Berita Semarang Raya Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto Jateng

Nyentrik, Dosen Asal Batang Ini Tetap Berdandan Punk saat Sidang Proposal Disertasi S3

Agus AP • Selasa, 28 Maret 2023 | 16:17 WIB
Toni Yogo Pamungkas saat membuat lamput hias dari pipa paralon. (NUR CHAMIM/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
Toni Yogo Pamungkas saat membuat lamput hias dari pipa paralon. (NUR CHAMIM/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID - Sebagai musisi punk, Dadang Dwi Septiyan tetap berdandan nyentrik di luar panggung. Termasuk saat ia mengajar sebagai dosen. Bahkan ketika sidang proposal disertasinya, personel Moving Room ini tetap berpakaian ala punk.

Tak ada darah seni mengalir di tubuh Dadang. Kedua orang tuanya bukan seniman. Namun pria kelahiran Kabupaten Batang tahun 1991 ini sekarang merupakan seorang musisi, praktisi musik, juga dosen Pendidikan Seni Pertunjukan di Universitas Tirta Ageng Tirtayasa, Serang, Banten.

Alih-alih dikenal sebagai dosen, Dadang lebih dikenal sebagai musisi punk. Nama Dadang masyhur di kalangan kawula muda Kota Pekalongan dan sekitarnya sebagai salah satu personel Moving Room.

Band beraliran Celtic Punk yang baru dibentuk pada 2021 lalu, tapi mendapat sambutan luar biasa di telinga pecinta musik punk.

"Terserah orang mengenal saya sebagai apa, saya begini adanya," kata bapak dua anak ini kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (27/3).

Meski tak memiliki darah seni, sepertinya Dadang memiliki bakat bermusik sejak kecil. Saat sekolah dasar, ia sudah coba-coba belajar drum. Di SMP hingga SMA, ia mempelajari alat musik lain. Sampai akhirnya menjerumuskannya ke Pendidikan Seni Musik Universitas Negeri Semarang (Unnes) sampai S2.

"Bapak, ibu, paman, di rumah memang suka mendengarkan musik berbagai aliran. Mungkin kecintaan saya terhadap musik muncul dari sana," ungkap dosen berambut gondrong ini.

Sebagai dosen, Dadang sehari-hari tampil ala punk. Meski tidak secara total, ia mengenakan celana ketat, ikat pinggang ala punk, bersepatu boots, dan tas yang penuh dengan emblem.



Dandanan Dadang yang seperti itu di kampus tentu menyita perhatian alias dipandang tak biasa. Dadang pun merasakannya.

"Tapi saya cuek aja. Mahasiswa saya kelihatannya malah seneng-seneng saja lihat dosennya begini," ujarnya.

Tak banyak yang tahu, Dadang ternyata pernah menjadi pengiring musik artis-artis Indonesia papan atas. Sebut saja, Judika, Fariz RM, Ari Lasso, Mulan Jameela, Bunga Citra Lestari, Danto Sisir Tanah, Didi Kempot, Agnez Mo, dan masih banyak lagi yang Dadang sendiri pun lupa. Dadang kini juga tengah menempuh studi S3 Pendidikan Seni Musik di Unnes.

"Saat saya seminar proposal disertasi, juga pakai style seperti biasa (ala punk). Dosen penguji saya nggak masalah," ujarnya.

Meski boleh dibilang sudah malang melintang di semua aliran musik, Dadang akhirnya membentuk grup band bergenre Celtic Punk. Pilihan itu bukan tanpa dasar. Sebagai musikus, ia selalu ingin mencoba alat-alat musik yang menurutnya unik.

Sebelum membentuk Moving Room, Dadang mempelajari alat musik tradisional Irlandia, yakni Tin Whistle atau Penny Whistle.

"Akhirnya di Moving Room saya juga sebagai peniup Tin Whistle itu," ucapnya.

Dadang kini sedang fokus dengan penggarapan mini album Moving Room. Grup band yang bermarkas di Pekalongan dengan delapan orang personel itu sudah merilis dua single, yakni "Rayakan Pertemuan" dan "Balada Masa Muda".

"Bulan depan kami manggung di Batang. Kita bisa ketemu lagi di sana," tandasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang(nra/aro) Editor : Agus AP
#top #punk #Dadang Dwi Septiyan #Moving Room #Pendidikan Seni Pertunjukan