Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Kisah Febri Ramdani, 300 Hari Mencari Jalan Keluar dari Suriah Rindu Ketemu Ibu, Malah Terjebak Propaganda ISIS

Khafifah Arini Putri • Selasa, 10 Juni 2025 | 17:39 WIB

 

Febri Ramdani di sela Pemutaran Film Dokumenter
Febri Ramdani di sela Pemutaran Film Dokumenter
 

RADARSEMARANG.ID - Niat awal Febri Ramdani sederhana, menemui sang ibu dan kakaknya yang terbujuk janji pengobatan gratis di Suriah. 

Tak disangka, perjalanan tahun 2016 itu justru menjerumuskannya ke dalam pusaran propaganda radikalisme dari ISIS.

Ibunya adalan mantan aparatur sipil negara (ASN) di sebuah kementerian. Sang ibu kecewa dengan sistem birokrasi di Indonesia yang banyak korupsi dan ketidakadilan.

Ibunya yang muak dengan praktik kotor itu pun memilih resign, hingga akhirnya membawa kakaknya yang sedang sakit setelah diiming-imingi layanan kesehatan gratis di Suriah.

"Kakak saya lehernya sudah bolong (terkena TBC tulang). Mereka pergi bukan untuk jihad, tapi untuk berobat," bebernya. 

Namun harapan itu sirna ketika mereka menyaksikan sendiri sisi kelam kelompok tersebut. Selama 300 hari, Febri hidup dalam bayang-bayang pelarian. Keputusannya menyusul keluarga justru memperberat keadaan. 

"Kami dianggap murtad karena ingin keluar dari kelompok mereka. Akses kabur makin sulit," katanya.

 Baca Juga: BlackPink Akan Kembali Gelar Konser di SUGBK, Ini Info Penjualan Tiket dan Harganya

Kendati sulit untuk bebas, Febri dan keluarga tak menyerah. Setelah berbulan-bulan berkoordinasi dengan KBRI Damaskus dan tokoh-tokoh diplomatik.

Akhirnya mereka berhasil melarikan diri. Febri dan keluarganya menyerahkan diri kepada Syrian Democratic Forces (SDF), kelompok bersenjata yang berada di bawah naungan Amerika Serikat.

Selama dua bulan mereka tinggal di kamp SDF hingga akhirnya proses repatriasi ke Indonesia berhasil dilakukan, melalui jalur diplomatik panjang yang melibatkan persetujuan dari menteri luar negeri hingga presiden.

 Baca Juga: Kronologi Konflik Warga di Sukorejo Gunungpati Semarang, Spanduk Penolakan Terhadap Keluarga Dias Kuswoyo Ditempel di Wilayah Kampung

Setibanya di Indonesia, perjuangan belum selesai. Ia dan keluarga harus berperang dengan stigma serta kecurigaan masyarakat menjadi konsekuensi yang harus mereka tanggung. 

Namun, Febri memilih untuk berdamai. Ia menjalani rehabilitasi di bawah naungan BNPT selama satu bulan.

Saat ini, Febri aktif berkampanye lewat platform RuangNgobrol, menyuarakan pesan-pesan perdamaian dengan pendekatan transmedia storytelling. 

Ia juga menulis artikel, membuat video, film, podcast, dan buku. Film Road to Resilience menjadi bukti perjalanannya melawan radikalisme selama 300 hari.

Pengalaman hidup Febri menjadi pengingat bahwa terorisme tidak selalu bermula dari pemahaman agama yang sempit. Kadang, ia datang dari rasa kehilangan, keputusasaan, dan janji kehidupan yang lebih baik. 

"Saya hanya ingin bertemu ibu saya. Tapi malah terjebak 300 hari di neraka yang diklaim sebagai surga," bebernya. (kap) 

 

Editor : Baskoro Septiadi
#road to resilience #suriah