Berita Semarang Raya Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto Jateng

Modal Patungan, Alat Musik Keroncong Buatan Warga Semarang Ini Tembus Pasar Malaysia

Agus AP • Kamis, 2 Maret 2023 | 16:05 WIB
Korwil Dindikbud Kecamatan Demak Kota Noor Sulistiyowati. (Wahib Pribadi/Jawa Pos Radar Semarang)
Korwil Dindikbud Kecamatan Demak Kota Noor Sulistiyowati. (Wahib Pribadi/Jawa Pos Radar Semarang)
RADARSEMARANG.ID - Bambang Wisnu Setiaji pelestari musik keroncong Kota Semarang. Ia adalah perajin alat musik keroncong di Kota Lunpia yang masih bertahan. Bambang tergabung dalam Kelompok Pelaku Keroncong Semarang (KPKS).

Di tengah gempuran aliran musik modern, eksistensi musik keroncong tetap terjaga. Jenis musik ini seolah menolak punah. Bambang Wisnu Setiaji adalah insan pelestari musik keroncong. Ia adalah pemain biola keroncong di Kota Semarang. Bambang juga menjadi perajin alat musik keroncong.

Di Jalan Sanggung Raya No 181 Kelurahan Jatingaleh, Kecamatan Candisari, Bambang membuat berbagai alat musik keroncong,  seperti cuk atau ukulele, cak atau crang, cello, gitar, dan biola. Bambang juga mengajak beberapa musisi musik keroncong lainnya, seperti Wawan, Siswanto, Kiki, dan lainnya.

“Kami belajar membuat alat musik keroncong hampir tiga bulan. Kini kami mampu memproduksi sesuai standar alat musik keroncong,” kata Bambang Wisnu Setiaji kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dikatakan, alat musik keroncong sangat spesifik. Kalau yang membuat para musisi yang biasa memainkan alat, lanjut dia, maka akan sangat paham dan tahu karakteristik suara alat musik keroncong yang dibuatnya. Termasuk dalam memasang dan menempatkan krip nada. “Kami bersyukur, produksi kami sudah sesuai standart dan menjadi rujukan," ungkapnya.

Bambang menjelaskan, alat musik akustik dibuat menggunakan bahan kayu sengon, nangka, dan jati Belanda. Selain karena alasan ringan, dan mudah memotong serta membentuk profil. Juga lantaran memiliki kemampuan akustik yang bagus dibanding kayu jati.

Adapun harga alat musik cuk dan cak yang dibuatnya mencapai Rp 350 ribu. “Bila menggunakan spul mic bisa mencapai Rp 450 ribu,” katanya.

Untuk cello petik dibanderol dengan harga Rp 3 juta, dan gitar melodi Rp 600 ribu. “Semua alat difinishing dengan cat melamin,” ujarnya.



Ia mengaku sudah memproduksi alat musik keroncong mencapai ratusan unit. Produknya sudah tersebar di seluruh Indonesia, termasuk tembus hingga pasar Malaysia.

"Kami termotivasi memproduksi lebih banyak, karena animo sangat tinggi. Khususnya, para pelaku seni musik keroncong yang tersebar di seluruh nusantara. Hingga kini kami masih memasok untuk wilayah Papua, Sulawesi, dan Kalimantan. Juga grup-grup musik keroncong di Malaysia yang memesan alat produksi KPKS,” katanya.

Pembina KPKS ini mengungkapkan, komunitas yang mewadahi para pelaku musik keroncong ini menjadi sarana untuk membangun eksistensi keroncong. "Jadi, sudah bukan saatnya lagi kita hanya unjuk kebolehan di atas panggung dan menunggu tepukan tangan. Akan tetapi, bagaimana kita berkumpul dan meningkatkan kemampuan bermusik sebaik mungkin,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga menginisiasi pendirian unit produksi alat musik keroncong. “Kalau kemarin kami bergantung pada alat musik keroncong produksi Baki, Sukoharjo, kini kami sudah mampu memproduksinya sendiri," ungkap Bambang.

Diakui, pihaknya masih terkendala permodalan. Saat awal merintis, modal usaha berasal dari patungan anggota KPKS.  "Jadi, kalau beli bahan kayu, seringnya eceran. Padahal kalau beli banyak sekalian, jauh lebih murah. Sebagian komponen memang ada yang harus dibeli di Baki, karena memang yang jual hanya ada di sana. Kalau beli satuan, tentu akan berat diongkos," paparnya.

Kini, unit usaha alat musik keroncong KPKS Semarang ini sudah menjadi rujukan para seniman keroncong di Indonesia. Bambang berharap usahanya terus berkembang, dan bisa memiliki tempat produksi mandiri. Hingga kini rumah produksi alat musik keroncong KPKS masih berada di sekretariat Jalan Sanggung Raya, Jangli, Semarang. (fgr/aro) Editor : Agus AP
#Kelompok Pelaku Keroncong Semarang #Keroncong #musik keroncong Kota Semarang #KPKS