RADARSEMARANG.ID - Berprofesi sebagai seorang perawat bukanlah perkara yang mudah. Selain pandai, juga harus sabar untuk melakukan penanganan pasien.
Apalagi perawat di ruang intensive care unit (ICU) atau instalasi gawat darurat (IGD) yang sering berhadapan langsung dengan pasien kritis.
Caraka merupakan salah satu perawat di ruang ICU pada rumah sakit di Jawa Tengah. Pria berusia 28 tahun itu pernah tanpa sadar meneteskan air mata saat melakukan penanganan terhadap pasien.
Pengalaman ini dialami ketika pertama kali terjun menjalani profesinya sebagai perawat di bagian IGD rumah sakit. Kala itu, Caraka merujuk pasien pasien gagal nafas, untuk dibawa ke rumah sakit antar kota yang lebih lengkap. Mulai peralatan hingga dokter spesialis.
"Berangkat pakai ambulans emergency, pasien dengan gagal nafas terpasang ETT yang terhubung ke ventilator mekanik portabel. Saya masih ingat jelas yang namanya rujuk itu kan di dalam ambulans ada pak supir, dokter umum, perawat sama keluarga pasien dan pasiennya," ungkap Caraka kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Menurutnya, awal pemberangkatan sudah melakukan persiapan normal. Mulai pemakaian ventilator, monitor, oksigen sudah dipersiapkan dan tercukupi. Begitu juga saat mobil ambulan keluar rumah sakit, pasien dalam kondisi stabil.
Ketika perjalanan, Caraka duduk di sebelah pasien, dan di belakangnya ada pihak keluarga pasien. Kemudian depannya, seorang dokter.
"Terus tiba-tiba di tengah jalan, ya ampun pasiennya detak jantungnya berhenti. Seketika itu kita yang di dalam mobil panik. Kita pun langsung lakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP), atau yang biasa disebut pijat jantung," bebernya.
"Bayangin aja mas kita harus lakuin itu di dalam ambulans yang kecepatannya kurang lebih 110 sampai 120 km/jam. Kalau nggak kita lakuin pasien bisa meninggal. Akhirnya saya lakuin RJP itu. Astaga sambil nangis, keluar sendiri nih air mata, karena apa, aku nggak tau," sambungnya.
Caraka membeberkan, pihak keluarga pasien juga histeris. Sementara, dokter yang berada dalam satu ruangan dalam mobil juga terus fokus pada tugasnya melakukan penanganan. Meski si dokter tersebut juga menangis. Begitu juga, Caraka juga fokus memompa jantung pasien.
"Saya fokus pompa jantung tadi sambil nangis. Dalam hati saya, begitu mulianya pekerjaan ini yang semua orang tidak tahu luar biasanya. Dari situlah saya benar-benar bangga menjadi seorang perawat, karena kita menyelamatkan nyawa seseorang tanpa harus tahu bagaimana perjuangan kita melakukannya seperti itu," ujarnya.
Pengalaman ini dirasakan ketika awal menjadi perawat pada tahun 2018, setelah lulus Sarjana Ilmu Keperawatan tahun 2017, dan mengambil satu tahun lagi untuk mengejar profesi Ners. Setelah selesai, kemudian terjun menjalani profesinya sebagai, tepat pada Juni 2018.
"Sejak kecil, tidak dalam benakku untuk bercita-cita menjadi perawat. Ya karena orang tua saya, khususnya ibu, juga profesinya seorang perawat. Jadi kalau selama ada kendala, konsultasinya ya ke ibu," kata pria yang tinggal di Kecamatan Genuk, Kota Semarang.
Perawat kelahiran asal Kabupaten Pati ini mengakui terjun pertama kali menangani pasien sempat merasa takut dan grogi. Menurutnya, penanganan yang dilakukan bukanlah sebuah mesin rusak.
Namun nyawa, yang tak ada gantinya. Meski demikian, Caraka terus melakukan upaya semaksimal mungkin, dan tak lupa juga berdoa. Meskipun takdir yang menentukan.
