Era digital tidak mematahkan semangat Brury Prasetyo untuk menyalurkan hobinya. Terlihat ketika memasuki rumahnya berjejer rapi ribuan compact disk (CD), kaset pita dan piringan hitam (vinyl). Selain itu, berjejer alat untuk memainkannya, seperti gramofon, tape, radio, dan lainnya. Terdengar pula lantunan lagu dari The Beatles.
Sejak kecil Brury – sapaan akrabnya – menyukai dunia seni musik. Mulai dari mendengarkan musik, bahkan mengoleksi kaset serta perangkat musik lainnya. Sebagai pecinta seni Brury mengapresiasi karya-karya musisi dengan membeli album mereka. “Kalau mengaku pecinta seni ya harus menghargai idola kita dengan membeli rilisan fisiknya, misal ya gini CD atau vinyl,” ujarnya.
Meski banyak rilisan yang tersedia di platform. Brury tetap setia membeli rilisan fisik. Ia menambahkan kualitas suara yang dihasilkan dari vinyl dan kaset pita lebih original. “Memang benar di platform tersedia banyak, tapi suaranya beda itu sudah banyak editan,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Koleksinya kian bertambah, bahkan mencapai ribuan. Hal ini membuat ayah dari tiga orang anak ini berputar otak membuat store offline. Selain bisa mengembangkan hobi, juga mendapatkan penghasilan. Pada tahun 2017 ia menyulap studio musik miliknya menjadi store offline bernama Come Store. “Bukan bangkrut ya, tapi pengen berhenti saja mau yang beda. Akhirnya saya pajang koleksi saya di sini,” katanya.
Selain mendapatkan hasil dari menjual kaset, Brury tetap bisa menjalankan hobinya dan mengedukasi orang-orang yang datang ke tokonya.
Penanggung jawab AT Demajors Cabang Kota Semarang ini menjelaskan, awal pandemi membuat usahanya sepi pembeli. Bahkan di bulan pertama tidak ada yang membeli dagangannya. “Awal pandemi Covid-19 nggak ada pembeli, baru bulan kedua dari market place ada orderan yang masuk,” jelasnya.
Hal ini tidak membuatnya menyerah. Penjualan melalui online ditambah melalui aplikasi lain seperti Bukalapak, Shopee, dan lainnya. Selain itu koleksi lain banyak ditambahkan. Seiring berjalannya waktu saat pandemi seperti ini, membuat tokonya ramai. Work from home (WFH) membuat orang harus bekerja dari rumah. Hal ini membuat masyarakat akan bosan dan lari ke musik. Orang-orang yang hobinya musik saat WFH akan kembali ke mendengarkan lagu dan tentu akan menambah koleksi lagu miliknya. “Pinter-pinternya ngolah pasaran, kalau orang-orang upload-nya genre jazz, metal ya saya upload-nya pop, dangdut gitu,” kata Brury sambil tertawa.
Sementara itu, ketika diundang pameran Brury melakukan hal yang sama. Hal ini dirasa dapat meningkatkan penjualannya, karena tidak semua orang menyukai yang sedang trending.
“Pernah diundang ke pameran suruh bawa musik jazz, metal gitu, tapi saya bawa yang lain. Karena orang pergi kesana kan jalan-jalan ada yang bawa pacar, nggak mungkin dong ceweknya suka musik jazz, malah laku banyak,” ujarnya.
Semua genre musik ada seperti jazz, metal, pop, dangdut ada di tokonya. Penjualan dalam sebulan ia bisa mencapai omzet yang lumayan. “Kalau pas ramai bisa puluhan juta, kalau pas sepi ya disyukuri sajalah,” ujar pria 37 tahun yang tinggal di Jalan Pamulrasih Barat VIII, nomor 4, Semarang Barat ini.
Niatnya mendirikan toko hanya untuk menjembatani pecinta seni lokal. Khususnya di Kota Semarang. Namun, antusiasme masyarakat cukup tinggi. Bahkan banyak anak muda yang mencari vinyl di tempatnya. Setiap kaset dihargai minimal Rp 20 ribu hingga Rp 3,5 juta. “Koleksinya banyak sudah ada 5000 lebih, ada yang lawas dari tahun 1970-an, bahkan ada yang baru rilis,” kata Brury sambil memperlihatkan koleksinya.
Tak hanya pembeli dari lokal. Pembeli dari Jepang, Australia dan Amerika pernah datang ke tempatnya. Pembeli dari mancanegara ini biasanya mengincar musik tahun 1990-an.
Sementara itu, toko yang berada di samping rumahnya ini tidak pernah mematok jam buka. Siapapun yang ingin datang diterimanya dengan baik. Pernah ada pengunjung yang datang hingga pukul 12.00 malam. Hal ini tidak dipermasalahkan oleh Brury.
“Pernah ada pengunjung sampai pukul 12.00 malam, dia milih-milih banyak, habisnya sampai Rp 10 juta lebih,” kata pria yang juga berprofesi sebagai tukang servis gitar ini.
Selain itu, Brury tidak pernah melarang pengunjung mengacak-acak koleksi kasetnya. Ia membebaskan pengunjung untuk membuka tutup kaset serta mencobanya satu persatu.
Pengunjung juga bisa belajar mengenai seni musik. Brury akan menjawab pertanyaan pengunjung dengan sigap. Di sana pengunjung akan diajari berbagai macam cara merawat kaset, membersihkan alat, membedakan produk original dan palsu, serta masih banyak lainnya.
“Pelayanan itu nomor satu, kita juga perlu mengedukasi misal dikasih tahu cara ngerawatnya gimana, cara membedakan yang ori dan palsu nanti pengunjung pasti akan balik lagi kesini,” jelasnya. (kap/ida) Editor : Agus AP