Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Mengenal Sendang Stoom, Sumber Air Bersih Masa Kolonial di Wonotingal

Figur Ronggo Wassalim • Sabtu, 20 Juli 2024 | 16:54 WIB

 

BEKAS NISAN : Sejumlah warga memanfaatkan air di Sendang Stoom yang dipenuhi batu bekas bongpay.
BEKAS NISAN : Sejumlah warga memanfaatkan air di Sendang Stoom yang dipenuhi batu bekas bongpay.
 

RADARSEMARANG.ID, Di Jalan Tegalsari Stoom RT 10 RW 3 Wonotingal, Candisari, terdapat Sendang Stoom.

Sumber air bersih dari masa kolonial Belanda ini masih digunakan warga hingga sekarang. 

Gemericik air terdengar di bawah rindangnya pohon. Terlihat, sejumlah warga memanfaatkan sumber air yang berusia ratusan tahun tersebut. 

 Baca Juga: Kental Dengan Sejarah, Sendang Kyai Ngerik Semarang Dijadikan Tempat Wisata

Mereka menimba untuk keperluan sehari-hari. Ada pula sebuah pikap yang mengangkut sejumlah jeriken untuk diisi air dan dibawa ke daerah Tembalang.

Di sumber air tersebut, empat pancuran pipa mengalirkan air yang sangat segar dan jernih secara terus-menerus.

Jika diperhatikan pada bagian bawah, sejumlah batu kotak dengan aksara Tiongkok digunakan untuk pijakan kaki saat menimba air.

Batu-batu ini merupakan bekas bongpay atau nisan kuburan.

Maklum, daerah Tegalsari dan sekitarnya ini dulu merupakan bekas pemakaman Tionghoa sebelum dipindah ke tempat lain karena perkembangan wilayah permukiman Kota Semarang.

Sesepuh masyarakat Tegalsari Stoom RT 10 RW 3 Wonotingal Sunarto, menceritakan, Sendang Stoom sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

Nama Stoom dari bahasa Belanda, karena dulunya ada mesin untuk mengalirkan air dari sendang ke kolam renang Tanah Putih dan dekat Stadion Diponegoro.

Sejak zaman Belanda hingga sekarang, sumber air tetap dimanfaatkan oleh warga dari tiga wilayah kelurahan, yakni Kelurahan Candi, Tegalsari, dan Wonotingal.

"Bahkan, hingga Tembalang memanfaatkan airnya dari sini," ujarnya.

Warga biasanya memanfaatkan air dari Sendang Stoom mencuci, mandi, dan keperluan lainnya.

Meskipun kemarau, air tetap mengalir. Karena mata air berada di atas tebing.

"Sehingga airnya tidak berkurang, kalau musim hujan pancurannya tambah besar," tandasnya.

Ketua RT 10 RW 3 Wonotingal Rusno selalu mengajak warga untuk mengadakan kerja bakti setiap minggunya.

Sehingga kebersihan tetap terjaga. Setiap tahunnya warga menggelar merti desa atau tradisi resik-resik Sendang Stoom menjelang Ramadan untuk melestarikan budaya. 

Lurah Wonotingal Soleh mengungkapkan, untuk melestarikan Sendang Stoom, pihaknya mencoba untuk memanfaatkan sumber air agar tidak terbuang sia-sia.

Seperti pembuatan tandon air melalui Musrenbang.

"Karena pada malam hari, air ini mengalir sangat deras, sehingga harus dimasukkan ke tandon," ujarnya.

Ke depan, tandon air tersebut akan disalurkan ke warga melalui pipanisasi hasil Musrenbang.

"Mungkin tahun depan, karena tandonnya sudah ada," imbuhnya. (fgr/ton)

Editor : Tasropi
#masa kolonial #Sendang Stoom #Jalan Tegalsari #pemakaman Tionghoa