Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Cakupan Jawa Pos Lebih Luas, Bahasanya Mudah Dimengerti

Agus AP • Jumat, 1 April 2022 | 14:02 WIB
Setiap hari, Prof YS Darmanto setia membaca koran Jawa Pos Radar Semarang.(M RIDWAN TRI ANGGORO / Jawa Pos Radar Semarang)
Setiap hari, Prof YS Darmanto setia membaca koran Jawa Pos Radar Semarang.(M RIDWAN TRI ANGGORO / Jawa Pos Radar Semarang)
RADARSEMARANG.ID - Prof Dr Ir YS Darmanto MSc sudah menjadi pelanggan setia Jawa Pos kurang lebih 25 tahun. Setiap pagi, mantan wakil dekan II Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPIK) dan pengurus Rumah Susun Mahasiswa Universitas Diponegoro (Rusunawa Undip) Semarang ini membaca koran Jawa Pos Radar Semarang yang hari ini berulang tahun ke-22.

Pagi itu, Prof Dr Ir YS Darmanto MSc duduk santai di sofa ruang tamu rumahnya. Ia mengenakan setelan baju olahraga warna hijau. Rupanya, pagi itu ia habis berolahraga jalan pagi berkeliling kompleks perumahannya. Setelah berolahraga, pria 71 tahun ini menyempatkan waktu untuk membaca koran. Dan, satu-satunya koran yang menjadi bacaan setianya setiap pagi adalah Jawa Pos Radar Semarang. Bagi Prof Darmanto, membaca koran ibarat sarapan paginya.

"Biasanya setelah olahraga, jalan kaki muter kompleks sini. Saya duduk di sini sambil baca koran atau kadang sambil merawat tanaman hias," kata dosen Undip ini saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di rumahnya Jalan Tembalang Baru I No 25 Tembalang, Kota Semarang.

Di ruang tamu itu, terdapat tumpukan koran Jawa Pos Radar Semarang yang tersusun rapi. Prof Darmanto mengaku berlangganan koran Jawa Pos sejak 1997. Saat itu, ia baru pulang dari kuliah S3 di Jepang. “Setelah pulang dari Jepang, saya mulai berlangganan Jawa Pos. Saat itu, belum ada Radar Semarang. Biaya berlangganan Jawa Pos saat itu Rp 40.000 per bulan,” cerita Darmanto

Ia biasanya menyediakan waktu sekitar satu hingga dua jam untuk membaca koran sehabis berolahraga. Hal itu ia lakukan untuk dapat mengikuti perkembangan isu yang terjadi akhir-akhir ini.

Mengapa memilih Jawa Pos Radar Semarang? Prof Darmanto mengatakan, Jawa Pos Radar Semarang memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan koran lokal di Semarang kala itu. Selain itu, bahasa koran Jawa Pos Radar Semarang lebih mudah diterima. Sehingga memudahkan baginya untuk memahami isi dari berita yang disajikan.

"Cakupannya luas ya, Mas. Meliputi, Jawa Tengah dan Jawa Timur, juga ada isu nasional maupun internasional yang masuk. Terus bahasanya juga mudah dimengerti, jadi gampang mencerna informasi," ujar pria yang hobi bulu tangkis ini.

Prof Darmanto mengakui, sebelumnya tak hanya berlangganan koran Jawa Pos Radar Semarang saja. Tetapi juga beberapa koran lain. Namun karena beberapa pertimbangan seperti biaya berlangganan yang semakin mahal dan isi sajian berita yang mirip, membuatnya memutuskan untuk berhenti berlangganan koran yang lain, dan tetap setia pada Jawa Pos Radar Semarang.  "Karena biaya langganan koran sekarang bisa sampai Rp 175.000, Mas. Jadi, pilih satu saja," katanya.

Diakuinya, ia lebih memilih koran fisik daripada media online, karena ia merupakan generasi tua. Selain itu, ia lebih suka media dengan bentuk hard copy, karena bisa lebih fokus membaca sajian informasi yang diberikan. Tapi, ia tak menutup diri dengan adanya informasi dari media online, karena pada dasarnya prinsip keduanya sama.

"Jujur saja, saya kan sudah tidak muda lagi. Kadang kalau baca atau nonton di handphone (HP) itu sering tidak fokus. Kalau koran gini kan karena sudah terbiasa. Layaknya mengoreksi skripsi, thesis maupun disertasi. Jadi, lebih mudah bagi saya untuk memahami,"jelasnya sambil tersenyum.

Ditanya rubrik yang paling diminati? Prof Darmanto mengaku paling suka tentang pendidikan. Karena hal tersebut masih berkaitan dengan pekerjaannya saat ini. Sayangnya, rubrik pendidikan cukup minim dimuat, khususnya pendidikan di lingkup perguruan tinggi. Karena itu, pria kelahiran Klaten, 17 Oktober 1951 ini berharap ditambah rubrik pendidikan yang berfokus pada penelitian-penelitian terbaru yang dilakukan oleh perguruan tinggi di Semarang. Sehingga cakupannya akan lebih luas dan berimbang.

“Kalau memungkinkan rubrik pendidikan khususnya perguruan tinggi itu bisa ditambah lagi. Apalagi mengangkat penelitian terbaru. Siapa tahu penelitiannya itu bisa berkolaborasi dengan pengusaha atau perusahaan yang nantinya menciptakan penemuan-penemuan baru,” harapnya. (cr6/aro) Editor : Agus AP
#top #Rusunawa Undip #FPIK #Prof Dr Ir YS Darmanto MSc