INDAH WULAN SARI-LAWINDA RAHMAWATI, Radar Semarang
SUMITRO tinggal di Perumahan Pokok Pondasi, Jalan Bukit Ngaliyan, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Kandang tikus putih milik Sumitro berada cukup jauh dari rumahnya.
Setiap pagi, ia datang untuk memberi makan, membersihkan kandang, dan memindahkan tikus putih yang akan beranak.
Sumitro mengatakan, ide berternak tikus putih bermula pada 2011 atau sebelas tahun lalu. Saat itu, ia mencari usaha yang belum banyak dilakoni orang lain.
Hingga muncullah ide untuk ternak tikus putih. Awalnya ia hanya memiliki lima ekor tikus putih jantan dan 20 ekor tikus putih betina.
"Sekarang jumlah indukannya ada sekitar 150-an ekor," ucapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Saat ini, ternak tikus yang digelutinya berjenis tikus putih (rattus) dan tikus kecil (mencit). Tikus itu diberi makan pakan ayam atau konsentrat daging ayam yang dicampur dengan roti afkir yang dihaluskan.
Tak hanya itu, ia juga memberikan vitamin dan jamu untuk menjaga kesehatan tikusnya. Dulu, tikus yang dibudidaya sempat banyak yang mati saat musim hujan.
"Musim hujan kan dingin. Mereka saling numpuk. Kencingnya kena satu sama lain. Itu yang membuat mereka mati. Sekarang sudah tidak. Tikusnya lebih dijaga lagi. Diberi jamu dari kunir sama jahe," katanya.
Peminat tikus putih yang dibudidaya Sumitro berasal dari berbagai kalangan, mulai mahasiswa hingga pekerja kantoran. Tak hanya dari Kota Semarang, pembelinya juga ada dari daerah lain, seperti Demak dan Kendal.
Mereka membeli tikus dengan tujuan yang berbeda. Seperti pakan ternak, pakan reptil, umpan memancing dan bahan penelitian di laboratorium.
Sumitro mengaku menjual tikus putih dengan harga bervariasi, tergantung pada jenis kelamin dan kebutuhan penggunanya. Untuk tikus berusia 1-7 hari, dihargai Rp 3 ribu-Rp 5 ribu per ekor. Sedangkan yang berusia satu bulan dijual dengan harga Rp 8 ribu-an per ekor.
"Kalau untuk kebutuhan laboratorium, tikusnya usia dua bulan dan jenis kelaminnya jantan. Itu lebih mahal, sekitar Rp 45 ribu –Rp 50 ribu per ekor karena perawatan dan makanannya harus tepat," ujarnya.
Saat pandemi Covid-19 lalu, justru penjualan Sumitro semakin meningkat. Sekarang, ia biasa menerima pesanan melalui online di WhatsApp.
"Para pelanggan biasanya ada yang ngambil sendiri ke sini. Kalau tidak ya, pakai go-send," tuturnya.
Tati, Istri Sumitro menuturkan, dulu mereka sempat memiliki pelanggan dari luar pulau Jawa, seperti Batam, Kalimantan, dan lain-lain. Sekali mengirimkan hingga 700 ekor tikus putih.
"Sekarang sudah tidak, karena untuk memenuhi kebutuhan sini saja terkadang kekurangan," ucapnya.
Berdasarkan penuturannya, mulanya ia dan suaminya sangat awam perihal tikus putih. Keduanya belajar ternak tikus putih secara otodidak.
Ia mengaku sempat kesulitan karena tidak mengetahui bagaimana cara ternak tikus putih.
“Alhamdulillah sekarang sudah menghasilkan,” katanya. (*/aro) Editor : Agus AP