Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Bank Sampah Mulyo Sedoyo Punya 400 Nasabah Aktif, Produknya sampai Singapura

Agus AP • Jumat, 10 Februari 2023 | 16:10 WIB
Siswi SMP Negeri 2 Ambarawa memamerkan produk kerajinan dari sampah plastik dan kertas. (Maria Novena/Jawa Pos Radar Semarang)
Siswi SMP Negeri 2 Ambarawa memamerkan produk kerajinan dari sampah plastik dan kertas. (Maria Novena/Jawa Pos Radar Semarang)
RADARSEMARANG.ID - Bank Sampah Mulyo Sedoyo, Kelurahan Brumbungan, Semarang Tengah tetap eksis hingga sekarang. Bank sampah yang dikelola warga ini mampu menyulap sampah menjadi barang bernilai jual. Bahkan, pemasaran produknya sampai ke Singapura.

Setiap Kamis, para nasabah Bank Sampah Mulyo Sedoyo berdatangan untuk menimbang sampahnya. Hasilnya bisa diambil uang tunai, sembako, atau ditabung. Selain itu, bank sampah yang sudah berdiri sejak 2017 ini juga mengadakan pelatihan membuat kerajinan dari barang bekas.

Terlihat ibu-ibu duduk rapi melingkar di atas tikar. Mereka sedang membuat tas anyaman dari sampah plastik. Satu per satu plastik dari sedotan mereka satukan hingga berwujud menjadi tas.

Penanggung Jawab Bank Sampah Mulyo Sedoyo Yosmina Yahya mengatakan, tujuan awal dibuat Bank Sampah Mulyo Sedoyo ini agar lingkungan bersih, nyaman, dan sehat. Namun antusias dari masyarakat cukup bagus.

Bahkan sejak berdiri omzet dari penjualan kerajinan bank sampah yang terletak di Jalan Ki Mangunsarkoro No 22 Kelurahan Brumbungan ini mencapai Rp 13 juta. Nasabahnya juga berasal dari sejumlah wilayah di Kota Semarang.

Bahkan, bank sampah yang berusia lima tahun ini pernah mewakili Provinsi Jawa Tengah dalam kegiatan rapat kerja nasional bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Sejak berdiri hingga sekarang sudah mencapai Rp 13 juta untuk penjualannya. Total nasabah yang aktif sekitar 400 orang,” jelas Yosmina kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (9/2).

Sedangkan rata-rata penimbangan mencapai 800 kg. Sebanyak 70 persennya berupa plastik. Dari plastik-plastik inilah, ibu-ibu membuat kerajinan. “Kerajinannya macam-macam. Ada tas, vas bunga, dan rajutan. Penjualan yang sering ke Surabaya dan Blora. Kemarin ada pesenan dari Singapura dan ke depan mau kerja sama,” akunya.



Hal senada diungkapkan nasabah dan juga pemasaran kerajinan di Bank Sampah Mulyo Sedoyo, Lidya Rahayu. Wanita berusia 74 tahun ini masih aktif membuat beragam kerajinan. Menurutnya, dengan adanya kegiatan seperti ini, masyarakat bisa terbantu.

Selain bisa menabung, juga dapat menambah penghasilan dari kerajinan yang terjual. Bahkan produknya sudah sampai ke Singapura. Pemasarannya lewat market place, media sosial, dan omongan orang ke orang alias gethok tular.

“Dapatnya lumayan. Kemarin dari Singapura minta lagi, tapi dalam jumlah banyak ratusan pcs. Kita masih kekurangan orangnya,” ungkapnya.

Nantinya, hasil penjualan akan dibagi menjadi dua. Sebanyak 80 persen untuk pembuat, dan 20 persen untuk yang memasarkan.

Lebih lanjut Lidya --sapaan akrabnya—mengaku, adanya bank sampah ini dapat melatih masyarakat untuk hidup bersih. Terbukti, banyak nasabah yang mengumpulkan sampah untuk dijual. Harapannya, masyarakat bisa bertambah kesadarannya untuk mencintai lingkungan. Bergerak bersama mewujudkan Semarang Semakin Hebat.

“Kalau lingkungan bersih kan juga enak pengaruhnya pada kesehatan. Bonusnya juga kita bisa dapat uang untuk meningkatkan perekonomian,” tandasnya. (kap/aro) Editor : Agus AP
#Semarang Tengah #Bank Sampah #Kelurahan Brumbungan #Bank Sampah Mulyo Sedoyo