Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Seri Sejarah Semarang! Hancurkan Pasukan Gurkha di Gunungpati, Pasukan S Soediarto Dihadiahi Sarung

Pratono • Sabtu, 20 April 2024 | 16:00 WIB
Meski terluka, Soediarto menolak dievakuasi dan tetap memimpin pertempuran hingga pasukan musuh hancur.
Meski terluka, Soediarto menolak dievakuasi dan tetap memimpin pertempuran hingga pasukan musuh hancur.

RADARSEMARANG.ID-Pertempuran di Sumur Jurang, Gunungpati, Kota Semarang menunjukkan jiwa kepemimpinan S Soediarto dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pasukan khusus pimpinan Soediarto berkekuatan 1 seksi atau sekitar 50 pasukan ini berhasil menghancurkan tentara Gurkha yang tergabung dalam pasukan Inggris.

Berbekal kecerdikan Soediarto yang memanfaatkan orang-orangan sawah, pasukan Gurkha bisa saling tembak antarkawan.

Dalam pertempuran Sumur Jurang, 6 anggota pasukan khusus gugur dan beberapa terluka, termasuk Soediarto. Peluru mendekam di dada dan paha.

Tapi Soediarto menolak, ketika anak buahnya Letnan Satu Rasmin dan Letnan Satu Soedarmanto ingin menariknya mundur ke garis belakang agar mendapatkan perawatan.

Acting Kepala Djawatan Penerangan Kota Besar Semarang Soekirno dalam buku Semarang (1956) menuliskan, Soediarto berkata : “Teruskanlah pertempuran ini. Jangan mundur sebelum musuh hancur. Janganlah aku diangkat ke belakang selama aku masih bisa memberi komando, biarkanlah aku di sini.”

Pasukan Soediarto juga mendapatkan senjata rampasan berupa 2 Bren, 3 Owen, 6 Stengun, 57 senapan karabin, granat dan makanan perbekalan.

Buku Sejarah Perjuangan Masyarakat Kabupaten Kendal yang disusun Pemkab Kendal pada 1992 menuliskan, atas keberhasilannya ini, Komandan Sektor Medan Selatan Letkol Panji menghadiahkan 40 potong sarung untuk pasukan Soediarto.

Pertempuran Sumur Jurang yang melambungkan nama Soediarto berawal saat pertengahan Desember 1945, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Republik Indonesia ingin memberikan pelajaran pada pasukan Sekutu yang telah menduduki Semarang sejak 20 Oktober 1945.

Muncul ide untuk merusak dan menghentikan aliran air bersih dari sumber air Moedal ke Kota Semarang.

Pasukan Resimen II Divisi IV TKR yang berkedudukan di Boja, Kabupaten Kendal menyiapkan hadiah kejutan untuk pasukan Sekutu yang didominasi tentara Inggris dari kesatuan Gurkha.

Prajurit Gurkha terkenal dengan keuletannya dalam berperang selama Perang Dunia II.

Pimpinan tentara Indonesia sadar, kekuatan yang dimiliki tak seimbang dibandingkan musuh. Dalam buku Album ke-1 Kenangan Perjuangan Bersenjata : Medan Barat Semarang-Front Terdepan Jrakah dituliskan, pimpinan TKR membentuk pasukan khusus untuk menyerang sumber air Moedal.

Kapten S Soediarto ditunjuk sebagai pimpinan pasukan khusus ini.

Buku yang disusun Letda Purn S Soeparto dan diterbitkan Yayasan Brigjen S Soediarto Semarang pada 1986 ini menyebutkan, pasukan khusus pimpinan S Soediarto berkekuatan 1 seksi atau sekitar 50 pasukan.

Dari markas di Boja hingga Sumur Jurang, pasukan harus berjalan kaki sekitar 15 kilometer.

Perhitungan Soediarto tepat. Begitu aliran air bersih ke Semarang terhenti, musuh langsung mengirimkan pasukan untuk mengecek ke Sumur Jurang.

Sekitar pukul 10.00, sekitar 2 regu pasukan musuh tiba untuk melacak mengapa pasokan air di Semarang macet. Setiap regu beranggotakan sekitar 12 orang.

“Mereka terdiri atas Tentara Serikat serdadu-serdadu Inggris dengan Gurkha dan India Ubel-ubel dengan dibantu serdadu-serdadu Jepang yang sudah kalah perang,” tulis Soeparto yang tak lain kakak sulung Soediarto.

India Ubel-ubel adalah julukan bagi prajurit Gurkha kelompok Sikh yang senang memakai sorban kain.

Segera saja terjadi pertempuran sengit antara pasukan Sekutu dengan pasukan khusus pimpinan Soediarto yang dibagi dalam 3 regu.

Karena pasukan Soediarto lebih siap menyambut musuh, mereka berada di atas angin.

Pasukan Gurkha terus terdesak meminta bantuan induk pasukan mereka yang berada di Pudakpayung.

Bombardir peluru artileri menghajar posisi pasukan Soediarto.

Kepemimpinan Soediarto teruji dalam pertempuran Sumur Jurang ini.

Tak menunggu lama, bala bantuan musuh sebesar 3 regu tiba di lokasi pertempuran.

Soediarto yang memimpin regu A pasukan khusus bersiasat pura-pura mundur.

Padahal ia memancing pergerakan musuh agar masuk dalam jangkauan senapan regu C pasukan khusus.

Begitu masuk dalam jangkauan, pasukan musuh langsung dihajar tembakan dari dua arah.

Dalam waktu singkat, korban di pihak Sekutu berjatuhan karena diserang dari sisi kiri dan kanan.

Rupanya Sekutu belum menyerah. Pasukan bantuan dikirim kembali.

Tiga regu pasukan musuh yang masih segar masuk ke wilayah Sumur Jurang.

Dihitung secara jumlah dan persenjataan, pasukan Sekutu jauh lebih kuat dari pasukan khusus Soediarto.

Tapi perwira muda ini tak hilang akal. Lokasi pertempuran berada di dekat hamparan sawah yang sudah menguning.

Begitu pasukan bantuan musuh mendekati kawannya yang terdesak pada jarak sekitar 50-70 meter, Soediarto memerintahkan anak buahnya untuk menarik tali orang-orangan sawah bercaping yang berada di antara dua kelompok pasukan musuh.

Rupanya gerakan orang-orangan sawah ini mengejutkan pasukan Sekutu.

Langsung saja mereka menghamburkan peluru ke arah orang-orangan sawah tersebut, tanpa tahu bahwa ada kawan mereka di belakangnya.

Tentu saja tembakan tersebut langsung dibalas. Akhirnya dua kelompok pasukan musuh tersebut saling tembak.

Rupanya alat komunikasi pasukan musuh rusak sehingga mereka tak bisa saling menghubungi.

Begitu pasukan musuh hancur dalam “perang saudara”, Soediarto kembali melancarkan serangan.

Tak ayal musuh semakin kocar-kacir dan mundur meninggalkan kerugian besar.

Mayat-mayat pasukan Gurkha yang termasyhur dalam Perang Dunia II, bergelimpangan di Sumur Jurang. Sisa pasukan langsung mundur melarikan diri. (*)

 

 

Editor : Pratono
#Soediarto #kemerdekaan indonesia #inggris #KOTA SEMARANG #Gunungpati #Pasukan Gurkha #pasukan sekutu