RADARSEMARANG.ID-Namanya diabadikan sebagai salah satu nama jalan di Kota Semarang. Namun masih banyak yang tak tahu siapa sosok Brigjen S Soediarto.
Tentara muda yang memimpin perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Di Gunungpati, Kota Semarang, S Soediarto dan anak buahnya pernah menghancurkan pasukan Gurkha.
Korps pasukan dari Inggris yang termasyhur karena kegigihannya dalam memenangkan perang dunia II tak berkutik menghadapi siasat perang S Soediarto.
Sebuah bangunan tua masih berdiri kokoh di tengah rerimbunan pohon wilayah Sumur Jurang Kelurahan Sumurejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
Di atas pintu tertulis kata Brongebouw Moedal dan angka 1911 sebagai tanda tahun beroperasinya bangunan tersebut.
Pagar kawat berduri yang mengelilingi, menandakan tak boleh sembarangan dimasuki orang.
Bangunan yang didominasi warna cat hitam dan putih itu merupakan salah satu pengolahan sumber air bersih untuk warga Kota Semarang.
Aset PDAM Tirta Moedal. Tujuhpuluh empat tahun yang lalu, sebuah pertempuran dahsyat terjadi di tempat ini.
Pertengahan Desember 1945, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Republik Indonesia ingin memberikan pelajaran pada pasukan Sekutu yang telah menduduki Semarang sejak 20 Oktober 1945.
Muncul ide untuk merusak dan menghentikan aliran air bersih dari sumber air Moedal ke Kota Semarang.
Pasukan Resimen II Divisi IV TKR yang berkedudukan di Boja, Kabupaten Kendal menyiapkan hadiah kejutan untuk pasukan Sekutu yang didominasi tentara Inggris dari kesatuan Gurkha.
Pasukan Gurkha terkenal dengan keuletannya dalam berperang selama Perang Dunia II.
Pimpinan tentara Indonesia sadar, kekuatan yang dimiliki tak seimbang dibandingkan musuh.
Dalam buku Album ke-1 Kenangan Perjuangan Bersenjata : Medan Barat Semarang-Front Terdepan Jrakah dituliskan, pimpinan TKR membentuk pasukan khusus untuk menyerang sumber air Moedal.
Kapten S Soediarto ditunjuk sebagai pimpinan pasukan khusus ini.
Buku yang disusun Letda Purn S Soeparto dan diterbitkan Yayasan Brigjen S Soediarto Semarang pada 1986 ini menyebutkan, pasukan khusus pimpinan S Soediarto berkekuatan 1 seksi atau sekitar 50 pasukan.
Dari markas di Boja hingga Sumur Jurang, pasukan harus berjalan kaki sekitar 15 kilometer.
Perhitungan Soediarto tepat. Begitu aliran air bersih ke Semarang terhenti, musuh langsung mengirimkan pasukan untuk mengecek ke Sumur Jurang.
Sekitar pukul 10.00, sekitar 2 regu pasukan musuh tiba untuk melacak mengapa pasokan air di Semarang macet.
Setiap regu beranggotakan sekitar 12 orang.
“Mereka terdiri atas Tentara Serikat serdadu-serdadu Inggris dengan Gurkha dan India Ubel-ubel dengan dibantu serdadu-serdadu Jepang yang sudah kalah perang,” tulis Soeparto yang tak lain kakak sulung Soediarto.
India Ubel-ubel adalah julukan bagi prajurit Gurkha kelompok Sikh yang senang memakai sorban kain.
Segera saja terjadi pertempuran sengit antara pasukan Sekutu dengan pasukan khusus pimpinan Soediarto yang dibagi dalam 3 regu.
Karena pasukan Soediarto lebih siap menyambut musuh, mereka berada di atas angin.
Pasukan Gurkha terus terdesak meminta bantuan induk pasukan mereka yang berada di Pudakpayung.
Bombardir peluru artileri menghajar posisi pasukan Soediarto.
Kepemimpinan Soediarto teruji dalam pertempuran Sumur Jurang ini.
Tak menunggu lama, bala bantuan musuh sebesar 3 regu tiba di lokasi pertempuran. S
oediarto yang memimpin regu A pasukan khusus bersiasat pura-pura mundur.
Padahal ia memancing pergerakan musuh agar masuk dalam jangkauan senapan regu C pasukan khusus.
Begitu masuk dalam jangkauan, pasukan musuh langsung dihajar tembakan dari dua arah.
Dalam waktu singkat, korban di pihak Sekutu berjatuhan karena diserang dari sisi kiri dan kanan.
Rupanya Sekutu belum menyerah. Pasukan bantuan dikirim kembali.
Tiga regu pasukan musuh yang masih segar masuk ke wilayah Sumur Jurang.
Dihitung secara jumlah dan persenjataan, pasukan Sekutu jauh lebih kuat dari pasukan khusus Soediarto.
Tapi perwira muda ini tak hilang akal.
Lokasi pertempuran berada di dekat hamparan sawah yang sudah menguning.
Begitu pasukan bantuan musuh mendekati kawannya yang terdesak pada jarak sekitar 50-70 meter, Soediarto memerintahkan anak buahnya untuk menarik tali orang-orangan sawah bercaping yang berada di antara dua kelompok pasukan musuh.
Rupanya gerakan orang-orangan sawah ini mengejutkan pasukan Sekutu.
Langsung saja mereka menghamburkan peluru ke arah orang-orangan sawah tersebut, tanpa tahu bahwa ada kawan mereka di belakangnya.
Tentu saja tembakan tersebut langsung dibalas.
Akhirnya dua kelompok pasukan musuh tersebut saling tembak.
Rupanya alat komunikasi pasukan musuh rusak sehingga mereka tak bisa saling menghubungi.
Begitu pasukan musuh hancur dalam “perang saudara”, Soediarto kembali melancarkan serangan.
Tak ayal musuh semakin kocar-kacir dan mundur meninggalkan kerugian besar.
Mayat-mayat pasukan Gurkha yang termasyhur dalam Perang Dunia II, bergelimpangan di Sumur Jurang.
Sisa pasukan langsung mundur melarikan diri. (*)
Editor : Pratono