RADARSEMARANG.ID, Semarang - Selama 22 tahun Desa Jetak, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang berjuang meraih penghargaan Desa Mandiri Energi. Warga desa memanfaatkan kotoran sapi menjadi biogas.
Digunakan sebagai pengganti gas epiji, penerangan lampu petromax, serta pengoprasian mesin pemotong rumput. Kini sudah ada 100 KK yang sudah menghemat kebutuhan rumah tangga dengan energi alternatif ini.
Sejak tahun 2001 Warga Desa Jetak, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang memanfaatkan energi biogas dari limbah kotoran sapi. Ide ini bermula dari salah satu warga bernama Yusmin Sunaryo.
Ia adalah ketua Gapoktan Ngudi Mulyo. Hawa dingin menemani kunjungan wartawan Jawa Pos Radar Semarang di Desa Jetak, Sabtu (30/6) lalu. Pukul 08.12 pagi, wartawan Jawa Pos Radar Semarang sampai di rumah Kepala Desa Jetak.
Namanya Sarinah. Ia menyambut dengan senyum sumringah, ditemani Sekretaris Desa Jetak Hendro Tri Putranto.
Secara kompak, mereka bercerita mengenai lika-liku pemanfaatan kotoran sapi menjadi biogas. Ada warga yang dengan senang hati menerima, ada pula yang kolot menolak.“Namanya orang kan ada yang mudah, bisa pakai gas elpiji kenapa harus pakai biogas? Kesadarannya masih minim waktu itu,” jelas Sarinah.
Selama 22 tahun berjuang memberikan sosialisasi dan pemahaman ke warga. Akhirnya Desa Jetak bisa meraih penghargaan Desa Mandiri Energi Inisiatif dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Penghargaan ini diberikan bertepatan dengan puncak peringatan Hari Bumi 2023 di Cilacap, Jumat (12/5) lalu. Kala itu Sarinah diundang untuk menerima apresiasi tersebut.
Sejak ini, desa di lereng Gunung Merbabu ini juga mendapat bantuan Rp 400 juta dari ESDM. Bantuan bisa digunakan untuk pembuatan biodigester di 30 titik. Sarinah pun bercerita munculnya gagasan pemanfaatan kotoran sapi ini, sehingga banyak membantu kehidupan warganya.
Awalnya limbah kotoran sapi digunakan untuk pupuk tanaman. Hasilnya selalu berlebihan. Ujung-ujungnya dibuang dan mengotori lahan. Efeknya juga timbul bau tak sedap.
Apalagi kotoran hewan juga mengandung gas metan (CH4) yang efeknya 25 kali lipat jika dibandingkan dengan karbondioksida (CO2) sebagai penyebab pemanasan global. Melihat kondisi demikian yang terus berlarut-larut.
Munculah ide dari Yusmin tentang energi alternatif untuk memasak ini. Ketua Gapoktan inilah yang dari awal gencar mengedukasi masyarakat. Selain dapat membantu pemerintah mengurangi subsidi untuk penggunaan gas elpiji. Pemanfaatan biogas ini juga dapat menurunkan emisi.
“Pak Yusmin ini tahu kalau kotoran sapi mengandung gas metan (CH4) dan ini bisa menjadi biogas. Tentu kami sangat berterima kasih pada beliau yang yang mana sangat aktif dalam menggugah semangat masyarakat untuk menggunakan biogas,” imbuhnya.
Sarinah pun mengajak koran ini untuk berkeliling. Mengunjungi salah satu rumah warga yang sedang membuat biodigester. Namanya Agus Purwanto. Dibelakang rumahnya sedang dibangun biodigester dengan luas 3,5 meter x 7 meter yang dapat menampung biogas sebesar enam meter kubik. Ukuran ini untuk penggunaan pribadi.
Sedangkan untuk komunal luas minimalnya 5 meter x 7 meter, dapat menampung 12 meter kubik. Biasanya digunakan untuk dua hingga tiga rumah. Salah satu pekerja, Yusriyanto sedang menata batu bata dengan semen. Sembari bekerja ia menjelaskan proses pembuatan biodigester.
