PUPUT PUSPITASARI, Magelang, Radar Semarang
KECINTAANNYA pada dunia tari menjadi awal Febri Ari Saputra suka berkomunikasi dengan orang lain. Ini kabar membahagiakan. Bukan hanya bagi dirinya, tapi juga keluarga.
“Dulu saya itu sangat pemalu. Ketemu orang nggak berani, ngobrol juga susah,” aku Febri—sapaan akrabnya.
Ia banyak menarik diri dari keramaian. Nyaman menyendiri. Tapi aneh, tiap kali ada tontonan hiburan, ia tertarik melihat.
“Saya senang lihat kesenian, giliran disuruh pentas, tetap nggak berani, hahaha,” kenangnya geli.
Ketika duduk di bangku SMP, mau tidak mau, Febri harus mementaskan tari prajuritan. Awalnya terpaksa melaksanakan tugas itu. Eh, malah keterusan.
“Sejak itu, saya suka tari. Sampai kuliahnya juga mengambil jurusan seni tari,” tutur pemuda 27 tahun itu.
Pernah kejadian, H-3 sebelum praktik penciptaan karya akhir, ia mengalami kecelakaan. Tubuh yang penuh luka, sampai tidak dihiraukan. Febri tetap menari saat ujian kuliah. Ia ingin menampilkan sebuah tari yang sudah dipersiapkannya selama tiga bulan.
“Itu pengalaman terburuk saya. Saya tetap menari, padahal lecet-lecet, menahan sakit. Jalannya agak sempoyongan. Akhirnya sama dosen disuruh berhenti menari,” kenangnya.
Bagi Febri, seni tari memiliki arti yang mendalam. Bukan sekadar menggerakan anggota tubuh. Lebih dari itu. Seluruh potensi dan perasaan dalam diri, terekspresikan.
“Tari itu seru, asyik. Karena tari, saya berubah total. Sekarang jadi lebih PD (percaya diri),” tandasnya dengan mantap.
Berderet prestasi pun berhasil diraihnya. Seperti Juara I Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) Kota Magelang 2022, Juara I Rita Idol kategori Tradisional Dance 2017, Duta Seni Pelajar kontingen Jawa Tengah 2018, dan lainnya.
Saat ini, Febri tercatat menjadi guru di SMA Negeri 1 Bandongan, Kabupaten Magelang. Juga pernah menjadi guru kesenian di SMA Negeri 2 Kota Magelang selama tiga tahun.
“Saat ini juga masih rutin melatih sekolah-sekolah lainnya, terutama tim-tim yang akan mengikuti kegiatan lomba,” terangnya.
Paling menantang, melatih dua tim berbeda dalam even lomba yang sama. Ia harus menciptakan gerakan tari yang kualitas tarinya berimbang. Tidak berat sebelah. Ini dilakukan agar tidak ada kesan bahwa dirinya membela salah satu pihak.
“Harus adil, memberikan yang terbaik untuk semua tim. Tapi soal hasil menari diserahkan ke anak-anak,” imbuhnya.
Warga Cacaban, Magelang Tengah, Kota Magelang itu, merasakan tantangan ketika melatih tari. Terutama soal kesabaran. Nyatanya, banyak siswa yang ingin menari, tapi sulit menunjukkan ekspresi.
“Menari itu tidak bisa waton gerak. Kita itu menyampaikan pesan yang harus sampai ke penonton,” jelasnya.
Padahal untuk menciptakan gerakan tari itu, penuh perjuangan. Ia mencari ide dengan susah payah. Pernah ia mendatangi peternakan sapi, karena ingin menciptakan gerakan tari dari manifestasi karakter hewan jenis sapi. Seniat itu.
“Jadi memang nglegakke observasi. Ya, untuk menciptakan gerakan tarinya, menentukan propertinya, dan sebagainya,” tuturnya.
Sebagai penari, ia pun melihat fenomena maraknya dance K-Pop. Banyak generasi muda yang kemudian hanyut dalam tren itu. Ia punya jawaban bijaksana.
“Ikuti perkembangan zaman itu boleh, karena bagus juga untuk eksplorasi kemampuan diri. Tapi jangan tinggalkan tradisi kita,” pesannya.
Jika suka K-Pop, Febri punya tips agar tetap mencintai tarian yang mengangkat kearifan lokal. Yakni sering-sering menirukan tarian tradisional, maupun tari kreasi. Ia yakin, bakal jatuh hati.
“Tari jenis ini itu tematik. Sarat makna. Nggak cuma bagus secara visual, tapi ada pesannya. Itu yang membedakan dengan sebuah dance,” imbuhnya.
Selain menari, Febri punya hobi lain. Lari marathon. Sekalipun belum pernah menang, setidaknya Febri selalu memenangkan kategori kostum lari terbaik.
“Selalu ikut lari marathon, tapi pasti kalah sama atlet-atlet. Tapi kalau kostum terbaik, saya pasti menang. Hehehe,” ucapnya sambil menghibur diri.
Baru-baru ini, ia meraih predikat pelari berkostum terbaik di Surabaya 10K. Ia mengenakan kostum unik, Gatotkaca yang diadopsi dari game online, Mobile Legend.
“Saya juara satu dong, hehehe,” pungkasnya. (put/zal)
Editor : Agus AP