung sampai Kecamatan Wedung, maka rob akan tetap menghantui warga pesisir Demak,"katanya.
DPRD Demak telah mendorong Pemkab Demak untuk bergerak cepat berkoordinasi dengan pemerintah Provinsi Jateng dan pusat agar rob cepat tertangan dengan baik.(*)
Editor : Tasropi