Mulai dari tempat pembuangan kotoran, penampungan gas, serta limbahnya. Kades wanita ini kembali mengajak wartawan mengunjungi warganya. Kali ini di rumah Sunardi.
Salah satu penerima bantuan untuk pembuatan biodigester. Ia baru empat bulan memanfaatkan biogas. Namun sudah merasakan hematnya menggunakan energi alternatif ini.
“Empat bulan ini sudah nggak pakai gas melon, jadi bisa hemat pengeluaran,” kata pria berbaju merah ini.
Dengan sepatu bootsnya Sunardi mengajak ke kandang sapi miliknya. Ada empat sapi perah yang kotorannya ia pakai untuk biogas dan pupuk tanaman. Dua sapi besar, dan dua lagi masih peranakan.
Pria 52 tahun ini pun bergegas mempraktekkan proses memasukkan kotoran sapi hingga menjadi biogas. Pertama kotoran di masukkan ke tempat pembuangan, selanjutnya di isi air dan di aduk. Nantinya limbah tersebut akan mengalir ke biodigester yang selanjutnya dapat menghasilkan gas untuk memasak.
“Kotoran sapi di isi satu sampai dua kali sehari. Perbandingannya 1 : 1 antara air dan letong, saya kira-kira saja biasanya pakai sekop,” akunya.
Sekretaris Desa Jetak Hendro Tri Putranto menyebut kini ada 87 titik biodigester yang digunakan oleh 100 kepala keluarga. Pengelolaannya pun ada yang secara pribadi dan komunal. Tersebar di 12 dusun. Terbanyak di Dusun Kendal sebanyak 23 titik, di susul Dusun Jetak 15 titik, dan Dusun Tosora A 10 titik. Sedangkan jumlah paling sedikit di Dusun Setugur yakni satu titik.
“Syarat untuk memanfaatkan biogas itu yang penting ada lahan untuk biodigester dan minimal dua sapi untuk penggunaan pribadi,” ungkapnya.
Sedangkan di Desa Jetak sendiri sudah lebih dari 300 ekor sapi yang kotorannya dimanfaatkan untuk energi biogas.“Sudah ada 87 titik satu rumah minimal tiga sapi, tinggal dikalikan 87x3 sudah 260. Belum yang peternak bisa lebih dari tujuh sapi untuk satu rumah,” imbuhnya.
Selain untuk memasak, pemanfaatan sumber energi ini juga digunakan sebagai penerangan lampu petromax, dan mengoperasikan mesin pemotong rumput. Meski demikian masih ada kendala yang terus dicari solusinya. Seperti banyak warga yang ingin membuat biodigester tapi kekurangan lahan serta pemurnian gas agar mesin tidak mudah berkarat.
Ke depan pihaknya mentargetkan Desa Jetak menjadi Desa Mandiri Mapan tentu perlu komitmen dan sinergitas dari berbagai pihak.“Targetnya tahun depan jadi DME berkembang terus lanjut mapan. Yang penting konsisten, kita dulu mengelola lewat swadaya bisa, apalagi sekarang sudah ada bantuan, insyaallah lancar,” tegasnya.
Bersama dengan Gapoktan, pihaknya juga sedang membangun rumah pupuk dan koperasi biogas. Tujuannya mewadahi warga yang memanfaatkan energi alternatif ini. Limbah digunakan untuk pupuk yang kemudian dijual. Pupuk ini banyak dicari karena gas metannya sudah tidak ada, hasilnya untuk tanaman juga lebih bagus.
“Jadi mereka ini ada penghasilan dari sini, misal nanti ada kebocoran pada biodigester atau kerusakan lain. Mereka tidak bingung lagi biayanya dari mana, karena di rumah pupuk ini sudah ada anggarannya,” pungkasnya. (kap/bas)
Editor : Baskoro Septiadi