Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Kisah TKI di Taiwan Dipentaskan di Panggung Teater, Sedih Tak Bisa Pulang saat Anak Sakit

Agus AP • Selasa, 20 Juni 2023 | 16:03 WIB
Susmiati saat berbagi kisah dalam pentas teater ‘Momen Larut Malam X Rasa Taiwan’ di Soesmans Kantoor, Kota Lama Semarang. INZET Susmiati. (KHAFIFAH ARINI PUTRI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Susmiati saat berbagi kisah dalam pentas teater ‘Momen Larut Malam X Rasa Taiwan’ di Soesmans Kantoor, Kota Lama Semarang. INZET Susmiati. (KHAFIFAH ARINI PUTRI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID - Selama 10 tahun Susmiati merantau ke luar negeri. Bekerja menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Kisahnya ini dipentaskan dalam teater ‘Momen Larut Malam X Rasa Taiwan’.

Ingin membantu perekonomian keluarga serta memberikan pendidikan setinggi mungkin untuk anak-anaknya, merupakan alasan Susmiati memberanikan diri mengadu nasib ke negeri orang.

Wanita asal Banyumas, Purwokerto ini menjadi TKI di tiga negara selama 10 tahun. Pertama ke Singapura pada 2002. Kemudian Hongkong, dan terakhir Taiwan. Pada 2012, ia dapat kembali ke Indonesia dan menikmati hidup bersama anak-anaknya.

“Anak pertama ditinggal merantau sejak kelas 3 SMP buat kerja di Singapura. Kemudian sempat pindah ke Taiwan, Hongkong, lalu terakhir Taiwan lagi,” kata Susmiati kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Wanita kelahiran 1977 ini menceritakan pengalamannya dalam perantauan lewat pementasan teater ‘Momen Larut Malam X Rasa Taiwan’ di Soesmans Kantoor, Kota Lama Semarang.

Belasan penonton menyimak dengan seksama kisah yang diceritakan Susmiati. Mulai dari awal keberangkatan, kehidupan sehari-hari ketika bekerja, serta cara menjalin komunikasi dengan anak dan keluarganya.

Ia memperagakan satu per satu adegan di hadapan penonton. Termasuk menghubungi anaknya melalui video call. Sekaligus menggambarkan bagaimana ia tetap tabah dan tersenyum di hadapan sang anak. Menyembunyikan rasa kangen yang tak terbendung.

Tidak ada yang tega meninggalkan anak-anaknya pergi jauh. Begitu pula dengan ibu empat orang anak ini. Tidak ada kendala yang berarti selama bekerja. Ia mendapat majikan yang baik dan perhatian serta memberikan kebebasan untuk bertemu dengan siapapun. Namun hatinya akan terluka jika mendengar kabar anaknya sakit.

“Paling sedih kalau dikasih tahu anak sakit. Nggak tega, mau pulang juga nggak bisa,” akunya.

Sembari menyimak teater yang diperagakan Susmiati, penonton disuguhkan beragam menu otentik Taiwan oleh Trouble Team. Tujuannya agar mereka dapat mendalami pengalaman yang diceritakan Susmiati.

Makanan pertama adalah roti tawar dengan taburan butter, dilanjutkan dengan bubur Taiwan yang dipadukan dengan lauk berupa irisan fermentasi timun serta rebung dan gandum yang diolah seperti tahu. Kemudian disajikan sup ayam jamur ditutup dengan es cincau Taiwan.

Usai kegiatan, Susmiati melanjutkan berbagi pengalamannya. Saat anak pertamanya lulus SMA. Ia terkejut dengan keinginan putranya yang akan menempuh studi di jurusan hukum.

“Karena kan di pikiran saya, apalagi orang desa itu belum ada yang kuliah di jurusan itu dan rasanya kurang menjanjikan. Tapi anak saya telah membuktikannya,” tegasnya.



Susmiati pun percaya dengan pilihan sang anak. Terbukti pada 2017 anaknya berhasil lulus dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Meski punya ibu seorang migran, sang anak tetap bisa meraih cita-citanya.

“Setelah lulus tahun 2018 ikut seleksi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dari 10 ribu pendaftar dia masuk 400 besar. Dan alhamdulillah keterima jadi jaksa, mungkin dia satu-satunya jaksa di kampung saya,” ungkapnya. Anaknya diterima menjadi Jaksa di Kabupaten Toli-toli, Sulawesi Tengah selama dua tahun. Lalu dipindahtugaskan di Tarakan, Kalimantan Utara.

Momen Larut Malam X Rasa Taiwan itu sengaja dihadirkan untuk mendobrak kebiasaan orang Taiwan yang melarang penonton makan saat pementasan teater. Selain itu juga mengenalkan budaya Taiwan di Indonesia.

Susmiati mengungkapkan apresiasi kepada sutradara Kun Ming Li yang telah mengangkat kisahnya dalam film pendek. Sekaligus memberinya panggung untuk pertunjukan teater. Ia berharap para pekerja migran dapat lebih dihargai keluarga dan masyarakat.

Bukan dilihat sebagai bentuk mengabaikan anak karena mereka berkorban mempertaruhkan hidupnya demi keluarga bisa hidup lebih baik. (kap/ton) Editor : Agus AP
#Momen Larut Malam X Rasa Taiwan #TKI #Tenaga Kerja Indonesia