Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Dulu Selokan Kotor, Kini Penuh Ikan dan Ramai Wisatawan

Agus AP • Senin, 15 Maret 2021 | 17:35 WIB
PEDULI SOSIAL: Istri Bupati Wonosobo Fairuz Eko Purnomo saat melihat pasar gratis warga Kampung Jaraksari, Wonosobo. (ISTIMEWA)
PEDULI SOSIAL: Istri Bupati Wonosobo Fairuz Eko Purnomo saat melihat pasar gratis warga Kampung Jaraksari, Wonosobo. (ISTIMEWA)
RADARSEMARANG.ID - Selokan yang mengalir di Dusun Ngrajek 1, Desa Ngrajek, Mungkid, Magelang mulanya penuh sampah. Namun oleh warga sekitar lantas disulap menjadi objek wisata. Mereka menamainya Lepen Shumong.

Cuaca Kabupaten Magelang begitu cerah pada Minggu (14/3/2021) pagi. Objek wisata Lepen Shumong tampak ramai ketika Jawa Pos Radar Semarang datang sekitar pukul 09.00. Orang berlalu lalang di sepanjang jalan yang diapit persawahan. Ada yang berjalan kaki. Ada yang naik sepeda.

Pasar pagi masih berlangsung saat itu. Para pedagang berjajar rapi di tepi jalan selebar kurang lebih 2 meter. Mereka beratap kain panjang berwarna biru yang dikaitkan pada kerangka bambu sederhana. Jumlahnya 34 dengan aneka dagangan kuliner yang berbeda. Mulai dari sempol ayam, bubur kacang ijo, es dawet, hingga es cappucino cincau.

Semua pedagang merupakan warga Dusun Ngrajek 1. Setidaknya sudah empat bulan mereka menggelar lapak saban Minggu pagi. Mulai pukul 05.30 hingga 10.00.

Di seberang pedagang, ada tujuh gazebo bambu. Semua penuh oleh pengunjung. Mereka tampak menikmati jajanan yang baru saja diburu.

Menurut ketua objek wisata Lepen Shumong, Rohmad Abadi, Lepen Shumong lahir dari keprihatinan para pemuda setempat terhadap kondisi selokan. Banyak orang membuang sampah sembarangan di sana. Tak jarang, aliran air ke sawah tak lancer, dan bikin petani mengeluh.

Para pemuda Dusun Ngrajek 1 lantas bergerak. Mencari cara agar warga tak lagi membuang sampah sembarangan. Mulanya selokan dikeruk dan dibersihkan. Selanjutnya disekat dan diisi ratusan ikan nila. Tembok di sisi selokan juga dibikin mural ikan.

Objek wisata Lepen Shumong di Dusun Ngrajek 1, Desa Ngrajek, Mungkid, Magelang yang ramai dikunjungi warga.(RIRI RAHAYUNINGSIH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Objek wisata Lepen Shumong di Dusun Ngrajek 1, Desa Ngrajek, Mungkid, Magelang yang ramai dikunjungi warga.(RIRI RAHAYUNINGSIH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Objek wisata Lepen Shumong di Dusun Ngrajek 1, Desa Ngrajek, Mungkid, Magelang yang ramai dikunjungi warga. (RIRI RAHAYUNINGSIH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Berkat upaya itu, warga tak lagi membuang sampah ke selokan. Mereka diberi tempat sampah. Para pemuda Dusun Ngrajek yang bertugas membuangnya ke tempat pembuangan akhir (TPA) Pasuruhan.

“Dulu sampai ada sampah bantal dan kasur. Sekarang ya cuma sampah daun yang jatuh dari pohon,” ujar Rohmad kepada Jawa Pos Radar Semarang sembari mengambil dedaunan dari selokan.

Membawa misi perawatan lingkungan, mulanya Lepen Shumong tidak direncanakan untuk wisata. Namun melihat ada prospek, Lepen Shumong lantas dibuka untuk umum. Perekonomian warga lantas didongkrak melalui kegiatan pasar pagi saban hari Minggu. Dari hasil penjualan, pihak pengelola pun hanya meminta kompensasi seikhlasnya dari pedagang.

Wisata Lepen Shumong terbilang murah meriah. Pengunjung dipersilakan membayar parkir seikhlasnya. Sementara untuk mengeksplor ikan di selokan, pengunjung ditawari pelet ikan. Hargaya Rp 2000 untuk satu gelas plastik 250 ml.

Wartawan koran ini membeli satu gelas pelet dari rak. Menerbarnya ke selokan. Namun ikan-ikan tak mau makan. Kata Rohmad, ikan-ikan sudah kenyang karena sejak pagi sudah banyak pengunjung memberi makan.

“Kalau Minggu, di sini ramainya sekitar jam 08.00, Mbak,” ujarnya.

Pengunjung Lepen Shumong belum terlalu luas. Paling banter dari warga desa tetangga. Selain masih baru, kata Rohmad, promosi di media sosial belum terlalu digencarkan. Mengingat situasi masih pandemi Covid-19.

Meski konsepnya sederhana dan seikhlasnya, dalam sebulan Lepen Shumong bisa mengantongi pendapatan sebesar Rp 4 juta. Pengelola memanfaatkannya untuk pengembangan. Teranyar, mereka membuat gazebo bambu.

Kata Rohmad, masih banyak rencana pengembangan wisata yang digagas pengelola. Salah satunya pembangunan spot selfie. Namun, dananya masih terbatas. Mereka pun berharap ada perhatian pemerintah.

Hal serupa disampaikan Ana, salah satu pedagang. Baginya, wisata Lepen Shumong cukup menjanjikan. Dia sudah merasakan dampak ekonominya. Untuk itu, dia berharap ada pengembangan agar Lepen Shumong semakin tertata.

“Semoga bisa dikembangkan lagi biar pedagang nggak kepanasan,” katanya sembari tertawa ringan. (rhy/aro) Editor : Agus AP
#Budidaya #WISATA