"Makanya pasti dari rumah sakit itu ada SOP-nya untuk perawat-perawat baru, di observasi dulu, nanti dievaluasi. Baru nanti apakah harus tetap dipantau di observasi atau langsung bisa terjun melakukan asuhan keperawatan secara mandiri," jelasnya.
Caraka juga mengaku, tak jarang mendapat pujian dari para keluarga pasien termasuk pasien yang ditanganinya hingga berhasil diselamatkan. Menurutnya, hal ini merupakan suatu kebanggaan.
"Pengalamannya itu pasien-pasien yang kritis itu seumpamanya dari keluarga belum ikhlas ya pasiennya juga susah (meninggal), jadinya ya keadaannya itu masih coma terus sampai nanti dari keluarga benar-benar ikhlas," jelasnya.
Mengikat Rambut Pasien Berbuah Terima Kasih
Puput Tri Atmaja sudah sejak 2010 menjadi perawat di ICU Rumah Sakit Qolbu Insan Mulia (RS QIM) Batang. Banyak kisah mewarnai perjalanan pria 37 tahun ini. Suka, duka, hingga kepuasan tersendiri melihat pasien yang dirawat bisa sembuh dan beraktivitas kembali.
Selama 13 tahun mengabdi sebagai perawat, Puput punya satu pengalaman yang paling berkesan. Tak akan pernah dilupakan.
Pengalaman ini bukan karena peristiwa besar dan menggemparkan. Melainkan peristiwa sepele yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.
Kisah ini bermula dari kedatangan pasien wanita di ICU. Kondisinya tidak sadarkan diri dengan alat bantu ventilator pernapasan. Saat itu, rambut pasien juga terurai berantakan. Sebagai seorang perawat, ia berinisiatif mengikat dan merapikan rambut pasien itu.
Cerita berlanjut, setiap pagi, Puput selalu mengajak ngobrol pasien walaupun setengah sadar. Pada hari ketiga, kondisi pasien membaik dan mulai lepas alat bantu ventilator. Pasien memanggilnya dan mengucapkan 'Terima kasih mas Puput, telah mengikat rambut saya'.
"Saya rasa itu hal yang simpel, sepele, hal yang mudah, tidak berarti, cuma merapikan rambut tapi pasien sangat berkesan. Kemudian mengucapkan terima kasih. Ucapan itu ternyata melebihi apapun," ucap Kepala Ruang ICU RS QIM tersebut.
Pasien tersebut akhirnya pulang, kemudian melakukan kontrol ke RSUP dr Kariadi Semarang. Saat pulang, dia menyempatkan diri mampir ke RS QIM untuk memberikan baju batik sebagai ucapan terima kasih. Sepucuk surat juga dituliskan sebagai tanda terima kasih.
"Momen itu, pertamakalinya saya bangga menjadi perawat. Benar-benar bangga menjadi perawat," ujar Puput.
Puput menjelaskan, bila pasien itu dari fase kritis, melewati fase kritis, sampai sembuh bisa pulang itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Pekerjaan di ruang ICU tidak hanya berkaitan dengan pasien saja. Melainkan juga dengan keluarga pasien.
Karenanya edukasi terhadap keluarga pasien itu penting. Yaitu untuk menenangkan keluarga pasien. Kecemasan pasti menghantui keluarga pasien. Ketergantungan pasien dengan perawat di ICU juga cukup tinggi. Sehingga keluarga tidak bisa ikut menunggui.
Selama menjadi perawat di ICU, setiap bulan Puput bisa menangani hingga 40-an pasien. Tiap tim yang berjaga harus bergantian pula untuk mengatur waktu tidur.
Menurutnya, mengantuk merupakan suatu hal yang lumrah saat berjaga malam hari. Karenanya, selalu ada satu perawat yang bergantian tidur dan berjaga.
"Melihat pasien dari fase koma sampai sadar itu sangat berkesan. Sampai nanti keluarga mengucapkan terima kasih itu suatu hal yang luar biasa," tandasnya. (mha/yan/ton)
Editor : Baskoro Septiadi