RIYAN FADLI, Batang,
Tombak Abirawa punya sejarah panjang di Kabupaten Batang. Pusaka itu berperan untuk babat alas wilayah Kabupaten Batang. Usianya diperkirakan lebih dari 500 tahun. Keberadaanya sangat dijaga oleh pemkab dan ahli waris.
Tiap tahun, pusaka ini dua kali dikirab keliling wilayah Batang. Kirab dilakukan saat malam 1 Suro dan memperingati HUT Kabupaten Batang. Ritual jamasan pusaka juga selalu dilakukan setiap malam 1 Suro.
Kegiatan itu menjadi agenda wajib tahunan Pemda Batang bersama pusaka-pusaka lainnya. Masyarakat juga selalu antusias menyaksikan jalannya prosesi tersebut.
Sabtu, 30 Maret 2019, pusaka Tombak Abirawa mulai diboyong dan disimpan di Pendopo Kabupaten. Statusnya bukan diberikan ke Pemkab Batang, tapi hanya disimpan di Pendopo Kabupaten.
Sebelumnya, pusaka tersebut disimpan di kediaman ahli waris di Kelurahan Kauman, Kecamatan Batang. Sang ahli waris, Susanto Waluyo, 43, menjelaskan, walaupun sudah dipindahkan ahli waris masih bertanggungjawab merawat pusaka tersebut.
Penjamasan pusaka juga telah dilakukan sejak tombak tersebut ada. Sebelumnya dilakukan secara mandiri oleh ahli waris. Sedangkan di Kabupaten Batang punya tradisi penjamasan dan kirab pusaka-pusaka peninggalan para tokoh yang telah terhimpun.
Seperti peninggalan RT Pusponegoro I, Pangeran Diponegoro, Bupati RT Notodiningrat, serta tiga buah pusaka peninggalan R Adipati Ario Suryoadiningrat, Bupati Batang tahun 1886-1912.
"Pusaka-pusaka itu perlu dibersihkan untuk menghilangkan debu dan menghambat korosi. Tombak Abirawa baru dijamas dengan difasilitasi pemkab sejak 2019," ujarnya.
Pusaka Abirawa merupakan peninggalan Kanjeng Sunan Raden Sayid Nur Rochmat atau Kanjeng Sunan Sendang. Ia merupakan aulia atau wali pada zaman Kasultanan Demak Bintoro di bawah Sultan Trenggono.
Sunan Sendang berasal dari Desa Sendangduwur, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Dari situlah pusaka Tombak Abirawa berasal.
Pada masa itu, ada semacam pembukaan hutan atau babat alas di daerah Tapal Kuda. Sekitar Bondowoso, Situbondo, Pasuruan, Bojonegoro. Sebagai pertanda untuk membuka itu harus didampingi para sesepuh. Sebagai pertanda babat alas, Tombak Abirawa dibawa berkeliling.
Selanjutnya Tombak Abirawa dibawa ke Batang. Tombak ini juga digunakan untuk babat alas di Kaliwungu dan Kabupaten Pekalongan. "Tombak itu bukan yang mempengaruhi sekali, itu hanya simbol.
Banyak cerita siapa yang membawa ke sini. Pertama ada utusan dari Raden Adipati Batang, beliau memerintahkan untuk meminjam atau membawa tombak yang ada di daerah Tapal Kuda," terang Susanto.
Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1.500-an atau 1.600-an atau sudah 500 tahun lebih. Ia memaknai hadirnya tombak tersebut sebagai barang warisan budaya. Sehingga harus diuri-uri atau dilestarikan, karena tombak itu milik seluruh warga Kabupaten Batang. Tombak punya sejarah sebagai simbol untuk membuka wilayah.
Tombak Abirawa punya ciri khusus di pegangannya yang memiliki panjang sekitar 6 meter. Sementara mata tombak memiliki sembilan lengkung seperti keris.
"Filosofi jamasan dan kirab pusaka ini adalah bersama-sama nguri-uri budaya, kita sengkuyung bareng. Mudah-mudahan di Kabupaten Batang tidak kepaten obor atau hilang sejarah-sejarahnya," ucapnya.
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang Bambang Suryantoro menjelaskan, jika tahun ini kirab budaya memperingati HUT Batang bakal digelar tanggal 2 Mei. Tidak bertepatan pada 8 April karena sudah memasuki bulan puasa.
Perayaan kali ini juga akan dimeriahkan dengan gunungan hasil bumi dari seluruh kecamatan.
"Kirab ini untuk nguri-uri budaya. Masyarakat biar tahu bahwa kita punya simbol kejayaan masa lalu, salah satunya Tombak Abirawa," ucapnya.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kabupaten Batang Affy Kusmoyorini menambahkan, selain Tombak Abirawa, ada 48 pusaka pendamping. Tidak seluruhnya dikirabkan. Hanya sekitar 15 hingga 20 pusaka yang dibawa. Saat kirab berlangsung, yang dinanti-nanti masyarakat adalah uang sawur koin. Uang yang sawurkan oleh Bupati Batang diyakini punya berkah tersendiri.
"Kami pengin menonjolkan budaya-budaya yang ada di Kabupaten Batang, bahkan nanti akan diusulkan menjadi warisan budaya tak benda. Sehingga diakui bahwa itu adalah warisan dari Kabupaten Batang. Termasuk kirab dan jamasan ini," terangnya.
Kirab dan jamasan itu selalu berlangsung sakral. Harum dupa dan wewangian tercium sepanjang acara. Bunga melati ditaburkan sepanjang jalannya kirab. Usai kirab berakhir, peserta berebut gunungan buah dan sayur hasil bumi. (*/aro) Editor : Agus AP