Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Suka Duka Guru Honorer, Sebuah Cerita dari Reda Nugraeni Sukoco

Magang Radar Semarang • Senin, 25 November 2024 | 20:44 WIB

 

Transisi dari mahasiswa menjadi guru profesional memberikan banyak pembelajaran berharga
Transisi dari mahasiswa menjadi guru profesional memberikan banyak pembelajaran berharga

RADARSEMARANG.ID, MENGAJAR bukan sekadar profesi, tetapi sebuah panggilan jiwa.

Hal ini tercermin dari perjalanan seorang guru honorer bernama Reda Nugraeni Sukoco, yang akrab disapa Bu Reda.

Ia telah mendedikasikan dirinya selama hampir tiga tahun sejak Mei 2022 di salah satu SMP negeri di Magelang.

Selama menjadi pendidik, Bu Reda merasakan beragam tantangan dan kebahagiaan yang menghiasi perjalanan kariernya.

"Beradaptasi dari kehidupan mahasiswa menuju profesi guru profesional memberikan banyak pengalaman dan pelajaran berharga," tuturnya.

 

Ia menjelaskan bahwa pengalaman mengajar secara langsung sangat berbeda dengan Program Latihan Profesi (PLP) semasa kuliah.

Perbedaan signifikan terletak pada tanggung jawab pembuatan perangkat pembelajaran seperti RPP, modul, program tahunan (prota), dan program semester (promes).

Guru yang kini mengajar di tingkat SMP ini mengakui bahwa tantangan terbesar di awal karirnya adalah membangun kepercayaan diri dalam menghadapi siswa.

"Awalnya ada kekhawatiran apakah siswa bisa menerima cara mengajar kita dan apakah kita mampu membimbing mereka hingga kenaikan kelas," tuturnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, ia mengaku bersyukur dengan penghasilan yang diterimanya.

Dengan gaji sekitar Rp1.500.000 per bulan ditambah penghasilan dari les privat, ia merasa cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan masih bisa menabung.

Yang lebih membahagiakan, di Magelang tidak ada diskriminasi antara guru honorer, P3K, dan PNS dalam hal seragam dan perlakuan.

Selama berkarir, ia telah mengembangkan diri melalui berbagai pengalaman, termasuk menjadi tentor di beberapa bimbingan belajar seperti AHE dan Orion.

Ia bahkan pernah diterima di Ruangguru's Brain Academy, meskipun akhirnya memutuskan untuk fokus pada tugas utamanya sebagai guru.

Prestasi yang membanggakan adalah kesempatannya berbagi praktik baik penggunaan aplikasi Kuisis di hadapan rekan-rekan guru.

"Tidak menyangka bisa mengajar di sekolah tempat saya dulu bersekolah dan diberi kesempatan untuk berbagi pengalaman," ungkapnya dengan bangga.

Harapannya kepada pemerintah adalah agar sistem rekrutmen P3K dan PNS dapat dipersiapkan lebih matang, termasuk kejelasan syarat pendaftaran dan penambahan formasi untuk guru mata pelajaran.

"Semoga tidak ada lagi penundaan jadwal dan perubahan persyaratan yang mendadak," harapnya.

Meski terkadang merasa lelah, ia menegaskan bahwa interaksi dengan siswa selalu memberinya energi positif.

"Di setiap kelas pasti ada siswa dengan tingkah unik yang membuat kita semangat," tutupnya sambil tersenyum.(mg34)

Editor : Tasropi
#Reda Nugraeni Sukoco #kisah perjuangan guru #Kesejahteraan guru honorer #Guru Honorer