BUDIDAYA maggot itu dilakukan di sepetak ruang dengan jaring-jaring hijau di sebelah kiri jalan turunan TPA Jatibarang. Di tempat ini, ada 16 kotak berbahan besi bekas berukuran satu kali setengah meter. Kotak tersebut dipakai untuk tempat pembesaran maggot. Namanya biopond. Di setiap biopond terdampat sedikitnya 20 kg belatung maggot.
Setiap hari, Setyo Budi, pekerja pemelihara maggot, memberikan makan racikan sampah di setiap biopond. Makanannya bervariasi. Siang itu, Black Soldier Fly (BSF) alias maggot itu diberi makan sampah tempe busuk dari sisa industri makanan. “Makanannya sampah organik apa saja, yang penting bukan plastik,” kata Setyo Budi kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Kasubag Tata Usaha UPT TPA Jatibarang Joko menjelaskan, budidaya maggot yang dimulai sejak April 2020 itu diharapkan bisa mengurangi sampah organik di TPA Jatibarang. Bila berhasil populer, dan banyak warga yang mengikuti budidaya maggot ini meski dalam skala kecil, maka sampah rumah tangga akan terurai. “Otomatis sampah organik yang diangkut ke TPA akan ikut berkurang,” ujarnya.
Tak hanya itu, lanjut Joko, belatung maggot ini dapat digunakan untuk pakan ikan dan ternak unggas. Kandungan proteinnya lebih tinggi. “Dengan makan maggot, ikan dan unggas berkembang lebih baik dan cepat. Harganya pun relatif murah dibandingkan pur atau pelet,” paparnya.
Dikatakan, menjadikan sampah organik sebagai kompos memang solusi. Namun untuk menjadi pupuk kompos memakan banyak waktu. Setidaknya satu atau dua bulan. Sedangkan maggot atau tentara hitam ini dapat menghabiskan sampah organik dalam waktu yang lebih singkat.
Dijelaskan, setiap satu kilo maggot dapat memakan satu kilo sampah. Semakin banyak jumlah pasukan tentara hitam yang dikerahkan, maka semakin cepat sampah dilahap habis. “Budidaya maggot ini juga untuk edukasi khusus warga Semarang,” tambah Joko.
Menurut Joko, sebanyak 120 pengelola bank sampah di Semarang pernah diajak ke insectarium, ruang berjaring hijau tempat budidaya maggot milik Pemerintah Kota Semarang. Dengan pilot project atau proyek percontohan yang dimiliki, Joko dan pegawai DLH setempat mengedukasi seluruh pengelola bank sampah. Mulai dari pengenalan, kegunaan, hingga proses budidaya secara detail. “Lalat BSF ini bagai emas terpendam yang didesain oleh Tuhan,” ucap Joko.
Dijelaskan, siklus hidup maggot yang tak menyisakan limbah sama sekali memang tergolong unik. Dari tahap menetas hingga berubah berkulit hitam hanya butuh waktu 21 hari. Perlu sekitar tiga hari untuk bibit telur menetas menjadi bayi maggot. Lalu pada usia lima hari, maggot sudah dapat melahap sampah sisa makanan atau sampah organik.
Pada hari ke-21, lanjut dia, maggot berubah hitam, dan berhenti memakan sampah. Ia akan menyendiri di pojokkan biopond, lalu mengasingkan diri dan loncat ke pinggiran kotak, dan masuk ke baskom yang disiapkan di bawahnya.
Semua maggot tua pun berkumpul. Mereka semua diam tak bergerak. Lalu seminggu kemudian melepas kulit hitamnya atau molting, dan menjadi pre pupa. Setelah pre pupa menjadi pupa, maka selanjutnya berevolusi sebagai lalat. Setelah kawin dengan betina, lalat memasuki siklus hidup terakhir, dan mati. Sama halnya lalat betina, setelah bertelur ia pun menyusul pejantan.
Kotoran dan kulit hitam yang ditinggalkan oleh BSF yang disebut bekas maggot (kasgot) dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Sedangkan bangkai lalat yang mati dapat dijadikan pakan ikan atau lele. Ia sama sekali tidak meninggalkan jejak sampah dalam siklus hidupnya. Saat hidup, lalatnya juga tidak berbahaya seperti lalat hijau. Itulah mengapa Joko menyebutnya emas ciptaan Tuhan.
“Maggot laku dijual sebagai pakai ikan dan ternak. Yang besar per kg mencapai Rp 70 ribu. Kalau bayi maggot Rp 7 ribu per kg,” katanya.
Sebagai pemelihara maggot di ruang insectarium tersebut, Setyo tak merasa kesulitan. Ia juga tak terlihat jijik mengurus juataan tentara hitam dalam 16 biopond yang tertata rapi bagai rak bertingkat. “Bedanya sama belatung lain, ini nggak terlalu menjijikkan sih, nggak mengeluarkan bau dan kering,” tandasnya.
Marti, warga Mijen, sengaja mendatangi tempat itu untuk belajar budidaya maggot. Ia mengaku mendapat informasi dari penyuluh Dinas Perikanan Kota Semarang. “Saya ada ternak lele, dan membuat mengolah sampah rumah tangga juga,” ucapnya.
Kepada Marti, Joko menjelaskan, untuk membudidayakan maggot, perlu mempersiapakan kandang lalat untuk media kawin. Juga biopond untuk memisahkan maggot sesuai usianya, serta kayu atau egis untuk media bertelur lalat betina.
“Juga harus disiapkan atractan berisi buah untuk menarik betina agar bertelur di kayu yang disediakan. Rak dan baskom untuk penetasan telur. Dan terakhir almari puparium untuk memisahkan pupa dari sinar matahari sebelum menjadi lalat,” bebernya. (cr1/aro) Editor : Agus AP