Sore itu, rintik hujan mengguyur kawasan kampus Univesitas Negeri Semarang. Wartawati Jawa Pos Radar Semarang menuju gedung Unit Pelaksana Teknis (UPT) Konservasi Unnes. Sampai di lokasi, koran ini disambut seorang wanita berhijab motif bunga warna biru. Mengenakan seragam putih berlogo Unnes dan celana kain hitam. Dengan ramah, wanita berkacamata itu menyambut koran ini. “Silakan masuk, Mbak. Wah kehujanan ya,” sapa ramah wanita itu.
Dialah Prof Dr Ir Amin Retnoningsih MSi. Dosen jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Wanita kelahiran Banyumas, 12 Juli 1960 ini sekarang tengah mengembangkan green economic. Ia memanfaatkan limbah organik menjadi produk bernilai ekonomi.
Tak semata-mata untuk meraup cuan, tujuan utama didirikan usaha green economic ini juga untuk mengembangkan pendidikan, khususnya menjadi mata kuliah pilihan olah tulang daun di Unnes. Saat ini, ada 17 mahasiswa yang memilih mata kuliah ini.
“Mata kuliah ini bertujuan untuk melatih jiwa wirausaha mahasiswa dengan memanfaatkan limbah organik sebagai bahan baku utamanya. Barang yang kerap kali dipandang sebagai sampah yang tak bernilai, disulap menjadi produk bernilai jual yang tinggi,” jelas Prof Amin kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Doktor lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini menerangkan, yang dilakukan dari green economic ini adalah menambah daya jual dengan merekonstruksi tulang daun sebagai hiasan produk. Ia mencontohkan, dengan melukis di atas tulang daun, menempelkan tulang daun pada anyaman rotan, serta memasukkan tulang daun ke dalam cetakan resin.
Alasan Prof Amin mengembangkan ide olah tulang daun ini lantaran bahan baku yang mudah didapat. “Segala jenis daun dari pohon berkayu dapat dimanfaatkan,” katanya.
Prof Amin juga berupaya mengubah pandangan dan pola pikir masyarakat bahwa limbah yang terdapat di sekeliling kita dapat bernilai ekonomi tinggi apabila diolah dengan baik.
Adapun produk yang dihasilkan dari tulang daun ini, antara lain, kalung, gantungan kunci, lampu, dompet, tas, hingga yang paling laris lukisan di atas tulang daun. Untuk harganya bervariasi. Gantungan kunci dijual dengan harga Rp 30 ribu. Untuk lukisan mulai harga Rp 500 ribu hingga jutaan rupiah tergantung tingkat kesulitannya. “Semuanya telah kami pajang di gerai pameran Universitas Negeri Semarang serta telah diperjualbelikan secara online maupun offine. Kami juga menerima pesanan,” ujarnya.
Untuk memasarkan produknya, saat ini Prof Amin telah memiliki brand sendiri bernama Rasendriya. Kini, produknya telah menyebar ke seluruh nusantara, bahkan sampai luar negeri. Termasuk Pemeritah Kota Semarang juga kerap memesan hasil karyanya. “Karya saya juga pernah dipamerkan dan mendapat pesanan dari luar negeri, salah satunya dari Perancis,” katanya bangga.
Untuk membantu mengembangkan bisnis green economic itu, Prof Amin merekrut para mahasiswa dan alumni. Mereka ada yang membantu memasarkan dan melukis. Ada juga dosen Unnes yang dilibatkan untuk membantu membuat produk lampu.
Dari usaha yang dikembangkan ini, Prof Amin berharap dapat senantiasa memajukan perekonomian sekaligus melestarikan lingkungan. Dari latar belakangnya yang merupakan seorang dosen Biologi, ia juga berharap mahasiswanya dapat lebih peka terhadap lingkungan dan mengembangkan ide-ide lain yang tak kalah cemerlang untuk kemajuan green economic di masa yang akan datang. (mg26/mg27/aro) Editor : Agus AP