Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Teh Kelor Pernah Dikirim ke Jepang dan Amerika

Agus AP • Selasa, 31 Mei 2022 | 01:09 WIB
Seremoni sebelum memberangkatkan truk bermuatan teh yang akan diekspor ke Jepang, Selasa (11/10/2021). (Istimewa)
Seremoni sebelum memberangkatkan truk bermuatan teh yang akan diekspor ke Jepang, Selasa (11/10/2021). (Istimewa)
RADARSEMARANG.ID - Daun Kelor dikenal sebagai miracle tree. Tanaman ini mampu berkembang biak dengan cepat. Biasanya digunakan daunnya untuk obat. Hal ini karena kelor mempunyai kandungan vitamin dan berbagai zat yang bermanfaat untuk kesehatan tubuh.

Daun kelor memiliki kandungan vitamin C, vitamin A, vitamin E, kalsium, protein, potasium, zat besi, dan lainnya. Manfaat yang banyak ini, dimanfaatkan oleh ibu-ibu di Kampung Jorbang RW 8, Kelurahan Ngesrep, Kecamatan Banyumanik menjadi teh daun kelor. Mereka tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Sayuri.

Bermula pada tahun 2013, banyak tanah kapling untuk invetasi di Kampung Jorbang. Karena tidak dirawat oleh pemiliknya, tanah kapling tersebut mangkrak. Dari situ banyak tumbuh ilalang yang cukup lebat.

Ketua KWT Sayuri Kampung Jrobang E Uli Setiandari mengatakan, karena melihat kondisi tanah kapling yang ditumbuhi banyak ilalang, warga berinisiatif untuk kerja bakti. Tujuannya agar binatang liar seperti ular tidak berkembang biak. “Pada tahun 2015, waktu itu lurahnya Bapak Haryono. Beliau mendorong kita untuk menanam kelor,” ujarnya.

Ia menambahkan alasan memilih daun kelor karena tanaman ini mengandung banyak manfaat. Selain itu, proses penanamannya terbilang mudah dan bisa hidup di daerah tropis.

Ibu-ibu yang tergabung dalam KWT Sayuri akhirnya membuat produk berbahan dasar daun kelor. Warga Jrobang ini pun membuat teh dari daun kelor. “Saat itu daun kelor lagi booming. Selain mudah ditanam, perawatan mudah, daun kelor ini banyak manfaatnya,” jelas Uli.

Ada tiga jenis varian teh daun kelor. Seperti teh kelor celup, teh kelor kepyur, dan bubuk teh kelor. Harganya pun terjangkau. Mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 45 ribu. Mereka juga mengemas produksi teh daun kelor dengan cantik.

“Teh daun kelor celup berisi 15 bag, harganya Rp 20 ribu. Sementara teh kelor kepyur berisi 30 gram dengan harga yang sama. Sedangkan teh kelor bubuk 50 gram harganya Rp 45 ribu,” akunya.

Uli menjelaskan, teh hasil produksinya bersama KWT Sayuri sudah dijual ke masyarakat. Pihaknya juga mendapat dukungan dari perangkat desa, baik RT, RW, dan kelurahan. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan juga memberikan support kegiatan warga Kampung Jrobang ini dengan melakukan pendampingan dan penyuluhan.

“Waktu ada dinas ke sini, ibu-ibu sangat gembira karena ada kegiatan positif. Namun sampai saat ini masih terkendala tempat untuk menanam kelor. Karena pekarangannya dari meminjam, jadi jika sewaktu-waktu diambil, kami harus siap mencari tempat lain,” tambahnya.

Untuk proses pembuatan teh daun kelor dibutuhkan waktu empat hari. Mulai dari memetik daun sampai pengeringan. Wanita berusia 55 tahun ini mengaku sudah pernah menerima pesanan teh daun kelor untuk dikirim ke Bandung, Jakarta, Lampung, dan Jogja.

“Bahannya 100 persen daun kelor. Setelah dipanen, dipetik dari batangnya, dicuci, ditiriskan, dan diangin-anginkan, setelah kering di-packing. Kami juga pernah kirim ke Jepang dan Amerika. Waktu itu ada teman yang pesan dan cocok dengan produk kami,” katanya.

Ibu dua anak ini menjelaskan, sejak KWT Sayuri memproduksi teh daun kelor, ibu-ibu terbantu secara ekonomi dan memiliki uang tambahan. Selain itu banyak manfaat yang diperoleh dari teh daun kelor ini.

“Teh daun kelor memiliki kandungan protein 2x lebih banyak dari pada kedelai, 6x lebih banyak dari vitamin C pada jeruk, 4x lebih banyak dari kalsium pada susu, dan masih banyak lagi kandungannya,” terangnya.

Teh daun kelor produksi KWT Sayuri ini pernah dikunjungi Wakil Wali Kota Semarang Hevearita G Rahayu dan Ketua Tim Penggerak PKK Kota Semarang Kriseptiana Hendrar Prihadi. Uli menambahkan saat pandemi produksi tehnya mengalami penurunan drastis.

“Selama ini kami hanya memproduksi teh saat ada pesanan. Tujuannya untuk menjaga kesegaran dan kandungan gizi. Saat pandemi Covid-19, produksi menurun drastis. Agar dapur tetap mengebul, ibu-ibu disini beralih ke usaha lain,” jelasnya.

Jumlah anggota KWT Sayuri yang bertahan sampai saat ini ada 10 orang. Ke depan, Uli dan ibu-ibu di Kampung Jrobang akan terus mengembangkan produk teh daun kelor ini agar lebih maju.

“Saya berharap apa yang dilakukan KWT Sayuri bisa menjadi contoh pengembangan ekonomi warga di Kota Semarang. Kami sendiri akan membuat inovasi baru seperti kue brownis dan makanan lain yang berbahan daun kelor,” pungkasnya. (kap/ida) Editor : Agus AP
#Daun Kelor #Sayuri #protein #zat besi #vitamin e #vitamin A #kalsium #potasium #vitamin c