RADARSEMARANG.ID, Berkecukupan dari segi materi, nyatanya tak cukup menjadi fondasi dalam membangun bahtera rumah tangga.
Dibutuhkan komitmen dan saling menghargai antarpasangan. Sehingga pernikahan bisa berjalan adem ayem, nyaman, dan harmonis. Saat ada masalah mencari solusi bersama serta saling menguatkan.
Namun hal ini tidak terjadi pada John Dori dan Lady Sandi. Pasangan ini sudah 13 tahun menikah. Ekonomi mapan, kerjaan lancar, mertua juga baik.
Tapi rumah tangga mereka tetap saja koyak. Bukan pula karena orang ketiga, atau KDRT. Melainkan karena Lady tidak pernah menghargai suaminya.
Sebagai suami, John merasa harga dirinya diinjak-injak istri. Lady tak pernah menghormatinya.
Apalagi mengurusnya dengan sepenuh hati. Yang ada, keduanya sering cekcok. Penyebabnya karena penghasilan Lady lebih besar dari John. Karena itu ia selalu semena-mena kepada suaminya.
“Gara-gara uangnya lebih banyak saja sombong. Nggak pernah mau megang kerjaan dapur sama anak,” kata John.
Ayah dari dua orang anak ini mengaku istrinya tak pernah mengurus sang anak. Merasa sudah membayar asisten rumah tangga (ART), Lady melupakan kewajibannya.
Disuruh berhenti kerja menolak. Disuruh memasak membantah. Dinasehati juga membangkang.
Merasa sudah sukses, watak dan sifatnya turut berubah. Ia menjadi sosok yang sombong dan angkuh. Lupa dengan mertua dan keluarga.
Padahal yang membiayai Lady untuk lanjut kuliah saat itu adalah John. Bagaikan kacang lupa dengan kulitnya. Itulah Lady yang lupa dengan asal usulnya.
“Sudah sukses, lupa keluarga. Biarin aja nanti juga dapat tulahnya sendiri,” imbuhnya.
John merasa tak pernah dianggap. Lama-lama ia pun jengah. Diledek teman tak bisa ngurus istri.
Setelah menjatuhkan talak pada Lady, kini pasangan ini masih menjalani sidang di Pengadilan Agama. Rumah tangga mereka benar-benar berakhir.
“Daripada jadi suami tak pernah dianggap, sekalian aja pisah, kan lebih enak,” tandasnya. (kap/ton)
Editor : Agus AP