M HARIYANTO, Radar Semarang
SIANG kemarin, Terminal Mangkang cukup ramai. Sebab, selain menjadi terminal utama Kota Semarang, di kompleks ini juga terdapat Mal Pelayanan Publik (MPP) yang telah diujicoba. MPP Kota Semarang ini rencananya akan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Senin (5/12) lusa.
Di terminal ini, Jawa Pos Radar Semarang menemui Reno Adi Pribadi. Orang nomor satu di Terminal Mangkang ini menyambutnya dengan ramah. Ia menemui dengan santai di Terminal Musik.
Di situ disiapkan tempat duduk, meja panjang, berikut panggung lengkap dengan peralatan musik untuk menghibur pengunjung MPP maupun terminal. Setelah ngobrol sejenak, Reno menunjukkan kemampuannya olah vokal sambil memainkan gitar.
"Ciptaan lagu saya sebenarnya banyak, tapi banyak yang tidak ter-blow up. Ada sekitar 50 lagu. Sejak SMA sampai kuliah menciptakan lagu terus. Saya menciptakan lagu mengikuti suasana hati. Biasanya gitu," ungkap Reno kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (31/11).
Ia menciptakan lagu diawali dari hobinya bermain musik sejak masih kelas dua SD di Tangerang. Pria kelahiran Jakarta Timur, 26 Juli 1977 ini mengaku ketika SD sudah belajar memainkan gitar dan piano. "Gitar pertama saya dibelikan orang tua. Saya belinya second di pasar loak," kenangnya.
Keinginannya bisa bermain musik sangat tinggi. Setiap hari, sepulang sekolah, ia langsung masuk kamar dan belajar gitar. Selain itu, Reno juga rajin ke tempat temannya. Teman-temannya itu berlatih alat musik dengan membayar di tempat les. Ia sendiri tak mampu membayar biaya les gitar.
"Saya ngobrol di rumahnya. Belajar dari mereka. Dapat cord dasar dari anak-anak yang les. Awalnya kesulitan, karena zaman dulu kan kaset pita. Saya setel berulang-ulang cari nadanya di dalam kamar," ceritanya.
Berjalannya waktu, Reno akhirnya jago bermain gitar. Bahkan ketika SMP dan SMA di Kudus, ia membentuk grup band dan bermain musik cadas ataupun rock. Kepindahannya di Kudus lantaran mengikuti pindah tugas orangtuanya sebagai PNS di Kementerian Perhubungan.
"Di SMA, saya juga sebagai ketua musik. Saya relatif lancar sekali ketika SMP. Saya backgroud-nya musik jazz. Saya suka karena unik, makanya saya pelajari. Akhirnya,saya belajar semua alat musik," katanya.
Setelah lulus SMA pada 1995, Reno melanjutkan kuliah di Surabaya. Selama kuliah, Reno mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan bermain musik dari kafe ke kafe.
"Orang tua saya kan nggak mampu biayain kuliah. Akhirnya, saya ngamen dari kafe ke kafe. Bahkan saya juga sempat ngirim uang ke orang tua dari hasil ngeband. Termasuk bisa nguliahin adik saya," bebernya.
Meski demikian, Reno tidak melupakan tujuannya ke Surabaya untuk menuntut ilmu. Hingga akhirnya ia berhasil lulus kuliah meski sampai enam tahun. Ia bersyukur hasil jerih payahnya bermain musik bisa membiayai kuliahnya, juga adiknya.
"Setelah lulus kuliah, saya tidak langsung kerja. Sempat buka usaha fotokopi dan sablon. Dulu saya suka grafis. Kuliah sambil les desain grafis," kenangnya.
Namun usahanya itu tak berlangsung lama. Ia memilih kembali bermain musik, dan pindah ke Jakarta pada 2002. Namun selang dua tahun, Reno diminta kembali ke Kudus oleh orang tuanya untuk mendaftar CPNS.
"Awalnya setengah hati. Saat tes sempat tidak saya kerjakan. Tapi karena nggak enak dilihat sama panitia yang jaga, akhirnya saya kerjakan. Soal ujiannya juga gampang-gampang. Dua bulan kemudian dapat kabar diterima. Nama saya keluar di koran. Ya, tidak menyangka," ceritanya.
Awal bekerja sebagai CPNS di Kudus, Reno mengaku sempat canggung. Namun pada akhirnya bisa menyesuaikan. Ia bisa enjoy karena cepat beradaptasi dengan lingkungan kerja.
"Saya akhirnya ditarik ke provinsi. Saya beruntung bisa kuliah S2 di Jogja dapat beasiswa dari BKD Provinsi,”katanya.
Selama menjadi PNS, Reno tidak meninggalkan hobinya bermain musik, termasuk menciptakan lagu. Ia juga yang menciptakan lagu mars dan hymne Direktorat Samapta Polda Jateng.
"Saya latih sendiri di sini, di Terminal Mangkang. Akhirnya sampai sekarang, lagu ciptaan saya disetel setiap pagi di Markas Ditsamapta Polda Jateng di Mijen," ujar bapak dua anak ini bangga.
Karena kesibukannya sebagai kepala terminal, terkadang waktunya bermain musik tak sebanyak dulu. Apalagi dia juga harus wira-wiri Semarang-Kudus. Sebab, saat ini keluarganya tinggal di Kudus.
“Saya tinggal di Terminal Mangkang. Ya, stay 24 jam di terminal. Akhir pekan baru pulang ke Kudus," ujarnya. (*/aro) Editor : Agus AP